Penandatanganan "Deklarasi Abu Dhabi" ini simbolik menandai era baru hubungan umat Islam-Kristen sedunia. Kedua komunitas tersebut diharapkan ke depan dapat hidup berdampingan dengan semakin damai dan saling bekerja sama melawan tantangan kemanusiaan, termasuk musuh seluruh umat manusia yaitu terorisme (Kompas, 6 Februari 2019).

Bagaimana seyogianya kita memaknai peristiwa monumental di atas?

Universalisme hakikat

Persaudaraan umat manusia merupakan konsep kunci yang menguak banyak hal dasar yang selama ini tidak cukup jernih dibaca oleh kebanyakan orang. Konsep ini pada dasarnya bertumpu pada pemahaman bahwa semua umat manusia pada dasarnya sama dan bersaudara. Alhasil, seorang manusia yang menzalimi sesamanya; ceteris paribus, melakukan hal serupa untuk seluruh umat manusia. Dengan demikian, terorisme yang telah menimbulkan kehancuran pada banyak tempat dan jiwa manusia, tidak dapat dibayangkan mengenai hebatnya dimensi kerusakan yang telah ditimbulkannya.

Secara logika, persaudaraan umat manusia mudah dimengerti. Semua manusia punya elemen sama. Ia dibangun dari persatuan raga dan roh. Raga sendiri merupakan entitas jasadiah, bersifat tidak independen. Ia secara total bergantung pada keberadaan roh. Pada saat tidur atau post-factum kematian, raga jadi onggokan daging, dan belulang tak berfungsi.

Dengan demikian, otak dan pancaindra hanya sarana dan bukanlah pengendali. Proses berpikir, dengan demikian, secara fisikal merupakan sebuah fenomena rumit yang menakjubkan. Namun, secara hakikat ia amatlah sederhana. Rohlah yang membuat otak dapat berpikir dan bernalar-kreatif. Perspektif ini mengempaskan pemahaman klasik Kartesian yang memuja nalar yang berpusat di kemampuan fisikal otak, cogito ergo sum.

Seperti diketahui, jasad manusia berasal dari struktur elementer dari saripati tanah. Ia bermula dari pertemuan ovum dan benih yang berlangsung dalam "istana kaca yang agung", yaitu rahim. Ilmu kedokteran modern telah membuktikan bahwa pertemuan kedua hal di atas berlanjut pada terbentuknya segumpal darah, kemudian jadi onggokan daging, selanjutnya menjadi struktur tubuh manusia super mungil atau fetus, kemudian menjadi janin.

Ditunjukkan dalam riset ginekologi mutakhir, pada usia janin empat bulan sepuluh hari, biasanya terjadi transformasi "manusia" yang mencengangkan: kehidupan mulai terjadi lengkap dengan segala penandanya. Janin yang di usia tersebut "mendapatkan" roh sebagai sumber kehidupan akan bertahan jadi bayi yang siap dilahirkan, vice versa akan gugur dan luruh.

Kehidupan di atas, secara akademik tak terbantahkan, dibawa oleh kehadiran roh. Ia merupakan pemberian Dzat Maha Kreasi sebagai sebuah nikmat tak terperi bagi semua umat manusia tanpa kecuali. Ia adalah cahaya (nur) yang membawa umat manusia dari kegelapan (keingkaran) yang merupakan karakter dasar entitas tanah, menuju "benar". Roh ini tidak dapat memilih untuk ditiupkan dalam raga siapa dan di tempat mana, lengkap dengan segala atribut askriptifnya.

Hal tersebut sepenuhnya merupakan area supraprerogatif Sang Pencipta. Alhasil, keanekaragaman dan perbedaan merupakan anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan bagi seluruh umat manusia. Secara logika mudah dipahami, seandainya Sang Maha Kreasi berkehendak menjadikan seluruh umat manusia sama bukanlah hal sukar. Umat manusia diciptakan dalam format berbeda-beda hanya untuk satu tujuan, yaitu ia "membaca" kebesaran Tuhan dalam proses saling memahami dan berdamai satu sama lain.

Manusia yang tunduk kepada keagungan Sang Maha Pencipta dan berdamai dengan sesama, berintikan roh yang terdidik. Mendidik roh bukanlah di lembaga pendidikan ciptaan manusia. Ia merupakan produk pertemuannya dengan Sang Khalik di arena ritualistik ataupun nonritualistik di Istana- Nya dalam semua waktu.

Dalam konteks ini, agama diturunkan Tuhan dari nabi ke nabi—melalui wahyu—adalah dalam rangka mendidik roh agar cahayanya selalu berpendar agung mengalahkan kegelapan. Dengan demikian, maka budi dan akal budi terpancar sebagai wujud cantik penuh kasih, damai, serta menebar kebaikan bagi sesama dan alam sekitarnya.

Agama sebagai hak hakiki dari hubungan roh dengan Sang Maha Sumber telah diintervensi oleh kekuatan pemikiran interpretatif manusia. Hal ini semakin diperparah dengan fenomena agama yang mewujud menjadi institusi sosial, lengkap dengan aneka ragam tujuan qua kepentingannya. Selanjutnya, reduksi agama pada identifikasi kultural tertentu  adalah suatu kebodohan yang menakjubkan, yang dengan cantik dikemas untuk menafikan esensi cahaya bernama "benar". Agama dalam praktik, dengan demikian,  acap terjebak pada lamunan ombak tafsir naratif tekstual mengenai hukum ilahiah di tengah buaian penjara involusi institusional.

Kedua hal tersebut telah demikian sempurna mencampuradukkan tujuan agama yang hakiki dengan alat untuk mencapainya. Fanatisme dan militansi agama serta mazhab di dalamnya telah membuat umat manusia terkotak-kotak secara mengerikan. Dalam konteks inilah, permusuhan kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, agama tidak membawa gen perbedaan, bersumber hanya pada satu risalah.

Singkat kata, deklarasi Abu Dhabi merupakan sebuah revolusi pengakuan jujur dua institusi agama penting dunia atas persaudaraan umat manusia secara hakikat. Konsepsi mengenai Tuhan Maha Pencipta boleh jadi dibangun berbeda-beda di setiap milieu agama, sekte, dan mazhab. Namun, Tuhan yang menciptakan alam dan seisinya pastilah sama.

Pemahaman ini tentu bersifat menembus batas klaim kebenaran secara primus interpares. Ia sekaligus telah menggeser perhatian umat manusia dari pertengkaran antarsaudara, pada kerja sama substansial menyiasati ancaman kehancuran peradaban itu sendiri.

Tantangan kemanusiaan

Umat beragama ibarat sekumpulan orang yang saling cakar di atas perahu bocor yang melaju menuju pulau harapan. Mereka bukannya mencari titik persamaan nasib, untuk bersegera bersama menutup kebocoran dan menjamin keselamatan pelayaran; malah sengit mempertengkarkan klaim atas pulau harapan yang secara nyata belum pasti. Jadi, Deklarasi Abu Dhabi merupakan in puncto reflexionis simbolik dihentikannya pertengkaran umat manusia sekaligus disulut secercah harapan optimistik membangun masa datang bersama yang lebih baik.

Sebagai contoh, planet bumi yang telah berusia sekitar empat miliar tahun ditandai kerentaan yang digayuti beban amat berlebih. Ia dapat menopang secara ideal kehadiran sekitar 4,5 miliar orang. Namun, penduduk bumi kini telah mendekati dua kali dari daya tampungnya. Umat manusia memerlukan makanan, udara bersih kaya oksigen, mobilitas, ruang, dan sebagainya. Setiap inci kebutuhan di atas membawa dimensi kerusakan.

Jumlah penduduk yang meningkat tak terkendali berarti berimplikasi pada makin besar pula kerusakan yang dapat ditimbulkannya. Pada kenyataannya, kebanyakan umat manusia menjelma jadi makhluk carpe diem, yang pura-pura lupa bahwa nasib masa datang bumi harus dipelihara dan dijaga bersama-sama. Tampaknya hal ini merupakan tantangan bagi komunitas agama untuk bergerak bersama menuju titik sinergis dalam rangka merespons tantangan di atas.

Contoh lain revolusi sains yang seperti pisau bermata dua. Michio Kaku, misalnya, mengisyaratkan teori relativitas Einstein bukanlah ditutup dengan titik, tetapi koma. Ia berbicara mengenai optimisme masa datang lahir dari rahim keajaiban sains dan teknologi. Ia meraba masa datang peradaban yang melompat-lompat makin tinggi dan cepat sehingga dalam sekejap mengubah pola-pola kehidupan lama.

Belum habis mulut ternganga, kejutan lain sudah menghampiri. Pola-pola baru muncul bertumpu pada pemanfaatan luas mahadata, kecerdasan buatan, serta teknologi supermikro seperti nano dan genom. Tantangan dari sains dan teknologi adalah fakta bahwa pemujaan pada otak manusia sedemikian jauh, hingga melupakan kekuatan asasi yang menggerakkannya. Hutan belantara sains dan teknologi jadi ruang pengasingan tanpa batas. Di satu sisi ia memberi solusi atas keterbatasan teknis, di sisi lain memperkecil ruang fungsi alamiah manusia. Dengan demikian, sains dan teknologi punya dampak evolutif yang tidak terbayangkan.

Tak kalah penting, tantangan kemanusiaan muncul dari fakta bahwa sistem kehidupan liberal-kapitalistik telah membawa kehidupan pada penggelembungan imajiner nan fantastik. Ada benarnya imaji klasik Fukuyama seperempat abad lalu mengenai bahaya sistem tunggal setelah sosialisme rontok di laga Perang Dingin. Ada benarnya juga dikotomi liberal-Barat dengan puritanisme Islam versi Huntington. Kedua pemikiran di atas larut pada tesis kapitalisme menjadi kekuatan yang diam, tetapi ekspansif dengan daya gilas mahadahsyat. Bahkan ia secara tidak disadari mampu secara cantik mengemas kemanusiaan menjadi komoditas serta dipilah dan dibagi atas harga-harga.

Akhirnya, kemanusiaan universal tengah mengalami tantangan bahkan ancaman serius dari merebaknya terorisme, penyalahgunaan obat terlarang, tengah malam mencekam letupan perang berbasis senjata pemusnah massal, merebaknya penyakit menular semisal AIDS, dan sebagainya. Saatnya umat manusia kini mematrikskan persamaan nasib untuk menutup lubang bocor di perahu yang tengah ditumpangi bersama.

Usulan

Alangkah indahnya langkah simbolik penting di atas jika dapat ditindaklanjuti bersama oleh kedua pihak secara sungguh-sungguh. Hal yang pokok adalah saling "mendekatkan" pemahaman mengenai hakikat persaudaraan umat manusia itu sendiri. Gerakan ini kemudian diikuti sosialisasi dan aplikasi di kalangan "elite" agama agar gemanya dapat terpancar ke akar rumput yang paling dasar sekali pun. Dengan begitu, agamawan dan para pemeluknya mampu bergerak ke titik kesadaran yang sama akan pentingnya merespons tantangan kemanusiaan sebagai sebuah tanggung jawab yang melekat.

Dalam kondisi di atas, upaya untuk menjaga bumi dari kerusakan akan bertemu dengan kualitas umat manusia yang semakin meningkat. Alhasil, mereka mampu menjadi pengendali bijak dari kemurahan revolutif sains dan teknologi. Bahkan, kedua hal tersebut bertemu dalam keseimbangan di antara lembutnya asuhan manusiawi dengan keliaran praktik pasar liberal.

Pada titik ini, umat manusia selalu berupaya berpijak pada kemanusiaannya sebagai pengendali dari berbagai  "alat" dan tidak tersesat pada rayuannya yang memabukkan. Akhirnya, tantangan dan ancaman selayaknya direspons dengan dibangunnya budi pekerti arif sebagai wujud dipeliharanya "roh" oleh Sang Maha Penciptanya. Dengan begitu terorisme, penyalahgunaan obat terlarang, perang berbasis senjata pemusnah massal, dan merebaknya AIDS dapat diminimalkan.