Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 10 Oktober 2020

EPILOG: Metamorfosis Drestarata (PUTU FAJAR ARCANA)


Putu Fajar Arcana, wartawan senior Kompas

Setelah kematian putra tertuanya Duryadana, Drestarata memilih jalanwanaprasta. Ia pergi bertapa ke dalam hutan ditemani istrinya Gandari, saudara tirinya Widura, dan ibu para Pandawa, Kunti. Dadanya yang remuk setelah kematian Duryadana, ia coba redam dengan memberi maaf kepada para Pandawa, yang telah menghabisi 100 orang Kurawa, anak-anaknya.

Sebelum pergi tetirah ke hutan, ia sempat bertemu empat mata dengan Sri Kresna. Kepadanya, ia bertanya, "Mengapa ke-100 putra-putraku harus binasa di tangan saudara sendiri dalam perang Barathayuda? Ini tidak bisa diterima sepenuhnya," kata Drestarata. Ia memegang dadanya kuat-kuat seolah hendak runtuh.

Dengan sangat sopan Kresna mengajak Drestarata kembali ke masa lalunya. Di sebuah telaga tepi hutan yang berair jernih, hidup sepasang angsa dengan anak-anaknya yang berjumlah 100 ekor. Sebagai raja masa lalu dengan kesenangan berburu, Drestarata menangkap induk angsa lalu membutakan matanya. Tak berhenti di situ, ia juga membunuh 100 ekor anak-anak angsa yang lucu itu, tanpa rasa bersalah.

"Itu terjadi pada 50 kelahiran sebelum menjelma menjadi dirimu," kata Kresna. Seperti juga kau tahu, Drestarata terlahir dengan kedua matanya yang telah buta, dan itu kelak yang menghalanginya menjadi raja Astinapura.

"Apakah ini yang disebut karma, mengapa ia datang terlambat?" tanya Drestarata.

"Karma bisa hadir berlapis-lapis, sampai seluruh dosamu tebersihkan. Jalanmu memilih wanaprasta, boleh jadi akan mengurangi beban batinmu, tetapi tidak menghapus karmamu di masa lalu," ujar Kresna lagi.

"Jika begitu apa makna penebusan dosa, hai titisan Wisnu?"

"Setiap kelahiran adalah penebusan dosa untuk menuju Moksa, kesempurnaan ruh yang kelak akan kau raih bersamaku," kata Kresna.

KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Kereta kencana yang ditunggangi Arjuna dengan kusirnya, Sri Kresna, dalam pementasan wayang kulit.

Percakapan itu seolah meneguhkan keinginan Drestarata mengasingkan diri ke dalam hutan. Bersama Gandari, belahan jiwanya, ia ingin menebus segala kekhilafan masa lalu dan masa kini, ketika membiarkan perang Barathayuda berkecamuk.

Sebagai raja, ia menyerahkan mahkota Astinapura kepada Yudhistira, putra tertua Pandu, sebagaimana dulu pernah diamanatkan oleh adiknya itu. Penyerahan yang seharusnya ia lakukan jauh hari sebelum Barathayuda meletus. Kalau saja Duryadana mau menahan diri untuk berdamai dan berbagi kerajaan dengan para Pandawa, mungkin perang saudara yang akan memusnahkan keturunan Baratha itu tak perlu terjadi.

Semua sudah terlambat. Seratus Kurawa telah binasa di tangan para keponakannya sendiri. Dengan dituntun para abdi setianya, Drestarata menjauh dari kehidupan duniawi. Hutan adalah wilayah tak bertuan, di mana Tuhan bisa hadir kepadamu kapan pun engkau siap menerimanya. Di hutan, Drestarata ingin membasuh segala luka masa lalunya dengan mulat sarira, melakukan instrospeksi sebelum ajal benar-benar menjemputnya.

Ia mencoba membuang segala rasa kehilangan jauh ke dalam perut belantara. Kenangan tentang kematian Dursasana, yang dadanya diobrak-abrik Bima untuk meminum darahnya, coba ia kubur dalam rimbunan pohon. Ingatan pahit tentang kematian Duryadana yang dinjak-injak Bima, ia coba tenggelamkan ke dasar danau. Termasuk nafsu amarahnya ketika ingin meremukkan tubuh Bima, ia coba kubur dalam-dalam. Meski begitu, semuanya berakhir dengan kesunyian yang menyayat.

Setiap kepak burung di tengah hutan seolah mencabik-cabik hatinya, seolah dosa-dosa yang telah ia perbuat di masa lalu kini terus mengepungnya. Bahkan, membekapnya sehingga setiap malam ia megap-megap, kesulitan bernapas. Dalam hati ia sering kali bertanya, "Apakah semua dosa harus ditebus dengan penderitaan?"

Ia ingat Kresna pernah berkata, "Semua kelahiran adalah penderitaan, oleh sebab itu setiap kelahiran harus diiringi kesadaran untuk melipatgandakan kebajikan."

"… dan apakah jalan wanaprastaberarti sebuah kebajikan?"

"Wanaprasta bukan soal hutan untuk menyepikan diri, tetapi kembali ke dalam dirimu, untuk bertemu ruh yang Mahasuci, tempat di mana segala dharma berada," tutur Kresna.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pentas wayang kulit dengan lakon "Kresna Duta (Petruk Nekat dadi Ratu)" yang dibawakan dalang Ki Suh Agung dalam pameran temu Komunitas Lima Gunung di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Seperti kemudian kau ketahui, Drestarata bersama Widura, Gandari, dan Kunti tewas terbakar di dalam hutan. Jika ia mau, para pengawalnya seperti Sanjaya, masih bisa menyelamatkannya, sebelum api benar-benar membakar seluruh pertapaannya. Akan tetapi, Drestarata menolak diselamatkan. Ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dari api dosa yang selama ini terus-menerus mengepungnya.

"Tuanku, api akan membakar seluruh pertapaan ini. Kita masih bisa menyelamatkan diri," pinta Sanjaya.

"Dengan apa manusia diselamatkan?" Drestarata balik bertanya.

Sanjaya tak segera menjawab. Ia balik merenung sebelum mengatakan,"Tuanku bisa membangun pertapaan lain jika selamat."

"Sampai kapan kita bisa melarikan diri dari dosa?" lagi-lagi Drestarata bertanya.

Lagi dan lagi Sanjaya tergagap.

"Bukankah di akhir hidup, sosok manusia harus melebur ke dalam api? Pergilah, biarkan aku tetap di sini," perintah Drestarata.

Sanjaya tahu perintah raja tak bisa ditolak. Ia akhirnya pergi meninggalkan Drestarata, Widura, Gandari, dan Kunti. Perjalananwanaprasta, para pembesar Astinapura itu, kemudian dihantarkan oleh gni menuju ke tangga surga.

Api yang membesar mereka hadapi dengan kesadaran pengembalian unsur-unsur Panca Mahabuthadalam diri yang melebur ke hadapan semesta. Segala unsur dalam tubuh seperti pertiwi (tulang-belulang), apah(cairan darah), teja (panas tubuh),bayu (energi), akasa (ruang kosong wadah ruh), luluh menjadi satu dengan semesta raya. Kemudian semesta merekah menjadi sumber kehidupan yang baru.

Peputaran itulah yang kau kenal bernama samsara, sebuah siklus hidup yang selalu membawamu ke dalam semesta baru, dan terus-menerus membuatmu akan mensyukuri hidupmu sendiri karena memiliki kesempatan memperbaiki diri.

AP/ J. SCOTT APPLEWHITE

Suasana Gedung Putih di Washington, Senin (5/10/2020) malam.

Ceritaku hari ini dipicu oleh kenyataan yang kini harus dihadapi negeri besar bernama Amerika Serikat. Ketika serangan Covid-19 telah menimpa tiga juta orang, bahkan kini mengurung Gedung Putih di mana Presiden Donald Trump pun menjadi korbannya, apa yang akan terjadi di negara ini. Apalagi melihat kenyataan, pada Sabtu (3/10/2020) Trump telah dievakuasi dari Gedung Putih untuk dirawat di rumah sakit militer Walter Reed, Bethesda, Maryland, tidakkah itu pertanda surut kekuasaannya?

Kondisi ketatanegaraan dan politik negara itu diperumit dengan pemilihan presiden yang akan dilakukan pada 3 November 2020 mendatang. Ketika diisolasi, Trump telah melewatkan beberapa jadwal kampanye pemilihan dirinya kembali sebagai presiden.

Mungkinkah Trump telah menepi dari kekuasaan, sebagaimana Drestarata melakukan tetirah di tengah hutan, ketika seluruh kekuasaannya runtuh? Sudah pasti Trump bukan Drestarata, raja yang buta sejak lahir. Ia tak hanya luput untuk melihat keindahan dunia, tetapi juga telah dibutakan oleh perbuatan keji di masa lalunya.‎

Drestarata juga buta terhadap kedengkian yang dilakukan anak-anaknya untuk selalu menyingkirkan para Pandawa. Ia seolah diam saja ketika Duryadana dan Sengkuni, memperdaya Yudistira dalam permainan dadu, yang berujung pembuangan seluruh Pandawa selama 13 tahun ke dalam hutan. Pelecehan Drupadi oleh Dursasana juga terjadi di dalam Astinapura, tetapi Drestarata seolah tak mau tahu.

Aku tidak ingin pula mengatakan Trump telah berbuat dosa dan pada kepemimpinannyalah negeri besar, seperti Amerika berada dalam lubang keterpurukan yang dalam. Fakta menunjukkan bahwa Covid-19 telah menjadi mesin "pemusnah" paling ditakuti di seluruh dunia.

Negara-negara dengan ekonomi maju, seperti Perancis, Inggris, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Singapura, tak urung harus turut menanggung kehancuran. Negara-negara maju ini tadinya memiliki sistem dan mekanisme kerja kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Indonesia, tetapi toh tak luput dari keporakporandaan.

AP PHOTO/ EVAN VUCCI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump keluar dari Walter Reed National Military Medical Center di Bethesda, Maryland setelah menjalani perawatan Covid-19, Senin (5/10/2020).

Bahwa sikap Trump yang seolah meremehkan mesin "pemusnah" seperti Covid-19 ini, dalam debat dan beberapa kesempatan lain dengan mengejek lawannya, Joe Biden, seperti berakhir ketika ia sendiri dinyatakan positif mengidap virus Covid-19. Para dokter dan pejabat Gedung Putih saling meralat ucapannya tentang kondisi terakhir Trump, yang konon kian memburuk di dalam ruang isolasi.

Aku tak tahu bagaimana mengakhiri kisah ini. Kita semua tidak bisa menebak jalan pikiran presiden yang unik, kalau tidak bisa dibilang aneh, dan sering kali mengejutkan kita semua. Kini, sampai sekitar tanggal 14 Oktober 2020 nanti, Trump harus menjalani masa isolasi.

Debat dengan Joe Biden yang dijadwalkan pada 15 Oktober 2020, belum lagi mendapatkan kepastian. Ia tentu saja mendapatkan perawatan secara saksama oleh para pembantu terbaiknya dari negara itu. Apakah ini sebuah pertapaan bagi Trump, semacam ulat yang menjadi kepompong, sebelum akhirnya bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik?

Jika Drestarata mencapai pencerahan dengan penyerahan diri sepenuhnya lewat medium gni atau api, yang dianggap sebagai perantara peleburan diri dengan semesta, apakah Trump akan mengalami metamorfosis setelah keluar dari ruang isolasi? Bisakah ia mendapatkan pencerahan sebagaimana Drestarata?

Tentu membandingkan keduanya menjadi terasa aneh karena mereka berada dalam platform atau bahkan dunia yang berbeda. Belum lagi, kalau dibandingkan soal pencapaiannya, di mana Drestarata secara sadar tetirah ke dalam hutan setelah menjadi pihak yang kalah dalam perang Barathayuda. Sementara Trump adalah presiden rakyat Amerika, yang saat ini masih menjabat.

Hal yang serupa di antara keduanya, mereka sama-sama menyepikan diri setelah terluka. Drestarata terluka dan sedang berkabung atas kematian 100 orang anaknya, sedangkan Trump sedang terluka karena diserang virus korona. Nasib Drestarata sudah kita ketahui bersama sebagaimana dikisahkan dalam epos besar Mahabharata, tetapi nasib Trump masih harus kita tunggu di hari-hari belakangan ini. Kita juga sedang menanti, sikap rakyat Amerika pada 3 November 2020, setelah badai hebat melanda negeri itu.

Sudah. Mungkin ini kisah paling menggantung dalam seri ePILOG, tetapi begitulah selalu seorang pencerita, kadang semua berjalan sesuai kehendak, tetapi tak jarang ia hanya mengikuti aliran kata-kata di atas tuts-tuts keyboard komputer. Mari saling memiliki untuk kebaikan…

Kompas, 7 Oktober 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger