Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 14 November 2013

Kita dan Harta (Kurnia JR)

Oleh: Kurnia JR  

Sang Buddha Siddharta Gautama pernah bermimpi berjalan di atas segunung najis, tetapi tubuhnya sama sekali tak terkotori.
Tafsir mengatakan, dia bakal selalu terpenuhi empat kebutuhan badaniahnya berupa jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan serta memanfaatkan semua itu tanpa melekat pada benda-benda tersebut. Tafsir lain menyebutkan, dalam perjalanan hidupnya sebagai pencerah umat manusia, Siddharta akan dianugerahi kemuliaan duniawi dari raja-raja, tetapi tidak terjatuh kepada cinta-dunia.

Tafsir tradisional kita atas mimpi yang berkenaan dengan kotoran, najis, dan tinja hampir selalu menyebutkan harta atau uang. Seseorang yang bermimpi mendapatkan, melihat, atau terciprat tinja dikatakan bahwa dia bakal ketiban rezeki nomplok yang lazimnya berupa uang dalam waktu dekat.

Tidak ada sama sekali tafsir yang mengaitkan tinja dalam mimpi kita dengan yang dalam ajaran Buddha disebut asava, yakni kotoran batiniah berupa keserakahan atau nafsu indera (lobha), kemarahan dan kebencian (dosa), serta kebodohan atau kegelapan batin (moha).

Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada para sahabat tentang sesuatu yang dimakan seseorang, apa yang kemudian keluar dari tubuh orang tersebut. Yang dimaksud ialah ampasnya alias tinja. Dengan dialog tersebut, beliau mengajarkan, makanan sebagai salah satu bentuk harta benda pada hakikatnya sekadar pemenuhan kebutuhan hidup manusia untuk bertahan hidup dan berkarya di alam dunia.

Beliau tidak mengharamkan harta berlimpah yang diperoleh seseorang sebagai hasil kerjanya, sejauh itu halal. Sang Rasul hanya memerintahkan agar para pengikutnya menyisihkan 2,5 persen dari hartanya untuk fakir miskin setahun sekali.

Dalam kesempatan lain, beliau mengumpamakan dunia ini dengan seorang perempuan renta yang bersolek guna menyembunyikan keriput dan keburukan rupanya. Manusia yang tak awas mudah terkecoh oleh penampilan palsunya, sedangkan yang waspada akan menjauhi tanpa mengharamkan situasinya.

Kekeliruan dilumrahkan
Menantu Nabi, Ali bin Abi Thalib, memilih hidup sebagai fakir. Padahal, ketika itu, dia adalah amirul mukminin, pemimpin kaum Muslimin yang pada masa itu telah berkembang dalam hal populasi ataupun skala wilayah. Apalagi dia sendiri pernah melontarkan ucapan yang masyhur: "Apabila kemiskinan itu berwujud manusia, akan kubunuh dia!"

Saat ditanya mengapa gaya hidupnya demikian, padahal di dalam Islam menjadi kaya bukanlah sesuatu yang tercela, beliau menjawab bahwa sebagai pemimpin, dia mewajibkan dirinya sendiri hidup dalam taraf kondisi rakyatnya yang paling miskin untuk merasakan derita mereka. Dalam arti luas, pada gilirannya dapat membuat dia lebih mampu memecahkan segenap persoalan bangsanya.

Dalam keseharian, kita sering mendapati orang memandang rezeki berupa uang, juga jabatan, status jadi "orang terpandang" sebagai bentuk pemuliaan: anugerah Ilahi.

Pandangan demikian membuat kita terbiasa memandang kondisi hidup pas-pasan, sederhana lantaran pendapatan kecil dan pangkat/jabatan rendah, kalah dalam suatu pertandingan atau persaingan, sebagai ketidakadilan ilahiah, hukuman, atau tidak adanya simpati ilahiah terhadap diri kita. Sebaliknya, kita memuja keberlimpahan harta, kekuasaan, status kepemimpinan formal dalam masyarakat dan negara sebagai kemuliaan hidup yang dikaruniakan Tuhan tanpa kewajiban sosial ataupun pertanggungjawaban vertikal.

Kekeliruan ini kita hayati mungkin tanpa peduli; lambat laun menjadi kealpaan yang sudah dianggap lumrah. Sementara kondisi hidup rakyat terbengkalai, mereka yang merasa dikasihi Tuhan dengan jabatan politik yang membuka jalan untuk menimbun harta tidak awas lagi. Mungkin mereka berpendapat Tuhan akan selalu rida kepada mereka karena selalu rajin ke gereja, wihara, atau menyelenggarakan pengajian lantas ziarah ke Mekkah berulang kali.

Kekuasaan bukan lagi jalan untuk mendekati Tuhan yang mereka yakini sebagai insan beriman, melainkan untuk memenuhi kehausan akan hidup nyaman dan keterjaminan kondisi badaniah hingga ke anak-cucu. Tidak peduli bagaimanapun cara meraup harta benda itu.

Para pemimpin korup mungkin berpikir cukuplah mereka mewariskan segunung harta kepada anak-cucu. Padahal, negara, bangsa, dan generasi bobrok dan rapuh yang mereka wariskan pada gilirannya tak hanya memangsa anak-cucu orang lain, tetapi juga anak-cucu mereka sendiri.

(Kurnia JR, Sastrawan)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002581640
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger