Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 29 November 2016

TAJUK RENCANA: Fillon, Calon Kuat untuk Perancis (Kompas)

Francois Fillon (62) menjadi kandidat resmi Partai Republik setelah mengalahkan Wali Kota Bordeaux Alain Juppe (71) dalam pemilihan awal.

Fillon mengalahkan Juppe dengan perbedaan suara telak 67 persen berbanding 33 persen. Fillon akan maju pada pemilu nasional Mei 2017 dan akan menghadapi calon dari partai lainnya.

Kandidat dari Republik ini diprediksi bukan saja akan maju sampai ke putaran akhir pemilu, bahkan juga berpeluang besar menjadi presiden Perancis. Alasannya, saat ini Perancis berada dalam atmosfer "kanan" akibat banjir imigran yang melanda Eropa sejak 2014 dan serangkaian serangan teror yang dilakukan individu yang memiliki kaitan dengan NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah).

Intinya, fenomena anti imigran, anti Muslim, anti globalisasi, anti Uni Eropa, sedang menguat. Partai ekstrem kanan Perancis, Front Nasional, yang satu-dua dekade lalu ramai-ramai dibendung oleh warga Perancis, kini popularitasnya melejit. Marine Le Pen, kandidat dari Front Nasional, diperkirakan juga akan masuk ke putaran final dan bertemu dengan Fillon.

Fillon yang dikenal dengan kebijakan ekonomi pragmatis pro pengusaha mengampanyekan nilai kanan yang memenuhi harapan warga Perancis meski tak seekstrem Le Pen. Ia akan menekan jumlah migran ke Perancis sampai titik paling minimal, akan melawan radikalisme, memaksa siapa pun warga pendatang untuk tunduk pada "nilai-nilai Perancis", termasuk melarang burkini.

Satu hal yang akan menjadi "duri" dalam relasi Perancis dengan Uni Eropa adalah soal Rusia. Seperti juga presiden AS terpilih Donald Trump, Fillon punya pandangan positif terkait Vladimir Putin. Bagi Fillon, Rusia bukan ancaman bagi Eropa. Ia menentang sanksi yang diterapkan Uni Eropa kepada Rusia, juga menentang kecaman terhadap kebijakan Rusia yang pro Presiden Assad di Suriah.

Dengan kata lain, seandainya Kanselir Jerman Angela Merkel ataupun Fillon terpilih tahun depan, hubungan Perancis-Jerman di Uni Eropa tak akan seakrab saat ini. Merkel adalah pendukung utama sanksi untuk Rusia setelah aneksasi Semenanjung Crimea. Ini akan menyu- litkan Uni Eropa yang butuh kekompakan pasca Brexit.

Sementara Partai Sosialis di bawah kepemimpinan Presiden Francois Hollande baru akan mengumumkan calonnya pada Januari 2017. Popularitas Hollande saat ini berada di titik nadir, dengan pencapaian hanya sekitar 5 persen. Salah satu calon kuat dari partai ini adalah PM Manuel Valls. Yang pasti, kubu Sosialis sudah mengambil ancang-ancang dengan menyerukan bahwa kebijakan Fillon telah merampas hak-hak kesejahteraan rakyat, termasuk tunjangan pensiun dan hak buruh.

Kita tunggu kepada siapa warga Perancis memercayakan mandatnya, Mei 2017 mendatang.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 November 2016, di halaman 6 dengan judul "Fillon, Calon Kuat untuk Perancis".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger