Apa yang semula kita tangkap sebagai perbedaan pandangan antara pemimpin dan yang dipimpin ternyata berkembang menjadi kemelut yang berujung pada mosi tidak percaya kepada Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sejumlah profesor dan peneliti senior mengusulkan pemberhentiannya.

Kalau membaca tantangan zaman, lembaga seperti LIPI sangat ditunggu kontribusi ilmiahnya. Bagaimana tidak? Dalam bidang politik, misalnya, ada pemilu dan pilpres yang kompleksitasnya amat menantang karena belum ada presedennya. Ilmuwan politik LIPI perlu memusatkan perhatian untuk mengikuti perhelatan nasional yang mendebarkan ini.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Civitas Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan aksi damai dengan menggelar mimbar bebas di Auditorium LIPI, Jakarta, Jumat (15/2/2019). Mereka melanjutkan aksi pekan lalu yaitu moratorium kebijakan reorganisasi dan redistribusi di lembaga itu. Aksi diikuti seratusan pegawai di lembaga riset itu.

Dalam bidang sains dan teknologi, lomba menguasai kecerdasan buatan dan dampak Revolusi Industri 4.0 menuntut perhatian ilmuwan LIPI. Belum lagi soal perubahan iklim, dinamika sesar geologi, serta terus meningkatnya kebutuhan pangan dan berbagai tantangan dalam bidang kesehatan, yang LIPI bisa memberikan sumbangsih berharga.

Sejauh ini, kita belum pernah mendengar adanya masalah serius di lingkungan LIPI. Dari perjalanan sebelumnya, kita mengamati LIPI relatif tenang di bawah sosok kepemimpinan yang kebapakan dan lembut. Sekadar menyebut nama, kita dulu mengenal Prof Doddy Tisnaamidjaja, lalu Prof Samaun Samadikun, yang terkesan mengayomi.

Kepala sekarang, Laksana Tri Handoko, boleh jadi generasi lebih muda yang dipilih dengan harapan bisa ikut menyegarkan Lembaga. Riak muncul ketika belum lama menjabat ia mengeluarkan kebijakan reorganisasi LIPI.

Menurut Kepala LIPI, reorganisasi dan redistribusi dimaksudkan untuk mengurangi beban administrasi peneliti dan mendorong riset. Dalam pandangannya, kebijakan yang ia ambil bisa membuat peneliti lebih fokus, selain menguntungkan petugas administrasi pendukung. (Kompas, 9/2/2019)

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Civitas Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan aksi damai dengan menggelar mimbar bebas di Auditorium LIPI, Jakarta, Jumat (15/2/2019). Mereka melanjutkan aksi pekan lalu yaitu moratorium kebijakan reorganisasi dan redistribusi di lembaga itu. Aksi diikuti seratusan pegawai di lembaga riset itu.

Reorganisasi tahap pertama fokus pada pembenahan organisasi dan tata kelola satuan kerja pendukung riset yang akan disusul reorganisasi pada penajaman tugas dan fungsi satuan kerja eselon III dan IV. Yang terakhir adalah penajaman kompetensi di satuan kerja teknis riset setingkat eselon II dan peningkatan status beberapa satuan kerja teknis penelitian setingkat eselon III.

Kebijakan tersebut, menyusul unjuk rasa ratusan profesor riset dan pegawai, diputuskan dikaji ulang. Unjuk rasa muncul karena pengambilan kebijakan dinilai tidak partisipatif, inklusif, dan humanis. Peneliti senior LIPI, Dewi Fortuna Anwar, mengatakan, aksi muncul karena komunikasi dalam merumuskan kebijakan tidak lancar.