Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 25 November 2014

TAJUK RENCANA: Ujian Terakhir bagi Tunisia (Kompas)

APAKAH Tunisia akan mampu lolos dari tes terakhir untuk bisa masuk ke "rumah demokrasi?" Pertanyaan itu pantas diajukan saat ini.
Minggu lalu, Tunisia—pengobar revolusi Musim Semi Timur Tengah—menyelenggarakan pemilihan umum presiden. Inilah pemilu presiden pertama sejak Presiden Zine al-Abidine Ben Ali dipaksa turun oleh rakyat pada tahun 2011. Yang lebih penting lagi, inilah pemilu presiden pertama yang langsung, bebas, dan adil sejak Tunisia lepas dari penjajahan Perancis pada tahun 1956. Karena itu, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pemilu hari Minggu lalu adalah bersejarah.

Karena itu, sangat wajar kalau rakyat negeri berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu sangat antusias mengikuti pemilu. Ada 27 calon presiden yang bertarung memperebutkan kepercayaan dari rakyat untuk memimpin negeri penyulut perlawanan rakyat terhadap penguasa yang otoriter, penguasa yang hanya mengutamakan kepentingan sendiri, keluarganya, dan kelompoknya itu.

Apabila pemilu benar-benar berlangsung aman dan damai, serta kemudian berhasil memilih seorang presiden baru yang didukung seluruh rakyat, diakui kemenangannya oleh lawan-lawannya serta partai-partai politik, maka Tunisia pantas memasuki "rumah demokrasi". Dalam bahasa ilmuwan Samuel Huntington, sebuah negara dapat dikatakan menjadi negara "consolidated democracy" hanya manakala telah melakukan transisi kekuasaan secara damai.

Sebuah demokrasi disebut "consolidated", menurut Juan Linz, manakala sebagian besar rakyatnya menerima
institusi demokrasi yang ada adalah sah dan relatif tidak dipersoalkan. Akan tetapi, ini juga berarti bahwa harus ada budaya demokrasi yang kuat di negeri itu. Selain itu, pada umumnya, rakyat percaya pada prinsip-prinsip demokrasi dan ambil bagian dalam berbagai aspek masyarakat madani. Rakyat aktif secara sukarela.

Bagaimana dengan Tunisia? Negeri itu telah lolos dari tes pertama, yakni melaksanakan pemilihan anggota parlemen secara aman dan damai, beberapa waktu lalu. Dan, tes kedua adalah pemilihan presiden kali ini.

Setelah berhasil menggelar pemilu parlemen secara aman dan damai serta hasilnya diterima semua pihak, bisa dikatakan Tunisia relatif lebih sukses dibandingkan Mesir yang sama-sama digulung revolusi Musim Semi. Setelah revolusi, Mesir masih terus berdarah-darah, sementara Tunisia tidaklah demikian. Bahkan, hingga kini, Mesir masih belum mampu menata diri sepenuhnya.

Andaikata, pada akhirnya nanti, Tunisia benar-benar lolos dari "semua tes tahapan demokrasi", sangat menarik dan penting untuk dicatat serta dijadikan contoh, terutama oleh negara-negara di Timur Tengah, tentang bagaimana membangun "rumah demokrasi".

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010296186
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger