AP PHOTO/RAJESH KUMAR SINGH

Satu keluarga India menonton televisi yang tengah menayangkan Perdana Menteri Narendra Modi yang berpidato dari Prayagraj, Negara Bagian Uttar Pradesh, India, Rabu (27/3/2019). Modi mengatakan, India berhasil menguji coba rudal antisatelit. Kemampuan itu telah menempatkan India sejajar dengan kekuatan antariksa dunia, yakni Amerika Serikat, Rusia, dan China.

Pencapaian teknologi antariksa India amat mengesankan. Capaian terakhirnya, meluncurkan rudal untuk menghancurkan satelit yang mengorbit di ketinggian 300 km.

Dengan pencapaian itu, India menjadi negara keempat setelah AS, Rusia, dan China yang memiliki kemampuan menghancurkan satelit di orbit. Seberapa penting kemampuan ini secara militer modern? Kita tahu, intelijen dan komunikasi militer dewasa ini amat tergantung pada satelit. Dengan satelit mata-mata canggih, misalnya satelit Kh-11, sejak tahun 1980-an AS sudah bisa melihat nomor pelat kendaraan yang berjalan di permukaan Bumi. Satelit dengan daya resolusi tinggi ini tentu besar gunanya untuk mengetahui pergerakan militer negara mana pun di dunia. Bagi negara pemilik satelit mata-mata, negara lain sulit menyembunyikan pergerakan pasukan atau kendaraan militernya.

Kita tahu, koordinasi komando militer juga banyak dibantu oleh satelit di orbit. Kita ingat, gerakan pesawat sipil pun tak lepas dari pantauan satelit, seperti halnya ketika terjadi musibah Boeing 737 MAX 8 Lion Air dan Ethiopian Airlines.

Dengan bermacam fungsi tersebut, negara pemilik satelit mata-mata dan komunikasi memiliki keunggulan kompetitif secara militer. Semula keunggulan ini bersifat imun alias tak tersentuh karena satelit berada di tempat tak terjangkau, yakni di orbit tinggi, katakan 600 km di atas permukaan Bumi.

AS, yang menyadari bahwa satelit akan menjadi keunggulan kompetitif lawan, segera mengembangkan sistem penangkalnya dan sejak tahun 1959, dengan keberhasilan rudal antisatelit Bold Orion, AS menjadi negara pertama yang bisa menghancurkan satelit di orbit.

Rusia, yang saat itu berwujud Uni Soviet, tak mau ketinggalan. Sama-sama berbekal teknologi rudal yang andal dan berpengarah presisi, negara ini pun pada kurun 1960-an dan 1970-an mengembangkan dan berhasil menjadi negara kedua yang memiliki kemampuan antisatelit. Namun, keduanya harus menerima kenyataan, China pun bisa menyusul, ketika rudal antisatelitnya berhasil menghancurkan satelit cuaca uzur yang mengorbit pada ketinggian 800 km pada tahun 2007.

Artinya, telah terjadi proliferasi sistem persenjataan antisatelit. Akibatnya, daya kompetitif sistem ini lalu di permukaan Bumi mulai menyusut. Setiap saat musuh bisa melumpuhkan platform atau anjungan komando antariksa yang bersifat vital.

Pernyataan PM India Narendra Modi, Kamis (28/3/2019), bahwa rudal antisatelit dibuat untuk tujuan damai dan tak bermaksud menciptakan nuansa peperangan tak diterima begitu saja oleh Pakistan, saingan bebuyutannya. Menurut Pakistan, mestinya setiap negara bertanggung jawab untuk menghindari kegiatan yang memicu militerisasi wilayah antariksa.