Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 28 Maret 2014

TAJUK RENCANA Masa Terberat Liga Arab (kompas)

SEPERTI sudah tertulis dalam garis perjalanan hidupnya bahwa sangat sulit untuk mempersatukan negara-negara Arab dalam satu wadah.
Memang, pada 22 Maret 1945, berhasil didirikan oleh tujuh negara—Mesir, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Suriah, Jordania, dan Yaman—sebuah organisasi yang disebut Liga Arab. Akan tetapi, Liga Arab yang kini beranggotakan 22 negara itu nyaris tidak pernah sepi dari perselisihan, nyaris sangat sulit untuk disatukan dalam satu gerakan tunggal untuk tujuan bersama.

Perjalanan sejarah Liga Arab diwarnai oleh perselisihan dan ketidakbersatuan. Sekadar contoh, ketika Israel menggempur Jalur Gaza (2008-2009), sikap Liga Arab dalam menanggapi krisis itu terpecah menjadi dua kubu. Sekarang pun demikian.

KTT ke-25 Liga Arab yang diselenggarakan di Kuwait, Selasa dan Rabu lalu, gagal membangun rekonsiliasi untuk mempersatukan negara-negara anggota. Ketika KTT dimulai, sebenarnyalah Liga Arab menghadapi berbagai persoalan berat yang telah mendorong organisasi itu berada pada posisi di tepi jurang begitu dalam.

Munculnya Arab Spring di beberapa negara Arab yang menumbangkan rezim berkuasa—Tunisia, Mesir, Libya, dan Yaman—serta sekarang masih menggoyang Suriah, berdampak sangat nyata bagi Liga Arab. Ada sebuah arus baru menuntut perubahan di banyak negara dan menimbulkan konfigurasi peta baru kekuatan serta politik baru di negara-negara anggota. Negara-negara yang disapu Arab Spring hingga kini masih berbenah, bahkan ada yang masih bergolak. Sementara rezim di negara-negara yang tak tersentuh berusaha memperkuat diri menghadapi angin perubahan yang suatu ketika bisa datang.

Itu menjadi salah satu persoalan Liga Arab. Persoalan lain adalah krisis Suriah yang belum selesai telah memecah belah Liga Arab. Ada negara yang mendukung rezim Damaskus dan ada yang mendukung kelompok oposisi bersenjata.

Krisis politik di Mesir, dengan tersingkirnya Ikhwanul Muslimin dari panggung politik, pun memunculkan persoalan antarnegara anggota. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain bersitegang dengan Qatar karena Qatar mendukung Ikhwanul Muslimin.

Masalah terorisme yang kini menghantui Dunia Arab juga menjadi persoalan yang membuat anggota Liga Arab tak bisa bersatu. Akibatnya, masalah lama yang selama ini relatif bisa menyatukan Arab—konflik Palestina—terlupakan. Apabila situasi seperti ini terus berlanjut, tak pelak lagi, Liga Arab akan tidak banyak artinya bagi anggota dan cita-cita untuk membangun organisasi regional, seperti Uni Eropa atau ASEAN, tak akan terwujud. Dan, benar pendapat sinikal yang beredar selama ini bahwa Liga Arab tak lebih dari sekadar klub perdebatan yang tak ada kekuatannya.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005711638
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger