Rouhani yang terpilih sebagai presiden bulan Juni lalu, dengan memenangi 50,7 persen suara atau 18,6 juta suara, dikenal sebagai tokoh yang moderat, pragmatis, dan konservatif-tengah. Itulah sebabnya, dua tokoh reformis dan moderat yang juga mantan presiden, Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami, mendukungnya.
Sikap moderat dan pragmatisnya, antara lain, terlihat saat masa kampanye yang mengkritik kebijakan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, waktu itu, yang cenderung konfrontatif terhadap dunia luar, terutama jika menyangkut masalah nuklir. Meski demikian, ketika ia terpilih, di tengah rasa keterkejutan banyak kalangan, terselip perasaan pesimistis bahwa ia mampu berbuat banyak untuk mengubah Iran. Sebab, keputusan yang menyangkut urusan kebijakan luar negeri, pertahanan, keamanan, dan nuklir ada di bawah kekuasaan Pemimpin Besar Ali Khamenei.
Ia bertanggung jawab pada bidang-bidang lainnya, termasuk ekonomi. Meski urusan kebijakan luar negeri di bawah kontrol Khamenei, Rouhani masih bisa berperan. Kemampuannya memformalisasikan kebijakan luar negeri sangat bergantung pada citra publiknya. Diplomasi publik adalah tanggung jawabnya. Bagaimana membangun citra Iran di dunia internasional adalah tanggung jawabnya. Itulah yang dia lakukan belakangan ini.
Beberapa hari lalu ketika tampil di mimbar Majelis Umum PBB, Rouhani menarik banyak perhatian dengan gayanya yang lebih sejuk. Kontak-kontaknya, termasuk berteleponan dengan Presiden AS Barack Obama, adalah juga bagian dari usaha untuk menaikkan kembali citra dan pamor Iran di dunia internasional.
Karena itu, tidak mengherankan kalau kemudian tersiar berita bahwa Teheran dan London berkeinginan untuk menghidupkan kembali hubungan diplomatik mereka yang "mati" sejak tahun 2011. Dalam usaha untuk memperbaiki hubungan mereka, Inggris dan Iran hari Selasa lalu mengumumkan akan menunjuk seorang charge d'affaires atau kuasa usaha, jenjang diplomatik di bawah duta besar. Ini adalah langkah awal.
Langkah awal inilah yang menandai babak baru kebijakan luar negeri Iran. Ini adalah langkah penting. Sebab, di dunia sekarang ini banyak negara yang berusaha merintangi atau melawan kepentingan negara lain, tetapi pemutusan hubungan diplomatik dengan sebuah negara bukanlah sebuah solusi yang benar dan tepat. Dengan kata lain, di zaman sekarang ini tidaklah mungkin sebuah negara hidup "menutup diri" dari dunia luar, menutup diri dari pergaulan internasional, menjadi autis. Itulah sebabnya, langkah Rouhani kita katakan sebagai sebuah keniscayaan yang memang harus diambil.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002582457
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar