Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 22 Maret 2014

TAJUK RENCANA Pertaruhan bagi Afganistan (kompas)

PEMILIHAN presiden di Afganistan, 5 April mendatang, bisa dikatakan sebagai pertaruhan bagi negeri yang jauh dari perdamaian itu.
Apakah pemilu mendatang—yang akan menandai transisi kekuasaan secara demokratik yang pertama—akan membawa Afganistan keluar dari lingkaran setan konflik berkepanjangan? Itu pertanyaan pertama. Atau sebaliknya: pemilu akan membuka semacam "kotak pandora" yang memunculkan berbagai persoalan yang selama ini bisa diredam meski tidak semuanya, antara lain karena hadirnya pasukan asing, seperti Amerika Serikat?

Berbagai pihak berharap pemilu akan menandai alih kekuasaan dan membawa kedamaian bagi Afganistan meski fakta dan kejadian di lapangan rasanya tidak mendukung. Kemarin, di harian ini diberitakan, Taliban menyerang kantor polisi di Jalalabad dan menewaskan sekurang-kurangnya 10 polisi dan seorang warga sipil.

Dua hari sebelumnya, serangan bom bunuh diri di Maimana, sebuah kota di Afganistan utara, menewaskan 17 orang. Seminggu sebelumnya, sejumlah orang bersenjata membunuh seorang wartawan radio Swedia. Masih banyak peristiwa penyerangan bersenjata yang akan memperpanjang litani pertumpahan darah dan melayangnya nyawa manusia.

Usaha untuk menciptakan perdamaian tak kurang-kurang dilakukan. Presiden Hamid Karzai, yang tidak mencalonkan lagi sesuai dengan ketentuan konstitusi karena ia sudah dua kali menjabat (12 tahun), berusaha menciptakan perdamaian dan stabilitas. Ia berusaha membangun rekonsiliasi nasional dengan mengajak Taliban untuk bersama terlibat dalam politik dan pemerintahan.

Akan tetapi, langkah Karzai itu ditentang oleh kelompok masyarakat sipil, terutama kaum perempuan yang sudah menikmati kebebasan sejak 2001. Mereka khawatir terlibatnya Taliban akan mengungkung kaum perempuan lagi. Padahal, rekonsiliasi nasional menjadi prasyarat terciptanya perdamaian dan stabilitas.

Taliban, yang sudah mengobarkan peperangan sejak tiga dasawarsa lalu, tetap merupakan tantangan bagi penciptaan perdamaian dan stabilitas. Mereka bahkan terang-terangan menentang pemilu yang dianggap sebagai rekayasa AS. Pemilu dianggap tidak sah, tidak ada landasan legitimasinya karena diselenggarakan di bawah arahan kekuasaan asing.

Terlepas dari berbagai permasalahan yang menghantui Afganistan—termasuk masalah korupsi dan nepotisme— pemilu mendatang memang menjadi taruhan. Pemilu—apabila berlangsung secara bebas, jujur, terbuka, aman, dan dapat dipercaya—ibarat pintu yang akan membawa Afganistan memasuki babakan baru. Karena itu, pemilu dan alih kekuasaan pada tahun ini akan sangat krusial bagi stabilitas Afganistan di masa mendatang.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005590641
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger