Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 25 Agustus 2018

Asian Games dan Kita//Harga Kelapa Sawit (Surat Pemaca Kompas)


Asian Games dan Kita

Jakarta pada 1950-an mulai bertumbuh menjadi kota modern meski masih dipimpin seorang wali kota. Saat itu, jika datang dari Menteng melewati Dukuh Atas menuju kota satelit Kebayoran Baru, kita harus melewati Setiabudi dan Karet. Di sini ada jalan setapak menuju Senayan dan melaju lewat CSW sekarang. Jalan setapak itu kemudian menjadi jalan raya dan dinamakan Jalan Jenderal Sudirman.

Ketika berlangsung Asian Games IV di Jakarta, Agustus 1962, negara baru 17 tahun merdeka dan masih terus membangun. Namun, Indonesia mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan pesta olah raga se-Asia itu.

Menurut Kompas edisi 12 Agustus 2018, sejak Asian Games I di New Delhi, India, Indonesia sebenarnya sudah menyiapkan diri menjadi tuan rumah. Pada sidang Asian Games Federation di Tokyo (28/5/1958), Indonesia mendapat suara tertinggi, 22 suara, mengalahkan Pakistan.

Pada 8 Februari 1960, Presiden Soekarno memancangkan tiang pertama Stadion Utama Senayan. Juga dibangun aneka sarana dan prasarana, seperti Wisma Atlet dan Gedung Istora yang kini bernama Gelora Bung Karno.

Untuk menampung awak media dalam dan luar negeri, dibangun hotel kecil berlantai empat bernama Press House di sebelah kiri Hotel Indonesia (HI) dan diresmikan Presiden Soekarno pada 5 Agustus 1962, tiga minggu sebelum Asian Games IV berlangsung. Untuk menyambut tamu Asian Games IV, 24 Agustus-2 September 1962, juga dibangun Tugu Selamat Datang di depan HI.

Kini, setelah 56 tahun, Indonesia kembali menjadi tuan rumah Asian Games XVIII di Jakarta dan Palembang. Dengan pembangunan infrastruktur yang pesat empat tahun terakhir, kita bangga menyambut tamu dunia.

Arifin Pasaribu
Jalan PTHII Raya, Kelapa Gading Timur,
Jakarta Utara

Harga Kelapa Sawit

Kami petani sawit mandiri di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mengeluhkan penentuan pembelian harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per kilogram di Kecamatan Babulu oleh pabrik pengolahan TBS Sawit.

Pemerintah cq Dinas Perkebunan Kalimantan Timur sudah membuat pedoman daftar harga yang harus dipatuhi setiap pabrik, tetapi harga tersebut tak pernah dipatuhi pihak pabrik. Mereka membeli dengan harga jauh di bawah harga yang ditentukan pemerintah.

Pemerintah menentukan Juni 2018: harga terendah Rp 1.364 per kg dan harga tertinggi Rp 1.568 per kg. Pabrik hanya mematok rata-rata Rp 900 per kg. Keluhan ini pernah saya sampaikan kepada media lokal dan Disbun Kaltim, tetapi hingga detik ini harga TBS tetap jauh di bawah harga pemerintah.

Demikian keluhan kami.

Yudiman Y Sitanggang
Jalan Senayan, Kelurahan Karang Rejo,
Balikpapan

Pungutan Parkir

Saya pengunjung rutin Perpustakaan Nasional, Jakarta. Tidak ada tanda atau tulisan apa pun yang mengatakan bahwa parkir di sana ada biayanya.

Selama lebih dari satu bulan (akhir Juni-awal Agustus 2018) saya mengalami dua percobaan pungutan parkir di wilayah parkir motor. Pada percobaan pungutan pertama, saya menolak membayar setelah diberi kode "Seikhlasnya saja, Mas".

Pada percobaan kedua, saya "menurut". Para oknum tersebut tentunya tidak satu atau dua kali meminta bayaran "seikhlasnya", tampak dari banyaknya uang yang digenggam.

Poin saya adalah Perpustakaan Nasional adalah salah satu instrumen negara untuk mencerdaskan bangsanya. Namun, alangkah memprihatinkan kalau di dalamnya terjadi pembiaran pelemahan mental melalui "pemalakan".

Kalau memang dipungut biaya parkir, setidaknya berikan tiket atau semacamnya sebagai tanda bahwa pengunjung akan dikenai biaya jika setuju menitipkan sepeda motornya. Itu lebih baik daripada terus-menerus melemahkan diri melalui uang "seikhlasnya".

Andi Muhammad
Delta Pekayon Jaya, Bekasi Selatan,

Bekasi, Jawa Barat

Kompas, 25 Agustus 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger