
Ganja yang disita oleh polisi dari perusahaan jasa pengiriman logistik Indah Kargo, Jumat (22/12/2017).
Sudah puluhan tahun arus deras ganja dari hulu ke hilir, dari Aceh sampai Jakarta, berlangsung. Sudah puluhan tahun pula polisi mengetahui pola pengiriman ganja dari Aceh ke seantero Pulau Jawa. Anehnya, sejumlah kasus besar distribusi ganja di "jalur sutra" ini justru lebih banyak terungkap di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, oleh polisi dan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bermarkas di Jakarta.
Padahal, sekurangnya ada enam polda yang memiliki sebagian wilayah jalur ini, yaitu Polda Aceh, Polda Sumatera Utara, Polda Riau, Polda Jambi, Polda Sumatera Selatan, dan Polda Lampung. Dengan panjang jalan lintas Sumatera sejauh 2.096,6 kilometer ini, idealnya, bukan hal sulit bagi keenam polda untuk membendung, menekan distribusi ganja, sampai pada titik minimal.
Polanya sudah jelas: pengangkutan ganja selalu lewat jalur darat lintas Sumatera. Tujuannya pun nyaris cuma satu-satunya, yakni Pulau Jawa. Para pemodal, bandar, dan distributor besar tak berniat memilih jalur laut, apalagi udara. Sebab, tingkat kerepotan dan biayanya terlalu tinggi. Mereka juga tidak mau membangun pasar di luar Pulau Jawa, sebab selain peminatnya sedikit, ganja kurang populer.
Berbeda dengan sabu. Menumpas jaringan narkoba jenis ini jauh lebih sulit. Pendistribusian sabu bisa lewat udara, laut, dan darat. Sabu bisa diproduksi di dalam negeri, diimpor, atau kombinasi dari keduanya. Artinya, bahan prekusor dan bahan lain pembuat sabu serta perangkat laboratorium diimpor, tetapi diproduksi di dalam negeri. Selain ringan, keuntungan menjual sabu jauh lebih besar dibandingkan menjual ganja. Cara membuatnya pun menjadi mudah karena sudah menyebar di media daring.
Menyinggung soal jaringan "pemain" ganja, kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, bahkan lebih detail mengatakan, "Pengiriman ganja reguler dari Aceh ke Jakarta umumnya berlangsung dua kali seminggu dengan berat paket ganja minimal 500 kilogram." Ganja disembunyikan di antara bermacam tumpukan buah, arang, barang plastik, atau barang remeh lainnya.
Pengiriman ganja reguler dari Aceh ke Jakarta umumnya berlangsung dua kali seminggu dengan berat paket ganja minimal 500 kilogram
"Pengiriman dalam partai besar biasanya berlangsung setahun sekali, yaitu beberapa hari menjelang dan sesudah Tahun Baru," ujar Kisnu. Mengapa selalu dibawa beberapa hari menjelang dan sesudah Tahun Baru? Sebab, di waktu itu, polisi lebih disibukkan mengamankan pesta rakyat bernama Tahun Baru.
Dengan pola lama seperti disampaikan Kisnu, jaringan pengedar besar ganja, Iwan dan Rizky dalam kasus 1,3 ton ganja, mampu bertahan hingga lima tahun. Selama masa itu, anggota jaringan ini pun berdiaspora, membangun jaringan baru.
Pengungkapan kasus 1,3 ton sabu di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, 31 Desember 2017 pukul 22.30, oleh Polres Metro Jakarta Barat, pantas menjadi swakritik bagi para petinggi di keenam polda di "jalur sutra" dan bukan hanya sekadar membangkitkan kembali kesadaran publik tentang peredaran narkoba yang belum juga surut di Tanah Air.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar