Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 19 Desember 2013

TAJUK RENCANA Ospek yang Berujung Maut (Kompas)

MENINGGALNYA Fikri Dolasmantya Surya mengentakkan keprihatinan kita untuk mencegah kematian yang sia-sia.
Mahasiswa Jurusan Teknik Planologi Institut Teknologi Nasional, Malang, Jawa Timur, itu meninggal saat penyelenggaraan orientasi studi dan pengenalan kampus, Oktober lalu. Sudah lebih dari tiga bulan kasusnya diselidiki, tetapi hingga kini belum ada kabar beritanya.

Kita ingatkan lagi: jangan sampai terulang terus kasus serupa. Atas nama ospek, seolah-olah kekerasan dibenarkan. Faktor ospek berujung maut bisa karena kebetulan, bisa juga karena faktor memang didesain demikian.

Akan tetapi, apa pun sebab musababnya, kematian Fikri Dolasmantya Surya perlu mengentakkan kita untuk mencegah terjadinya kekerasan selama ospek.

Hendaknya rasa kemanusiaan ini ditindaklanjuti. Muara akhirnya jangan sampai terjadi lagi. Langkah konkretnya, jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, tentu saja sanksi bagi pelaku kekerasan, termasuk pimpinan PT sebagai "pemilik" proyek ospek, seperti yang selama ini dalam beberapa kasus sudah dilakukan.

Tidak kalah penting langkah jangka panjang. Pimpinan PT perlu mencermati dan menerapkan Keputusan Dirjen Dikti No 38/DIKTI/Kep/2000 turunan UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Jangan sampai semangat otonomi menghilangkan tujuan utama ospek, yakni pengenalan lingkungan kampus.

Tidak bisa lagi kasus kekerasan selama ospek disebut ekses, apalagi kekecualian dari tujuan mulia ospek. Data menunjukkan, kekerasan dari tahun ke tahun terus terjadi, kebetulan atau disengaja yang didorong motif balas dendam atau naluri kekerasan, apalagi tidak sampai berujung maut. Dalam kasus kematian sia-sia dan tidak perlu ini, hanya ada satu kata: hentikan.

Upaya pencegahan perlu acuan sebagai payung bersama. Bahwa jati diri praksis pendidikan bukan kekerasan, bukan kekuatan fisik, tetapi kelemahlembutan dan kekuatan otak. Pengenalan kampus dan praksis pembelajaran sebagai mahasiswa di sebuah lembaga PT berbeda dengan semasa mereka sebagai siswa dengan seragam putih abu-abu.

Semangat otonomi perlu diterjemahkan secara tepat oleh organ pimpinan setiap PT. Dalam kasus ospek, jangan sampai semangat otonomi diterjemahkan sebagai pengenalan kekuatan fisik yang berujung pada aksi kekerasan. Mahasiswa dididik bukan untuk menjadi calon preman dengan aroma kekerasan fisik sejak awal, melainkan
calon-calon pemikir yang mengandalkan kekuatan otak.

Tidak lelah dan jemu kita ingatkan dan ajak perlunya mencegah dan menghentikan ospek yang berujung maut, apalagi di tengah kehidupan masyarakat yang beraroma kekerasan sekarang. Kasus Fikri Dolasmantya Surya,
kita jadikan dadakan, casus belli membangun kampus sebagai oase menyejukkan di tengah kegaduhan masyarakat.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003747621
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger