Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 05 November 2016

TAJUK RENCANA: Babak Akhir Drama Politik AS (Kompas)

Babak akhir pemilihan umum Amerika Serikat hampir tuntas. Beberapa hari lagi negeri adidaya ini akan memiliki presiden baru.

AS pun akan memasuki era yang penuh tantangan. Di kancah internasional, perang masih bergejolak di sejumlah kawasan, terorisme masih mengancam, dan yang lebih memprihatinkan, jutaan orang terusir dari negaranya dan menimbulkan gelombang pengungsi terbesar dalam sejarah sejak Perang Dunia II.

Tantangan inilah yang antara lain akan dihadapi presiden baru AS, di luar persoalan dalam negeri yang tak kalah panas, seperti kebangkitan xenofobia, prasangka rasial terhadap kelompok kulit hitam AS, dan meningkatnya kekerasan.

Mendekati pemilu 8 November 2016, belum jelas apakah Hillary Clinton atau Donald Trump yang akan menjadi presiden karena berbagai jajak pendapat menunjukkan keduanya masih bersaing ketat. Sejumlah media arus utama AS secara terbuka mengajak pembacanya memilih Hillary karena, meskipun memiliki banyak kekurangan, ia dianggap lebih memiliki kapabilitas dibandingkan dengan Trump.

Namun, drama yang muncul pada pekan terakhir, di mana Biro Investigasi Federal AS (FBI) menemukan bukti terbaru terkait penggunaan server surat elektronik (surel) pribadi di saat Hillary masih menjabat menteri luar negeri, telah menggerus rasa percaya pemilih yang belum bersikap (swing voters) yang sebelumnya sempat mempertimbangkan memilih Hillary.

Seperti diketahui, pendukung kubu Demokrat ataupun pendukung Republik diperkirakan tidak akan mengubah pilihannya. Yang masih menjadi rebutan adalah suara massa mengambang yang jumlahnya sekitar 14 persen. Berdasarkan pantauan terakhir, Hillary hanya unggul 2-3 poin secara nasional.

Jika pada hasil pemilu nanti selisih suara kedua kandidat berbeda tipis, ada kemungkinan terjadi penyangkalan dan gugatan keabsahan pemilu, khususnya jika yang menang adalah Hillary. Trump sebelumnya berulang kali menyatakan telah terjadi kecurangan pemilu dan ia belum tentu mau menerima hasil pemilu.

Hillary mengantisipasi ini dengan mencoba menjaga momentum kemenangan yang diperolehnya setelah debat terakhir. Saat itu dia unggul sampai dua digit atas Trump. Apa daya, bocoran Wikileaks terus mengganggu strateginya, dan pukulan terakhir adalah pernyataan FBI itu.

Masih sulit membayangkan apa yang bakal terjadi jika Trump yang menang. Namun, seperti juga keterkejutan dunia ketika rakyat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, pilihan itu sepenuhnya menjadi cerminan kehendak rakyat yang harus dihormati. Semoga, tak berakhir dengan keputusan yang kemudian disesali.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 November 2016, di halaman 6 dengan judul "Babak Akhir Drama Politik AS".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger