Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 14 Oktober 2013

Jiwa Ikhlas Beriman dan Berkurban (Tajuk Rencana Kompas)

SENANTIASA haru dan terpesona setiap kali kita menyambut datangnya hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, yang tahun 2013 ini jatuh esok hari.
Haru karena di dalamnya ada teladan jiwa ikhlas penuh pengorbanan, dan terpesona karena demikian tinggi teladan yang diperlihatkan. Menyongsong ibadah yang telah berlangsung dari generasi ke generasi, kita tak henti-hentinya tergetar hati mengenang bagaimana Nabi Ibrahim ikhlas menyampaikan mimpi yang menggetarkan itu kepada putranya terkasih, Ismail, yang ia banggakan dan hadir setelah ia tunggu sekian lama. Yang tidak kalah menggetarkan juga sikap Sang Putra, Ismail, yang berserah diri akan mengikuti yang dikatakan Sang Ayahanda, yang ia yakini merupakan perintah Allah.

Kini, semangat kurban diwujudkan dengan pemotongan hewan, yang dagingnya lalu dibagikan kepada warga duafa, yang sehari-hari jarang mendapatkan daging yang bisa dimasak menjadi hidangan nikmat, kaya akan protein.

Kita yakin, kaum Muslimin yang mampu akan ikhlas berkurban di hari yang penuh hikmah dan keteladanan ini. Lebih jauh lagi, kita berharap itu tidak saja memancar sekali setiap tahun, tetapi mewarnai hidup kita sehari-hari. Ini karena di kanan dan di kiri kita masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan saudara yang mampu.

Perayaan hari raya Idul Adha juga bertepatan dengan tibanya puncak ibadah haji, di mana di sini pun kita melihat peristiwa yang menggetarkan jiwa. Di Tanah Suci, sekitar dua juta jiwa tengah merasakan kemuliaan Allah SWT, khususnya saat wukuf di Padang Arafah.

Dalam ibadah ini, semua insan ikhlas menanggalkan pelbagai atribut sehari-hari yang ia banggakan. Baju ihram yang ia kenakan melambangkan kebersahajaan dan kesamaan. Semuanya adalah hamba Allah yang tengah mengharap rida-Nya menjadi insan yang lebih berkualitas, baik dari sisi iman maupun sisi perilaku terhadap sesama.

Di sini pula kita melihat betapa tinggi nilai perintah Allah yang menitahkan manusia dapat menanggalkan kesombongan dan menyadari, mereka di hadapan Allah adalah setara. Yang membedakan antarmanusia adalah keimanannya kepada Sang Khalik.

Kita memahami, di dalam keimanan terkandung semangat kesalehan dan keikhlasan berkurban, wujud ibadah yang esok kita rayakan. Implisit di sini tentu pemahaman bahwa merayakan Idul Kurban seraya mengakui bahwa ada sebagian dari kita yang masih harus kita santuni.

Dalam kaitan ini, kita perlu mengarahkan dimensi horizontal keimanan, pada setiap harta yang kita miliki ada sebagian yang merupakan hak saudara yang masih membutuhkan. Menjadi tidak beriman dan bermoral jika dalam hati masih ada niat buruk untuk tidak berbagi, apalagi—ini yang jahat—merampas hak tersebut dengan cara yang hari-hari ini kita saksikan, yakni korupsi. Itu bukan saja mengkhianati, tetapi bertentangan dengan jiwa ikhlas berkurban yang ingin kita majukan setiap kali kita merayakan hari raya Idul Adha.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002638915
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger