Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 31 Januari 2017

TAJUK RENCANA: Memasuki Era Trump-Putin (Kompas)

Era baru hubungan AS-Rusia dimulai dengan percakapan telepon antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Semua pihak mencermati apakah persoalan sanksi terhadap Rusia dibicarakan dalam obrolan kedua kepala negara ini. Menurut Gedung Putih, soal sanksi tak dibicarakan. Yang diobrolkan hanya soal bagaimana memperkuat kerja sama melawan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) serta menyelesaikan krisis Suriah.

Namun, Kremlin menyatakan hal berbeda. Menurut mereka, kedua kepala negara membicarakan upaya restorasi ekonomi dan perdagangan yang menguntungkan kedua negara. Pernyataan ini menyiratkan bahwa soal sanksi telah disinggung keduanya karena mempererat kerja sama perdagangan tak mungkin dilakukan tanpa pencabutan sanksi.

Apa yang akan terjadi jika sanksi AS terhadap Rusia dicabut? Tentu kita ingat bahwa sanksi dijatuhkan terhadap Rusia karena negara ini mencaplok Crimea melalui kekuatan militer dan menyatakan Crimea sebagai bagian dari Rusia. Rusia juga mendukung perlawanan bersenjata di Ukraina bagian timur. Sanksi tidak hanya dijatuhkan oleh AS, tetapi juga oleh Uni Eropa yang menempatkan Rusia sebagai ancaman nyata bagi keamanan di kawasan.

Jika AS mencabut sanksi, hubungan AS-Uni Eropa diperkirakan akan memburuk, dan ini akan membuat Rusia gembira. Konsekuensi berikutnya, apakah AS akan mengakui pencaplokan Crimea sebagai sesuatu yang legal? Pengakuan ini akan berdampak besar bagi stabilitas keamanan dunia.

Upaya normalisasi hubungan Rusia-AS juga akan berdampak pada sejumlah persoalan yang melibatkan "unsur" Rusia. Misalnya penyelesaian damai di Suriah. AS dan Rusia berada di dua kubu yang berbeda. Militer Rusia (dan Iran) mendukung pasukan pemerintahan Bashar al-Assad, sementara AS mendukung pasukan pemberontak anti Assad. Yang bisa "mempertemukan" keduanya saat ini adalah menempatkan NIIS sebagai musuh bersama.

Namun, mendengar Trump berbicara soal damai di Suriah seperti jauh panggang dari api. Bukankah penyelesaian damai di Suriah membutuhkan penyelesaian menyeluruh termasuk nasib jutaan pengungsinya?

Perintah eksekutif Trump yang melarang semua warga negara dari tujuh negara Muslim masuk ke AS, termasuk melarang masuk pengungsi asal Suriah yang telah memiliki izin, menunjukkan Trump tidak menyadari krisis yang sedang dihadapinya saat ini dan berapa besar bahaya yang akan muncul akibat langkah diskriminatifnya ini.

Hanya dalam sepekan setelah menduduki jabatan presiden, Trump membuat rangkaian keputusan yang kontroversial. Dunia memang harus bersiap mengantisipasi langkah Trump.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul "Memasuki Era Trump-Putin".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger