Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 08 April 2015

TAJUK RENCANA: Radikalisme Bukan Jawaban (Kompas)

Mengapa jalan kekerasan, cara radikal, dipilih oleh Al-Shabab untuk memuaskan nafsu radikalisme mereka, untuk melampiaskan dendam mereka?

Hari Kamis pekan lalu, mereka menyerang Garissa University College di Kenya. Serangan itu menewaskan 148 mahasiswa dan melukai lebih dari 70 orang lainnya. Aksi tidak manusiawi terhadap para mahasiswa, masa depan Kenya, itu seperti mengulang aksi mereka yang juga tidak manusiawi terhadap pengunjung mal di Nairobi pada September 2013.

Ketika itu, kelompok militan-radikal Al-Shabab menyerang Mal Westgate di Nairobi. Mereka membunuh 67 pengunjung mal dan melukai sekitar 200 orang lainnya. Inilah serangan paling berdarah sekaligus sangat mematikan sejak serangan bom ke Kedubes AS di Nairobi pada tahun 2008 yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Pertanyaan klasiknya adalah mengapa jalan kekerasan, jalan berdarah-darah, cara-cara yang menjunjung tinggi ideologi radikalisme, itu mereka pilih? Apakah tidak ada pilihan lain dalam menyelesaikan persoalan atau mewujudkan cita-cita mereka?

Kelompok Al-Shabab menyatakan serangan ke Garissa itu sebagai pembalasan atas partisipasi Kenya dalam pasukan Uni Afrika, untuk membantu Somalia menghadapi Al-Shabab. Mereka juga menuntut penggabungan Kenya utara yang penduduknya adalah etnik Somalia.

Apa pun alasannya, serangan atas nama apa pun, tentu tindakan Al-Shabab dan juga Boko Haram di Nigeria tidak bisa dibenarkan. Apalagi kalau tindakan itu mereka sebut atas nama agama. Mengapa hal itu tidak bisa dibenarkan? Agama apa pun tidak mengajarkan tindak kekerasan, tindak yang mengangkangi nilai-nilai kemanusiaan, tindak yang melanggar kemanusiaan. Semua agama mengajarkan perdamaian.

Kenya, negeri berpenduduk sekitar 45 juta jiwa dan pernah disebut sebagai negara paling demokratis di Afrika itu, tengah menghadapi persoalan berat di dalam negeri: korupsi. Korupsi merajalela di negeri itu. Lembaga terkorup di Kenya adalah kepolisian. Kenya menempati urutan ke-145 dari 174 negara terkorup di dunia menurut Transparency International's Global Corruption Perception Index.

Namun, apakah korupsi, ketidakadilan, pengangguran, kemiskinan, ketimpangan sosial, serta masalah etnis dan agama harus dihadapi serta diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, dengan menghalalkan segala cara, bahkan membunuh sesama yang tidak berdosa?

Tentu cara seperti itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Kekerasan akan melahirkan kekerasan. Lingkaran kekerasan, perang hanya bisa diselesaikan lewat jalan politik: duduk bersama, dialog, membangun saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 April 2015, di halaman 6 dengan judul "Radikalisme Bukan Jawaban".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger