Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 19 Mei 2014

TAJUK RENCANA India Tatap Peluang Baru (Kompas)

KEMENANGAN Partai Bharatiya Janata pimpinan Narendra Modi dalam pemilu India disambut dengan gegap gempita di seluruh negeri.
Reaksi positif juga datang dari pasar karena Modi diharapkan akan segera membawa perbaikan terhadap kehidupan ekonomi India yang cenderung melesu dalam beberapa tahun terakhir. Hasil pemilu sendiri sesungguhnya tidak menimbulkan kejutan karena kemenangan Partai Bharatiya Janata (BJP) dan kekalahan Partai Kongres (I) yang berkuasa jauh hari sudah diramalkan.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, pemilu India 2014 praktis sudah setengah selesai sebelum dilaksanakan selama lima pekan dengan 500 juta pemilih. Tanda-tanda kemenangan BJP dan kekalahan Partai Kongres sudah terlihat jelas dalam berbagai jajak pendapat.

Kekalahan Partai Kongres (I) pimpinan Sonia Gandhi semakin menjadi pukulan berat karena seperti terwujud kampanye pemilu Modi yang ingin mengakhiri dominasi politik Dinasti Nehru selama 67 tahun di panggung politik India. Kekuasaan Partai Kongres (I) dengan PM Manmohan Singh selama 10 tahun terakhir banyak menimbulkan kekecewaan karena problem korupsi yang merebak luas di tubuh pemerintahan dan partai.

Sebagai dampaknya, kepercayaan terhadap pemerintahan Partai Kongres (I) merosot tajam. Sebaliknya, kepercayaan terhadap BJP pimpinan Modi melesat tinggi karena memberikan harapan dengan menjanjikan penciptaan lapangan kerja dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih serta efektif.

Dukungan terhadap BJP dan Modi termasuk fenomenal karena meraih 282 kursi parlemen, atau 10 kursi lebih banyak di atas ambang minimum 272 kursi untuk pembentukan pemerintahan sendiri. Dengan demikian, Modi akan menjadi PM dengan mendapat mandat terkuat dibandingkan pemimpin lain sejak Rajiv Gandhi dari Partai Kongres (I) menjadi PM tahun 1984. Rajiv mendapat simpati atas kasus pembunuhan ibunya, Indira Gandhi.

Kemenangan BJP dan Modi dapat dikatakan antara lain sebagai protes terhadap pemerintahan Partai Kongres (I) yang korup dan gagal menciptakan lapangan kerja. Namun, tantangan yang dihadapi Modi (63) tentu saja tidak kecil. Sudah disinggung soal korupsi dan penciptaan lapangan kerja di negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu.

Tidak kurang sensitifnya tentu saja prasangka ideologis yang membayangi pemerintahan Modi. BJP dan Modi diasosiasikan sebagai pendukung gerakan nasionalisme yang bersifat primordial Hinduistik. Namun, para pengamat umumnya berpendapat, kepercayaan rakyat terhadap pemerintah dan kepemimpinan Modi tidak pertama-tama akan ditentukan oleh kekuatan retorika ideologi, tetapi keberhasilan mendorong kemajuan dan kesejahteraan, lebih-lebih di era yang lebih pragmatis saat ini.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006705933
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger