Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 18 Juni 2015

TAJUK RENCANA: Kemunduran Terbesar NIIS (Kompas)

Bendera dan spanduk kuning pejuang Kurdi terlihat berkibar di kota perbatasan Tel Abyad, jalur utama suplai Negara Islam di Irak dan Suriah.

Pejuang Kurdi yang tergabung dalam Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dibantu milisi-milisi kecil oposisi Suriah dan serangan udara pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat telah menguasai Tel Abyad sepenuhnya, Selasa (16/6) dini hari.

Pada 11 Juni lalu, pejuang Kurdi dan oposisi Suriah menjepit Tel Abyad dari arah barat daya dan tenggara, sementara koalisi pimpinan Amerika Serikat menyerang dari udara. Gerak maju pejuang Kurdi, oposisi Suriah, dan serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat itu membuat milisi NIIS terdesak dan menyingkir dari kota perbatasan itu. Tidak sampai lima hari Tel Abyad dikuasai penuh.

Tel Abyad adalah pintu gerbang dari Turki menuju Raqqa, ibu kota de factoNIIS. Lewat Tel Abyad, milisi-milisi asing dan senjata masuk ke Suriah untuk memperkuat NIIS. Lewat kota perbatasan itu pula NIIS mengekspor minyak ke pasar gelap.

Itu sebabnya, jatuhnya Tel Abyad ke tangan pejuang Kurdi dan oposisi Suriah disebut sebagai kemunduran terbesar NIIS. Memang NIIS masih menguasai wilayah Suriah di pintu perbatasan Jarablus, Aleppo, tetapi pintu perbatasan itu telah tertutup dari arah Turki. Beberapa jalur perbatasan informal lainnya masih terbuka, tetapi tidak ada satu pun yang sestrategis Tel Abyad.

Kemunduran terbesar NIIS itu sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa NIIS bisa dikalahkan. Dan, kita mengharapkan, kemunduran besar yang dialami NIIS itu akan membuat rasa takut terhadap NIIS akan jauh berkurang.

Di Irak pun, sesungguhnya NIIS juga dapat dikalahkan. Asalkan Pemerintah Irak yang didominasi kaum Syiah mau membuka diri terhadap kaum Sunni dan etnis Kurdi. Selama Pemerintah Irak tidak mau membuka diri terhadap kaum Sunni dan etnis Kurdi, sulit bagi Pemerintah Irak mengalahkan milisi-milisi NIIS.

Namun, kita mengingatkan bahwa perang melawan NIIS itu tidak berlangsung di wilayah yang kosong, tetapi di wilayah yang padat penduduknya. Itu sebabnya, pihak-pihak yang berperang perlu menjaga agar penduduk yang tidak berdosa tidak menjadi korban dalam perang melawan NIIS.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah warga yang terpaksa mengungsi akibat perang melawan NIIS. Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) mencatat 23.000 orang mengungsi dari Suriah ke Turki akibat pertempuran di Tel Abyad.

Kita perlu mengingatkan, dalam setiap peperangan, yang paling merasakan akibatnya adalah rakyat biasa.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Kemunduran Terbesar NIIS".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger