ARSIP PRIBADI

Samsuridjal Djauzi

Anak saya berumur tiga tahun. Ia sering mengeluh sakit kepala. Semula saya kurang perhatikan. Namun, setelah dia mengalami muntah-muntah, saya mulai khawatir. Sebagai ibu yang juga bekerja di sebuah perusahaan swasta, tak mudah bagi saya menyediakan waktu untuk membawa anak saya berkonsultasi dengan dokter. Saya harus minta cuti dulu. Saya membawa dia berobat ke dokter anak dan kemudian dirujuk ke dokter anak yang menangani saraf.

Setelah pemeriksaan dilakukan dengan teliti, dokter tersebut menganjurkan agar anak saya menjalani pemeriksaan laboratorium dan MRI kepala. Tidak mudah bagi saya untuk membujuk anak yang baru berumur tiga tahun untuk menjalani pemeriksaan tersebut, apalagi dia takut disuntik.

Saat pengambilan darah, dia harus saya peluk. Kesulitan yang juga saya hadapi bagaimana menjelaskan cara menjalani pemeriksaan MRI. Untunglah dia sudah lebih mengerti karena mengatakan ingin penyakitnya sembuh. Ternyata pemeriksaan yang sudah ada belum cukup, harus ditambah lagi dengan pemeriksaan rontgen dan scanning tulang. Untunglah semua akhirnya dapat dijalani dengan baik.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa anak saya terkena tumor otak. Saya amat terkejut dengan diagnosis dokter dan membayangkan apa yang akan terjadi pada anak tunggal saya ini. Dokter mengatakan bahwa tumor yang terlihat melalui MRI masih kecil dan kemungkinan dapat dioperasi. Dokter menggambarkan apa yang akan dilakukan pada anak lelaki saya serta kemungkinan terapi lanjutan. Jika tumornya jinak seperti yang diduga dan patologi menunjang, cukup tindakan operasi saja.

Anak saya, setelah operasi, harus tinggal di rumah sakit sekitar satu minggu. Untuk tindakan operasi, anak saya masih harus menjalani penilaian kelayakan operasi dari dokter anak dan dokter anestesi. Suami saya yang juga bekerja di perusahaan swasta akhirnya juga mengambil cuti agar kami semua dapat menghadapi operasi tumor otak ini dengan baik.

Dokter bedah mencoba menjelaskan dengan baik kepada anak saya bahwa ada benjolan di otaknya yang menyebabkan sakit kepala dan jika benjolan tersebut diambil, sakit kepala serta rasa tak enak yang dialaminya akan hilang. Anak saya menurut dan menyatakan terserah kepada ibu. Saya tak dapat menahan air mata menghadapi kenyataan bahwa anak saya yang masih kecil harus menghadapi operasi otak.

Saya tahu bahwa ilmu kedokteran di Indonesia sudah maju dan sudah banyak dokter yang berpengalaman. Namun, ketika membayangkan penderitaan yang harus dihadapi anak saya, air mata saya tak dapat saya tahan. Menurut dokter bedah, jika semua berjalan baik, anak saya akan dapat tumbuh dan berkembang seperti biasa dan diharapkan tak ada gejala sisa. Saya bersyukur dan berdoa. Operasi anak saya berjalan sukses dan setelah delapan hari dirawat, dia boleh pulang.

Saya dan suami amat gembira anak saya dapat pulang ke rumah dan ceria kembali. Mohon penjelasan Dokter, apakah tumor otak pada anak sering terjadi. Apa penyebabnya dan apakah operasinya dapat dijalankan di semua rumah sakit di Indonesia atau hanya di rumah sakit rujukan? Terima kasih atas penjelasan Dokter.

M di J

Pertama saya ingin mengucapkan selamat kepada Anda sekeluarga karena anak Anda telah selamat menjalani operasi tumor otak. Tumor otak dapat terjadi pada semua umur dan menurut catatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais, tumor otak, termasuk kanker otak, pada anak mulai sering ditemukan.

Tumor otak dapat dibagi menjadi tumor jinak dan tumor ganas (kanker). Selama ini memang penyakit kanker selalu dikaitkan dengan orang dewasa dan orang usia lanjut. Namun, sebenarnya anak-anak juga dapat terkena kanker, yang sering adalah kanker darah dan kanker otak.

Nah, kembali ke tumor otak, gejala tumor otak tergantung pada lokasi tumor di otak serta besarnya tumor. Tumor dapat menekan bagian penting otak sehingga gejala tumor otak biasanya disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam otak serta gangguan fungsi otak akibat penekanan oleh tumor otak. Peningkatan tekanan cairan otak dapat menimbulkan gejala nyeri kepala, mual, gelisah, depresi, dan perubahan kepribadian.

Tumor dapat timbul di bagian depan otak (cerebrum), bagian tengah otak (brainstem), atau bagian belakang otak (cerebelum). Nah, bagian-bagian otak tersebut mempunyai fungsi yang berbeda sehingga jika tumor menekan daerah cerebrum misalnya, dapat terjadi gejala kejang, gangguan penglihatan, lemah anggota badan. Gejala tumor otak yang sering adalah sakit kepala yang tak hilang dan cenderung semakin hebat. Anda beruntung tumor otak pada anak Anda dapat cepat didiagnosis serta diobati.

Penyebab tumor otak sampai sekarang belum jelas. Jenis tumor otak cukup banyak, di antaranya astrositoma, glioma, dan ependimoma. Untuk diagnosis tumor otak diperlukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan neurologi yang teliti serta perlu didukung oleh pemeriksaan penunjang, baik berupa laboratorium maupun pemeriksaan pencitraan (imaging), seperti MRI.

Jika ada kecurigaan kanker, juga biasanya dilengkapi dengan pemeriksaan rontgen dada serta scanning otak. Pemeriksaan tersebut sekarang sudah dapat dilakukan di rumah sakit provinsi atau rumah sakit swasta yang sudah mempunyai peralatan tersebut.

Penatalaksanaan tumor otak dilakukan secara bersama antara dokter anak yang mempunyai pengalaman dalam bidang neurologi anak serta dokter bedah dan dokter spesialis lain yang diperlukan. Peralatan kedokteran yang canggih dapat menentukan lokasi dan besar tumor secara tepat. Ini amat menolong dokter bedah saraf yang akan melaksanakan operasi.

Tindakan operasi pada anak memang memerlukan persiapan khusus. Tidak hanya persiapan dari segi fisik, tetapi juga psikologi anak. Anda telah menceritakan bagaimana upaya Anda agar anak Anda memahami dan tidak takut menghadapi tindakan operasi otak. Kerja sama orang tua dan tenaga kesehatan yang baik akan meningkatkan hasil terapi.

Terapi tumor otak dapat meliputi tindakan bedah, kemoterapi, radioterapi, obat steroid, dan obat kejang. Terapi dapat hanya berupa satu tindakan, misalnya terapi bedah seperti yang dialami anak Anda, tetapi juga dapat berupa kombinasi terapi tergantung pada keadaan tumor yang ada.

Sudah tentu setelah selesai terapi perlu dilakukan pemantauan untuk menilai hasil terapi. Anak perlu mendapat pemeriksaan kembali setelah operasi. Jika tumor tersebut tumor jinak, biasanya prognosis baik, dan seperti yang diinformasikan dokter, kemungkinan anak Anda akan tumbuh kembang secara normal.

Saya dapat memahami kekhawatiran Anda sebagai orangtua terhadap penyakit yang diderita anak Anda. Operasi otak pada anak tentulah membuat orangtua khawatir. Kita belajar dua hal dari pengalaman Anda. Pertama, mengutamakan kesehatan anak dan segera berkonsultasi dengan dokter.

Kedua, komunikasi yang baik dengan dokter dan tenaga kesehatan serta yang tak kalah penting adalah komunikasi yang baik dengan anak Anda. Kedua hal tersebut menghasilkan diagnosis dini serta terapi yang cepat. Saya berharap Anda sekeluarga dalam keadaan sehat selalu.


Kompas, 12 Oktober 2019