Keraguan sempat muncul di kalangan pelaku usaha mengenai iklim sosial-politik tahun 2018. Hal ini mengingat pada Juni mendatang akan diselenggarakan serentak 171 pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia.

Tak kurang dari Presiden Joko Widodo perlu beberapa kali menegaskan, suasana sosial-politik Indonesia akan aman walaupun ada perhelatan demokrasi besar. Dalam acara Forum CEO Kompas 100 pada November tahun lalu di Jakarta, Presiden menegaskan agar pengusaha tidak terpengaruh dan tidak terseret perpolitikan hanya karena akan ada pilkada serentak.

Keraguan para pengusaha bukan berasal dari ruang hampa. Setelah krisis keuangan yang berlanjut pada krisis ekonomi dan pergantian kepemimpinan nasional pada 1998, dunia perpolitikan dalam negeri kerap gaduh. Suasana terasa menghangat dalam Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017. Nyatanya kita berhasil melalui ujian tersebut. Tidak terjadi kekerasan fisik pada dua peristiwa demokrasi tersebut meskipun kita juga melihat berita bohong, termasuk adu domba, bertebaran nyaris tanpa kontrol.

Pilpres dan pilkada lalu yang nyaris tanpa bentrok fisik tersebut memperlihatkan masyarakat kita telah lebih dewasa. Ini adalah modal sosial yang harus terus dipelihara pemerintah, aparat keamanan, dan kita semua.

Dari sisi ekonomi, hampir semua indikator makro menunjukkan keadaan membaik, kecuali pertumbuhan ekonomi yang masih tertahan di kisaran 5 persen.

Pimpinan usaha, seperti diberitakan harian ini kemarin, menunjukkan optimisme ekonomi 2018 akan lebih baik. Selain faktor stabilitas politik, mereka juga mengharapkan jaminan kepastian berusaha. Ini mengisyaratkan antara pemerintah dan pelaku usaha harus terbangun rasa saling percaya.

Meskipun indeks memulai usaha di Indonesia membaik, salah satu indikator yang masih tertinggal adalah kepatuhan pada kontrak bisnis. Ini dapat disebabkan peraturan pemerintah yang mudah berubah dan koordinasi yang belum baik di antara lembaga pemerintah di pusat dan di daerah.

Pada dasarnya kita membutuhkan investasi swasta untuk mendorong pertumbuhan. Kita memiliki pengusaha berskala besar, tetapi kita membutuhkan lebih banyak lagi wiraswasta baru. Menjadi tugas pemerintah melahirkan mereka dan membesarkan wirausaha muda yang sedang tumbuh.

Era digital melahirkan pengusaha baru Indonesia yang nilai usahanya jutaan dollar, tetapi kita juga membutuhkan sektor riil, manufaktur, dan UKM untuk tumbuh demi menyerap tenaga kerja yang separuhnya berpendidikan SD ke bawah.