Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 02 Desember 2019

INVESTASI: Investasi Kepala (JOICE TAURIS SANTI)

HANDINING

Anastasia Joice Tauris Santi, wartawan Kompas

Berinvestasi sering kali dimaknai sebagai membeli aset seperti tanah, rumah, emas, saham, atau bisnis yang dapat berkembang nilainya di kemudian hari sehingga kita mendapatkan keuntungan dari modal yang ditanamkan.

Sebenarnya, investasi tidak melulu berupa membeli aset. Jenis investasi lainnya adalah investasi di kepala, dari leher ke atas. Investasi ini tidak berbentuk barang, melainkan berupa mengikuti pelatihan, seminar, kursus, atau membeli buku. Pokoknya semua hal yang dapat memberikan nilai tambah pada pengetahuan kita. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan, berinvestasilah pada dirimu dahulu baru menginvestasikan uangmu.

Maksudnya tidak lain adalah ketahui atau pahami dahulu sebelum berinvestasi. Jika ingin berinvestasi pada sektor perkebunan, pelajari dahulu hal yang terkait perkebunan. Carilah data sebanyak-banyaknya.

Apa saja hal yang memengaruhi hasil kebun, apa saja risiko yang ada, hingga bagaimana pemasaran hasil kebun itu. Sama seperti jika kita mau berinvestasi pada saham. Pelajari seluk beluk perdagangan saham, ikuti kursus soal saham, atau ikuti komunitas saham untuk terus belajar.

KOMPAS/VINA OKTAVIA

Sejumlah warga belajar saham di kantor Bursa Efek Indonesia Provinsi Lampung, Jumat (5/7/2019). Sebagian peserta merupakan warga desa di Lampung.

Apa yang terjadi jika kita tidak berinvestasi pada kepala sebelum menginvestasikan uang kita? Kerugian di depan mata. Karena tidak paham soal kurma bisa tumbuh di lahan seperti apa, uang investasi kebun kurma lenyap.

Oleh karena belum paham harga saham bisa naik turun, uang yang diinvestasikan pada saham lenyap karena tidak paham kapan saat membeli dan kapan saat melepas saham.

Investasi pada kepala memberi banyak manfaat. Tidak hanya belajar tentang investasi semata, melainkan juga mengenai banyak hal lain. Misalnya, seorang bankir yang menginvestasikan waktu dan uangnya untuk belajar fotografi punya peluang menjadi seorang fotografer andal.

Selain fasih bicara soal ekonomi nasional, dia juga bisa bicara soal fotografi, bahkan membuat pameran dan membuka sekolah fotografi. Secara rohaniah dia mendapatkan banyak kepuasan. Demikian pula secara keuangan karena fotonya indah dan memiliki daya jual tinggi.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Para pemuda dan petani kopi berlatih cuping di Desa Srimulyo, Dampit, Malang, Jawa Timur, Selasa (9/1/2018). Pelatihan secara swadaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petani menjaga kualitas kopi produksi mereka.

Alokasi dana

Investasi pada kepala memang memerlukan dana dan waktu. Seorang karyawan harus mengorbankan akhir pekannya karena harus mengikuti kursus barista karena bercita-cita membuka sebuah kafe. Dia pun harus menyisihkan uang untuk membayar biaya kursus.

Membayar atau mengeluarkan uang untuk memperkaya kepala pada kenyataannya belum menjadi prioritas di masyarakat. Sebagian orang sangat enggan mengeluarkan uang untuk membayar kursus atau seminar.

Lebih senang menghadiri kursus gratis walaupun mungkin materi yang diberikan hanya kulit saja. Sebagian orang belum dapat menghargai waktu dan ilmu yang dimiliki orang lain sehingga masih mengharapkan ilmu secara cuma-cuma.

Menurut  Harv Eker penulis Secrets of the Millionaire Mind, seseorang perlu menyisihkan setidaknya 10 persen penghasilannya untuk menambah pengetahuan. Dengan alokasi teratur, kita tidak lagi kesulitan dana ketika harus memperkaya diri.

Yuk mulai menyisihkan anggaran untuk berinvestasi pada diri sendiri….

Kompas, 2 Desember 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger