Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 21 Februari 2020

Dunia Islam Non-Arab Lebih Sukses daripada Dunia Arab (MUSTHAFA ABD RAHMAN)


Musthafa Abd Rahman, wartawan senior Kompas

Pada Jumat (21/2/2020), Iran menggelar pemilu parlemen. Iran adalah salah satu negara Islam non-Arab yang berhasil menggelar pemilu presiden dan parlemen secara rutin dan damai sejak Revolusi Iran tahun 1979.

Meski menerapkan model demokrasi menurut sistem politik velayat e-fakihyang berbeda dari sistem politik Barat, suksesi pemimpin di Iran berjalan mulus dan damai.

Jabatan presiden dibatasi hanya dua periode dan per periode hanya empat tahun. Presiden Iran saat ini adalah Hassan Rouhani yang menjabat sejak tahun 2013 dan kemudian terpilih lagi pada pemilu presiden tahun 2017 yang akan berakhir kepemimpinannya pada 2021.

Seperti halnya Iran, negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab lainnya, seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan, dan Senegal, juga berhasil menjalankan sistem politik demokrasi dengan suksesi pemimpin yang berlangsung mulus dan damai.

Selain sukses menjalankan sistem politik demokrasi, negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab tersebut juga cukup sukses membangun ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.

ATTA KENARE/AFP

Pada masa kampanye pemilu, poster dan baliho bertebaran di ibu kota Iran, Teheran, terutama di hari terakhir kampanye, Kamis (20/2/2020). Kelompok konservatif diperkirakan akan unggul dalam pemilu yang diselenggarakan Jumat pagi waktu setempat.

Maka, negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab itu relatif lebih maju secara politik, pendidikan, teknologi, dan ekonomi dibanding negara-negara Muslim Arab.

Karena itu, muncul diskursus cukup kuat selama ini bahwa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab lebih adaptif dalam menerima nilai-nilai kemajuan dan modernitas.

Sebagai contoh, pendapatan nasional empat negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab, seperti Indonesia, Malaysia, Turki, dan Iran, masing-masing mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS per tahun. Sementara pendapatan nasional semua negara Arab (sebanyak 20 negara Arab), di luar Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), hanya sekitar 1,5 triliun dollar AS.

Nilai ekspor Malaysia yang berpenduduk 32 juta jiwa mencapai lebih dari 200 miliar dollar AS. Adapun nilai ekspor Mesir yang berpenduduk 98 juta jiwa hanya 27 miliar dollar AS.

Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab, seperti Turki, Malaysia, Indonesia, dan Pakistan, kini kehidupan sosialnya relatif stabil. Sebaliknya dunia Arab, sejak tahun 2011 sampai saat ini, dilanda revolusi rakyatnya karena gagal membangun ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Keunggulan negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab atas dunia Arab juga terjadi di sektor ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan budaya.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Menara Kembar Petronas di pusat Kota Kuala Lumpur, September 2013, selain menjadi ikon wisata, juga menjadi simbol kemajuan bangsa Malaysia.

Indonesia dengan penduduk sekitar 260 juta jiwa yang terdiri dari banyak suku dan agama, ternyata mampu membangun persatuan dan kesatuan bangsa yang cukup mengagumkan sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Indonesia juga mampu membangun ekonomi dengan berhasil masuk menjadi anggota negara G-20, yakni 20 negara terbesar secara ekonomi di dunia. Turki yang berpenduduk sekitar 80 juta jiwa juga menjadi anggota G-20.

Bayangkan, jika dibandingkan dengan negara-negara Arab yang satu agama, satu bahasa, dan satu etnis, tetapi gagal menciptakan stabilitas dan perdamaian, serta sering terlibat perang saudara atau konflik politik yang berlarut-larut.

Negara-negara Arab dililit pula tingginya angka buta huruf, buruknya kondisi pendidikan, dan lemahnya nilai-nilai budaya institusional. Angka buta huruf di negara-negara Arab rata-rata 30 persen dari jumlah keseluruhan penduduk, meskipun ada upaya keras dari pemerintah negara-negara Arab untuk memberantas fenomena buta huruf tersebut. Hal itu menjadi hambatan besar bagi proyek modernisasi di dunia Arab.

Bisa dibandingkan dengan angka buta huruf di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab (2020), seperti Malaysia (5,4 persen), Indonesia (6,1 persen), Turki (5 persen), Iran (13,2 persen), dan Albania (2,4 persen). Peringkat pendidikan di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab di tingkat internasional juga jauh lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara Arab.‎

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Murid-murid SDN Setu 1, Jakarta Timur, memanfaatkan perpustakaan keliling untuk membaca buku bacaan seperti komik, novel, dan buku lainnya di sekolah mereka, Selasa (26/2/2019).

Namun, yang paling bahaya adalah tidak adanya penghormatan terhadap pluralisme agama, etnis, dan bahasa di negara-negara Arab.

Malaysia, jumlah penduduk Muslimnya sekitar 60 persen dengan sisanya adalah kaum minoritas Kristen, Buddha, dan Hindu. Secara etnis, masyarakat di negara ini terbagi ke dalam tiga kaum besar, yaitu Melayu, China, dan India. Meski beragam, negara ini mampu membangun satu bangsa yang hidup berdampingan secara damai.

Keberagaman agama dan etnis di Malaysia justru menjadi kekuatan negara bukan sumber konflik. Hal yang sama terjadi di Indonesia dengan dasar negara Pancasila yang dimilikinya, mampu menyatukan bangsa Indonesia yang majemuk secara agama, bahasa, dan suku.

Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim non-Arab juga mampu membangun paduan antara khazanah kultur bangsa dan nilai-nilai modernitas secara integral sehingga khazanah dan modernitas bisa hidup berdampingan secara damai dan saling melengkapi.

Fenomena itu bisa dilihat di Turki, Malaysia, dan Indonesia yang mampu mengintegrasikan secara nyata antara khazanah dan nilai-nilai modernitas.

Hal itu berbeda dengan apa yang terjadi di dunia Arab yang masih terus terjadi polemik antara khazanah/turats dan nilai-nilai kemodernan sejak 100 tahun lalu dan belum selesai sampai saat ini.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Siswa menggunakan pakaian adat Bali saat parade Culture Day di Sekolah Pembangunan Jaya Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (15/2/2020). Digelar pula pertunjukan barongsai dan pentas seni. Selain belajar menghargai keberagaman, kegiatan ini juga untuk menumbuhkan semangat cinta budaya Indonesia.

Salah satu faktor lebih unggulnya negara-negara mayoritas Muslim non-Arab atas dunia Arab adalah faktor geografis. Negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, secara geografis dikelilingi negara atau bangsa yang lebih maju sehingga terjadi interaksi langsung antara negara mayoritas Muslim non-Arab dan negara tetangga yang lebih maju itu. Hal itu membantu negara mayoritas Muslim non-Arab ikut maju.

Seperti Turki yang berdekatan dengan negara-negara Eropa. Contoh lain, Malaysia dan Indonesia yang dekat dengan Singapura dan China. Meski merupakan penduduk minoritas, warga keturunan China berkontribusi signifikan terhadap kemajuan di Malaysia dan Indonesia.

Berbeda dengan negara-negara Arab yang terpisah dengan Laut Tengah dari Benua Eropa yang sangat maju. Laut Tengah kini menjadi simbol pemisah antara negara maju di utaranya, yakni Eropa dengan negara berkembang di selatannya, yakni dunia Arab.

Sebaliknya, negara-negara Arab di Afrika utara, seperti Libya, Aljazair, Mauritania, dan Mesir berbatasan dengan negara tetangga Afrika di selatan yang lebih mundur.

Faktor lain lagi adalah negara-negara mayoritas Muslim non-Arab lebih mendapat alih teknologi dari Barat, seperti Turki yang berhasil memperoleh alih teknologi militer dan tekstil dari Barat, berkat Turki menjadi anggota NATO.

Industri militer Turki dikenal cukup maju sehingga Indonesia menjalin kerja sama dengan Turki dalam hal produksi peralatan militer. Indonesia juga dikenal cukup maju dalam industri dirgantara yang dirintis almarhum BJ Habibie yang membangun industri pesawat terbang nasional.

SAMUEL OKTORA

Seorang operator PT Dirgantara Indonesia (Persero) mengecek jig, alat bantu untuk merakit pesawat, Jumat (29/1/2016). Jig digunakan dalam perakitan pesawat N-219 buatan PTDI.

Sebaliknya, tidak ada satu negara pun di dunia Arab yang mampu membuat pesawat terbang. Adapun Iran kini sangat maju dalam teknologi nuklir dan rudal balistik. Pakistan juga maju dalam teknologi nuklir dan bahkan dikenal sebagai negara nuklir.

Kini yang paling ditakuti Israel adalah negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Turki, Pakistan, dan Iran, bukan lagi negara-negara Arab yang dianggap tidak berkembang.

Kompas, 21 Februari 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger