Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 14 Oktober 2013

Renungan Idul Adha Daulat Mahkamah Kurban (Asep Salahudin)

Oleh: Asep Salahudin

MEMASUKI hari raya Idul Adha, memori kolektif kaum beriman selalu diingatkan ihwal drama rohaniah tekad Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya. Atas nama sumpah kepada Tuhan. Di sebuah lembah bernama Mina, lengkap dengan hikayat pergulatan menghadapi sang penggoda yang mencoba membelokkannya dari niat semula. Inilah yang kemudian menjadi situs jumrah yang dipahatkan nabi semua agama itu.

Jumrah sebagai simbol perayaan untuk tidak pernah berhenti melempari setan. Setan bukan sekadar imaji makhluk jahat buruk rupa, melainkan yang tidak kalah mengerikan adalah dorongan primitif yang mengendap dalam setiap
jiwa kita. Hal itu, misalnya, sikap intoleran, perilaku rakus, tindakan politik menghalalkan segala cara, termasuk hasrat ingin "menjadi Tuhan", yang dikatakan Sartre sebagai asal mula segala macam kekerasan tergelar.

Ibrahim yang pasrah dan mengedepankan Tuhan lengkap dengan imperatif moralitasnya, itulah yang kemudian dibilang Kierkegaard sebagai model manusia sempurna. Telah mencapai tahap religiositas. Melampaui dua jenis manusia lain, yaitu estetis yang menempatkan hakikat hidup dalam naluri material dan tahap etis yang bisa berpikir tetapi kehilangan daya cahaya metafisis.

Kerelaan mengorbankan anaknya (sebelum akhirnya diganti binatang) tampaknya yang menjadi modal spiritual Ibrahim mampu melakukan lompatan iman kemudian "ada dalam Tuhan". Dahsyatnya lagi, Ibrahim pada saat bersamaan—istilah Heidegger—menampakkan diri "ada dalam dunia" yang diwujudkan melalui "keterlibatan" (concerned with), "keterikatan" (preoccupation), dan "keakraban" (familiarity).

Mengenal diri (marifatun nafs) tidak hanya melalui akrobat akal teologis atau tenggelam dalam getar-getar kudus pengalaman mistis, tetapi juga lewat pergulatan praksis yang dilambangkan dengan dua hal utama: kurban dan sikap keberagamaannya yang inklusif, seperti ditulis Amir Hamzah dalam Hanya Satu: Bersemayam sempana di jembala gembala/duriat jelita bapakku Ibrahim/keturunan intan dua cahaya/pancaran bunda berlainan putera/kini kami bertikai pangkai/diantara dua, mana mutiara/jauhari ahli lalai menilai/lengah langsung melewati abad/aduhai kekasihku.

Dari sanalah ritus kurban bermula. Dan kita sepakat ajaran kurban hakikatnya merupakan substansi agama. Berkurban bukan sebagai sesaji untuk Tuhan, melainkan lambang berbagi kepada sesama. Lambang simpati dan respek yang di dalamnya mengandung nilai (valuer) dan pengakuan (reconnaissance) atas eksistensi yang lain (l'existence d'autre). Lalu waktu, penyembelihan hewan kurban pesan moralnya melampaui hari raya Idul Adha itu sendiri.

Bahwa mengorbankan watak-watak kebinatangan yang mengalir dalam tubuh kita, inilah makna yang disasar. Senapas dengan firman-Nya, "Daging dan darah tidak akan sampai kepada Tuhan, tetapi yang akan menyampaikan kepada-Nya adalah ketakwaan".

"Ismail-nya" kita, seperti dalam tafsir Ali Syariati adalah "Setiap sesuatu yang menghalangi perjalananmu, setiap sesuatu yang membuat engkau enggan menerima tanggung jawab, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentinganmu sendiri, dan setiap sesuatu yang membutakan matamu dan menulikan telingamu. Mungkin sekali Ismail-mu adalah seorang manusia, benda, kedudukan, atau kelemahan dirimu, sedangkan Ismail Ibrahim adalah putranya sendiri."

Relevansi
Menangkap pesan sosial kurban bukan hanya penting, melainkan hal mendesak yang mesti diperhatikan bersama, di tengah suasana kebangsaan yang kehilangan jangkar moralitas. Politik berada dalam lorong kegelapan, bahkan sebuah partai yang nyata-nyata mengusung tema dakwah tak menjadikan sapi untuk "dikurbankan", tetapi "mengorbankan" prinsip politik waras demi mengejar sapi (dan perempuan wangi); budaya telah kehilangan haluan jati dirinya.

Ekonomi tak ubahnya dikelola para rentenir; agama yang seharusnya hadir menawarkan kesejukan sekaligus melakukan "interupsi ideologis" ketika melihat kemungkaran sosial, malah tetap disibukkan nalar skolastik dengan menganggap "bidah" demokrasi dan pluralisme atau terjebak dalam mimpi menghadirkan khilafah yang difantasikan sebagai masa ideal.

Wilayah hukum? Inilah yang lebih tragis. Mahkamah Konstitusi yang semestinya berada di shaf terdepan dalam penegakan keadilan, ketuanya sendiri menjadi tersangka. Sementara kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan dipandang sebagai lembaga yang tidak cukup menggembirakan memerankan diri sesuai khitahnya. Lengkap sudah hikayat nestapa menerpa bangsa. Robohnya surau kami diikuti mahkamah yang mati suri.

Asketisme kurban
Spirit berkurban diharapkan bisa menyelesaikan persoalan bangsa, agar kehidupan kembali menemukan adabnya. Bukankah semangat berkorban yang diteladankan manusia pergerakan yang membuat Republik ini bisa keluar dari jerat kolonialisasi. Berkorban bukan hanya benda, raga, bahkan nyawa.

Termasuk berkorban dengan menjatuhkan pilihan hidup asketik. Hatta yang tidak terbeli sepatu Bally, Natsir yang jasnya robek, Bung Karno yang masih punya utang 80 gulden kepada Karim Oei, Agus Salim yang hidup dari satu kontrakan ke kontrakan lain sampai akhir hayatnya, Syahrir yang apa adanya, Tan Malaka yang jarang berganti pakaian, dan lain sebagainya.

Kepada mereka, penghormatan tulus segenap rakyat dipersembahkan. Kepada keluhuran budi, sikap jujur, akal sehat, gaya hidup yang halal, dan satunya kata dengan perbuatan. Mereka dengan gemilang telah sukses menyembelih "hasrat kebinatangan" ketika diberi amanah menjadi penyelenggara negara. Walaupun mereka tidak berkali-kali naik haji, tidak terlampaui fasih merapalkan teks kitab suci.

ASEP SALAHUDIN, Esais dan Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002584264
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger