Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 09 Desember 2013

PLTN Basel (L Wilardjo)

Oleh: L Wilardjo  

SEJAK Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan belum ada dan Lembaga Tenaga Atom dipimpin GA Siwabessy, sebagian orang Indonesia, terutama para pakar nuklirnya, sudah berhasrat mempunyai dan mengoperasikan PLTN.
Perencanaan, pelatihan, dan konsultasi dengan para pemasok potensial dijalankan terus oleh Batan. Sampai sekarang usaha punya PLTN itu, termasuk kemungkinan dengan sistem bangun, operasikan, dan alihkan (BOA), masih digarap terus. Menristek menargetkan PLTN Indonesia beroperasi pada 2024.

DAERAH yang akhir-akhir ini disebut-sebut akan dijadikan tapak PLTN itu ialah Basel di Kabupaten Bangka Selatan. Daerah itu dinilai bebas gempa. Jauhnya tak kurang dari 400 kilometer dari gunung api yang masih aktif. Bupatinya pun sangat mendukung pembangunan PLTN itu.

Thorium?
Semula terdengar kabar bahwa yang akan dibangun di Basel itu PLTN berbahan bakar materi subur Thorium-232. Konon, thorium ada di Bangka-Belitung (Babel), tercampur dalam pasir timah di perairan provinsi itu. Namun, kabar tentang PLTN-Th- 232 itu telah dibantah mantan Kepala Batan Hudi Hastowo.

Seandainya PLTN-Thorium jadi dibangun di Basel, Indonesia melakukan lompatan dari "tidak punya reaktor daya biasa" ke "mengoperasikan reaktor pembiak cepat". Soalnya, unsur nomor 90 bernama dewa petir bangsa Viking, Thor, itu tak terbelahkan. Jadi, dari Th-232 itu harus dibiakkan dulu Uranium-233 yang terbelahkan. Reaksi tangkapan menyinar, yang dengan meluruh dua kali berturut-turut dengan memancarkan zarah beta akan menghasilkan U-233, memerlukan neutron-neutron cepat dengan tenaga satu jutaan elektron-volt atau lebih. Reaksinya tanpa moderator!

PLTN-Th-232 itu masih diran- cang Norwegia di Halden. Bangsa Viking memang orang Norwegia kuno, yang disebut Norsemen. Pengembangan reaktor Th-232 itu dilakukan Norwegia bekerja sama dengan Jerman. Komersi- alisasinya nanti dengan menggandeng Westinghouse, perusahaan reaktor nuklir AS yang bersemboyan "You Can be Sure, if it is Westinghouse (Anda Boleh Yakin bahwa Westinghouse yang Bikin)". Syukurlah, Indonesia tak jadi gegabah melompat.

EPR
Belakangan ada kabar yang juga masih kabur bahwa Batan melirik EPR-100 untuk penelitian ke arah PLTN generasi ke-4. Batan sudah punya dan memakai reaktor penelitian: RSG-S (reaktor serba guna Siwabessy) di Puspiptek Serpong. Namun, reaktor ini dipakai dalam penelitian di berbagai bidang yang memerlukan berkas neutron dengan fluks tinggi, sedangkan EPR-100 itu nanti barangkali untuk penelitian perancangan reaktor, misalnya aspek keamanannya, sistem pendinginannya. Rencana ini sangat ambisius karena, kalau berhasil, ia menempatkan Indonesia di jajaran industri nuklir dunia. Namun, KALAU-nya amat besar.

Konon, EPR-100 itu termasuk jenis HTGR alias reaktor dinginan-gas suhu tinggi. Reaktor seperti itu sudah diteliti dan dikembangkan sejak 1990-an, antara lain oleh Westinghouse yang bekerja sama dengan Mitsubishi, dan oleh Electric Power Research Institute (EPRI) di Amerika.

RARTM (reaktor air-ringan tekan maju) memiliki fitur yang bagus. Frekuensi kerusakan terasnya diestimasi kurang dari 0,00001 per reaktor-tahun. Frekuensi peristiwa kecelakaan yang parah hanya 0,000001 per reaktor tahun, dengan pajanan radiasi berdosis maksimum 25 roentgen dalam area radius setengah mil di sekitar tempat kejadian musibah. Pembangunannya juga tak makan waktu lebih dari 4,5 tahun, dan reaktor itu dapat dioperasikan dalam waktu 230 hari setiap tahun. Pengisian ulang bahan bakarnya setiap dua tahun sekali selama usia gunanya yang cukup panjang: 60 tahun. Namun, ini semua teori!

Belakangan yang menjajakan EPR ialah Perancis. Kapasitasnya besar (1400 MWe) dan harganya juga besar (5 miliar dollar AS, dan bisa membengkak kalau pembangunannya molor seperti yang dipesan Eslandia dan UEA). Ada juga EPR versi Korsel, yang dari segi harga bisa menyaingi bikinan Perancis. EPR-100 yang konon dilirik Batan kecil saja. Kapasitasnya cuma 100 MW. Jelas, reaktor itu tak dimaksudkan untuk pembangkitan daya elektrik karena kapasitas dayanya kalah jauh dari PLTU Batang yang katanya juga akan di-BOA-kan.

Penelitian nuklir memang penting. Ini sula pertama dari trisula nuklir. Tujuannya mengembangkan pengetahuan ilmiah tentang inti atom, zarah penyusunnya, ikatannya, dan tenaga yang dikandungnya. Namun, mengapa tidak melakukan penelitian dengan menebeng saja di Juellich atau Oeko Institute atau Argonne sehingga tak usah membeli sendiri alat, termasuk reaktor? Memang, hasilnya nanti, baik yang berupa HAKI, maupun yang berupa paten komersial, peneliti Indonesia harus berbagi dengan peneliti tuan rumah. Tak apalah. Yang penting lebih murah dan terjadi pemupukan silang dengan peneliti-peneliti di sana.       

L Wilardjo, Fisikawan

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003471574
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger