Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 23 Juni 2015

TAJUK RENCANA: Membangun Jakarta yang Beradab (Kompasy

Bersamaan dengan bulan puasa, perayaan acara puncak HUT ke-488 kota Jakarta, 22 Juni kemarin, terasa lebih sepi dibandingkan tahun lalu.

Sejumlah acara yang tahun lalu ditunggu sebagai pesta rakyat tahun ini porsinya diperkecil. Akan tetapi, hari jadi sebagai kesempatan introspeksi, mempertanyakan tujuan dan pertanggungjawaban sebagai titik tolak perbaikan ke depan, tetap perlu diberi perhatian ekstra.

Pekerjaan rumah yang disampaikan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Mohamad Taufik perlu mendapat perhatian. PR besar itu adalah pembangunan Jakarta bisa berjalan. Menurut Taufik, pembangunan Jakarta berjalan seret, salah satu sebabnya, satuan kerja perangkat daerah seperti takut melangkah.

Tentu tidak sesimpel itu penyebab seretnya pembangunan. Banyak faktor menjadi penyebab, di antaranya berlarut-larutnya konflik antara Dewan dan Gubernur Jakarta terkait pencairan anggaran, persaingan kepentingan politik yang belum selesai, dan berbagai persoalan lain menyangkut posisi Jakarta sebagai ibu kota negara dan provinsi sekaligus.

Dengan merujuk kesaksian sehari-hari, pembangunan relatif jalan, kok! Penilaian umum itu setidak-tidaknya terlihat dari pembangunan fisik dan infrastruktur. Masalah kemiskinan, kemacetan, buruknya sarana transportasi, dan buruknya infrastruktur terurai pelan-pelan.

Berbagai wilayah peruntukan yang disalahgunakan dan waduk yang dipadati penghuni liar dikembalikan ke fungsi asalnya. Begitu juga perbaikan sarana kepentingan umum, seperti kebijakan transportasi massal cepat yangmangkrak, program kesehatan, pembenahan sektor keamanan, dan perwujudan kawasan terpadu, yang arahnya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya.

Menyebut beberapa contoh keberhasilan, semata-mata menyampaikan penilaian publik. Perbaikan justru berarti ketika kita menyampaikan keberhasilan sekaligus kegagalan, berlanjut ke akseptabilitas dan perbaikan. Dengan demikian, introspeksi tidak jatuh jaditodologi, asal bunyi, atau demi kepentingan politik kelompok.

Salah satu masukan masyarakat ialah Gubernur Basuki Tjahaja Purnama sebaiknya mempertimbangkan faktor komunikasi politik. Di negeri ini, apalagi sudah diwarnai sentimen politik dan latar belakang, buruknya komunikasi rentan jadi bumerang.

Membangun Jakarta sebagai kota yang beradab berarti membangun sebuah komunitas yang serba majemuk dengan diakuinya hak-hak asasi dan kemaslahatan warga. Komunikasi yang bagus bertujuan praktis memperoleh dukungan dan simpati publik, tujuan jangka panjangnya demi terciptanya sebuah kota metropolitan yang beradab dan berbudaya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Membangun Jakarta yang Beradab".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger