
Warga Afganistan melihat toko yang rusak berat di dekat lokasi bom truk di Kota Kabul, Selasa (15/1/2019). Taliban mengklaim bertanggung jawab terhadap ledakan yang menyebabkan empat orang meninggal dan melukai lebih dari 100 orang lainnya itu.
Rantai kekerasan di Afghanistan seperti tak berujung. Upaya damai oleh Amerika Serikat dan Taliban pun dipandang skeptis. Ada bara lain yang tak kalah berbahayanya.
Berita dari Kabul, ibu kota Afghanistan, Sabtu (17/8/2019) malam itu, sangat mengentak sanubari. Sebuah pesta perkawinan, yang seharusnya diwarnai kegembiraan dan sukacita, berubah menjadi tragedi berdarah. Pesta itu dikoyak oleh serangan bom bunuh diri di tengah kumpulan tamu undangan yang sedang menari. Seperti diberitakan harian ini, Senin (19/8), sedikitnya 63 orang tewas dan hampir 200 orang luka-luka dalam serangan bom tersebut.
Kelompok militan yang berafiliasi pada milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom itu. Sudah tak terhitung berapa kali serangan tak berperikemanusiaan seperti itu mengoyak bumi Afghanistan. Menurut catatan PBB tahun ini, lebih dari 32.000 warga sipil tewas akibat kekerasan di negara itu dalam satu dekade terakhir. Korbannya pun tak pandang bulu. Tahun lalu saja sebanyak 927 anak-anak menjadi korban tewas. Angka ini lebih tinggi dari korban anak-anak akibat kekerasan di negara mana pun oleh semua aktor dalam satu dekade terakhir.
Serangan bom di Kabul itu meletus di tengah perundingan damai rintisan AS dan kelompok Taliban. Dalam beberapa bulan terakhir, AS—diwakili Utusan Khusus Zalmay Khalilzad—berunding dengan perwakilan Taliban guna mengakhiri hampir 18 tahun perlawanan Taliban. Perundingan itu mendekati akhir dan hampir membuahkan kesepakatan. Salah satunya, AS akan menarik pasukan dari Afghanistan dan Taliban tak menjadikan Afghanistan sebagai pangkalan.
Kesepakatan AS-Taliban mungkin tak akan mengakhiri siklus kekerasan di Afghanistan. Apalagi, kesepakatan itu tidak melibatkan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Sudah berulang kali Ghani hendak merangkul Taliban, tetapi kelompok militan ini menolak berunding karena menganggap kubu Ghani representasi pemerintahan boneka asing. Andai kesepakatan AS-Taliban dicapai, banyak kalangan berharap perundingan berlanjut dengan pihak lain, termasuk—entah kapan saatnya—antara Taliban dan Pemerintah Afghanistan.
Demikian pandangan yang optimistis melihat perundingan AS-Taliban. Namun, perundingan itu juga menyisakan kekhawatiran bahwa kesepakatan AS-Taliban bisa memicu eksodus para petempur Taliban yang radikal untuk bergabung dengan NIIS di Afghanistan. Eksodus itu dilaporkan sedang terjadi di beberapa wilayah utara dan timur Afghanistan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar