Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 14 Februari 2014

TAJUK RENCANA Yellen dan Pemulihan Ekonomi AS (Kompas)

TERPILIHNYA Janet Yellen sebagai gubernur bank sentral Amerika Serikat dianggap banyak kalangan membawa harapan baru bagi prospek pemulihan ekonomi AS.

Bagi sebagian kalangan, arah kebijakan moneter yang dipaparkan Yellen bisa meyakinkan mereka bahwa AS akan berhasil melampaui kesulitan ke depan, khususnya terkait program pemangkasan stimulus. Namun, saat yang sama, sebagian kalangan mencemaskan prospek gelembung aset baru yang berbahaya bagi perekonomian dunia di bawah rezim suku bunga rendah yang akan diterapkan Yellen.

Yellen dianggap akan bisa membuat perbedaan melalui strategi kebijakan yang cenderung mengontrol secara optimal (optimal policy) kebijakan moneter, dalam rangka mendukung tercapainya target makroekonomi, khususnya inflasi dan pengurangan angka pengangguran. Fed di bawah Yellen akan menempuh pendekatan lebih agresif dalam memerangi pengangguran dengan cara mempertahankan bunga rendah, mendekati 0 persen hingga 2016.

Dari sini kita melihat pengurangan stimulus belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Yang terjadi, kebijakan moneter longgar (quantitative easing) justru akan dipertahankan hingga pengangguran menurun. Bahkan, mungkin diperluas. Seperti penegasan Yellen, pengetatan moneter hanya dilakukan sebagai langkah terakhir.

Langkah ini dianggap sebagai konsistensi dan kehati-hatian sehingga direspons positif pasar. Mereka melihat Fed di bawah Yellen akomodatif pada tuntutan pasar sehingga kredibilitas pasar obligasi/saham terjaga. Situasi ke arah positif ini didukung pula keputusan Senat yang menyetujui penambahan pagu utang pemerintah federal.

Yang menjadi persoalan, rezim suku bunga rendah itu pula yang selama ini dituding berada di balik gelembung aset. Sejumlah kalangan mengingatkan bahaya pendekatan Yellen yang menganggap stimulus sebagai jawaban terhadap semua persoalan ekonomi.

Kalaupun dijalankan, ada kemungkinan langkah Yellen ini akan mendapat tentangan di FOMC, mengingat sebelumnya Fed sudah memprediksikan 2016 perekonomian akan pulih sepenuhnya sehingga mempertahankan bunga rendah dianggap tidak realistis dan sangat berisiko. Hal itu berpotensi memunculkan gelembung aset baru yang nantinya akan memukul kembali perekonomian AS dan global serta menuntut pengetatan lebih drastis.

Yellen tak menganggap isu gelembung aset sebagai persoalan besar yang bisa mengancam stabilitas pasar. Ia juga mengancam kartel bank-bank besar yang lewat spekulasinya sering menggoreng aset. Bagi kita, apa pun kebijakan AS, akan selalu berdampak pada ekonomi global, termasuk negara berkembang. Banyak korban dari kebijakan moneter longgar lewat cetak uang secara serampangan yang ditempuh AS. Sebaliknya, langkah mengetatkan juga memunculkan gejolak berupa kejatuhan nilai tukar dan eksodus modal dari negara berkembang.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004792877
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger