Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 19 Mei 2014

TAJUK RENCANA: Pelambatan Pertumbuhan (Kompas)

MEMBALIKKAN pelambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini harus menjadi perhatian serius para calon presiden di tengah riuh menuju pilpres.
Pemerintah akan merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,5 persen dari target sebelumnya 6 persen. Sebelumnya, Bank Indonesia sudah merevisi perkiraan angka pertumbuhan ekonomi menjadi 5,1-5,5 persen. Hal ini, antara lain, terkait laporan Badan Pusat Statistik pada awal Mei, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 sebesar 5,21 persen dibandingkan dengan kuartal I-2013. Tiga tahun sebelumnya, tiap-tiap kuartal I ekonomi tumbuh di atas 6 persen.

Pemerintah dan BI akhir tahun lalu sepakat meredam pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan yang tinggi disebut sebagai penyebab nilai tukar rupiah merosot ketika terjadi guncangan di pasar keuangan dunia, yaitu ketika Bank Sentral AS mengatakan mengurangi stimulus keuangan di pasar dunia seiring perbaikan ekonomi dalam negeri AS.

Bank Indonesia menaikkan BI Rate atau suku bunga acuan BI menjadi 7,5 persen pada November 2013 untuk mengerem investasi dan defisit transaksi berjalan.

Apakah pertumbuhan yang menjadi lebih rendah dari perkiraan semula saat ini sudah sesuai target pemerintah dan BI? Berapa lama pertumbuhan rendah akan dipertahankan? Apa imbangan dari pertumbuhan yang lebih rendah itu dan bagaimana manfaatnya bagi Indonesia?

Pertanyaan di atas harus dijawab pemerintah saat ini dan tantangan bagi pemerintah mendatang.

Pemerintah akan mengajukan APBN Perubahan ke Dewan Perwakilan Rakyat tanggal 20 Mei besok, merevisi target pertumbuhan. DPR yang praktis sudah "selesai" masa tugasnya dengan usainya pemilihan legislatif harus tetap sungguh-sungguh mengawal APBN-P dan memastikan pilihan kebijakan adalah yang terbaik untuk rakyat.

Melambatkan pertumbuhan ekonomi memiliki risiko penciptaan lapangan kerja baru ikut menurun yang berarti bertambahnya jumlah penganggur. Begitu juga pengurangan orang miskin yang belakangan penurunan jumlahnya melambat.

Pelambatan pertumbuhan juga berisiko sulit menurunkan ketimpangan kesejahteraan yang kini terburuk sejak Indonesia merdeka, yaitu pada rasio gini 0,41. Kesenjangan juga terjadi antara Jawa-Sumatera dan pulau-pulau lain, antara kota dan desa, antara sektor pertanian dan nonpertanian.

Program kerja para capres harus menjawab berbagai tantangan di atas: ekonomi tumbuh tinggi, tetapi defisit transaksi berjalan terkendali. Pertumbuhan ekonomi harus diikuti pemerataan dan tidak merusak lingkungan, memastikan Indonesia berdaulat dalam pangan dan energi.

Rakyat perlu tahu program kerja para calon presiden. mengawasi pelaksanaan janji-janji kampanye mereka, dan menagih janji-janji itu apabila presiden terpilih berkuasa.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006703475
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger