Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 23 Juni 2015

TAJUK RENCANA‎: Yunani di Ujung Tanduk (Kompas)

Nasib ekonomi Yunani dan masa depan keanggotaannya di Uni Eropa segera ditentukan pada pertemuan darurat pemimpin Eropa di Brussels, Senin.

Dengan kian mendekatnya waktu jatuh tempo utang negara itu kepada kreditor, peluang dicapainya kesepakatan menyangkut persyaratan pencairan dana talangan baru pun kian menipis. Bukan hanya IMF, pemimpin Eropa pun mulai kehilangan kesabaran terhadap Yunani yang masih terus berusaha melakukan tawar-menawar.

Dalam upaya terakhir mendobrak kebuntuan, Yunani menjanjikan proposal baru kepada kreditor yang terdiri dari Bank Sentral Eropa (ECB) dan kreditor Eropa lain. Negara ini juga menolak bantuan baru dari IMF.

Sikap alergi Yunani terhadap IMF bisa dipahami. Sebagai bangsa yang pernah berurusan dengan IMF pada krisis finansial 1997/1998, kita sangat paham cara kerja program talangan multilateral selama ini. Ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, pernah mengkritik, kebijakan pengetatan yang diresepkan IMF di masa krisis tak menolong ekonomi, sebaliknya justru memperparah krisis.

Persoalannya, dalam kasus Yunani, kebijakan pengetatan bukan hanya tuntutan IMF, melainkan juga Jerman dan ECB sebagai kreditor lain Yunani. Artinya, keputusan Yunani menolak bantuan IMF tak otomatis akan memuluskan persetujuan bagi pengucuran trancheterakhir dana talangan 2,7 miliar euro.

Kita melihat posisi PM Yunani Alexis Tsipras kian terjepit. Di dalam negeri dia menghadapi partainya sendiri dan rakyatnya untuk menolak program pengetatan yang kian menyengsarakan rakyat dan membuat ekonomi terpuruk. Sementara keluar dia harus menghadapi tekanan kreditor untuk menerima syarat talangan, termasuk kebijakan pemotongan pensiun dan kenaikan pajak.

Menolak opsi ini otomatis menutup peluang pencairan talangan dan membawa Yunani pada gagal bayar. Bukan hanya keanggotaan Yunani di UE yang dipertaruhkan di sini, melainkan juga nasib pemerintahannya, karena tanpa dana talangan baru pemerintah akan lumpuh, tak bisa menggaji pegawai dan pensiunannya.

Utang jatuh tempo per Juni 6,74 miliar euro, termasuk 1,6 miliar euro utang ke IMF. Nasib utang yang jatuh tempo bulan-bulan berikutnya lebih tak jelas lagi. Gagal bayar utang akan menutup akses Yunani ke dana segar pinjaman lain, baik dari kreditor resmi maupun pasar surat utang.

Krisis perbankan di depan mata. Kepanikan memicu penarikan dana besar-besaran dari bank dan negara itu, dan kemungkinan memaksa Yunani menerapkan kontrol modal. Dengan kian menipisnya peluang titik temu dengan kreditor, spekulasi keluarnya Yunani dari UE meningkat.

Kekhawatiran sekarang ini adalah terjadinya penularan (contagion) ke perekonomian lemah UE lainnya. Aksi demo mendukung Yunani mulai muncul di sejumlah kota Eropa. Interdependensi ekonomi membuat gagal bayar Yunani bakal memunculkan guncangan pada ekonomi zona euro lain, kendati mungkin tak berkepanjangan. Perkembangan Yunani juga mempersuram prospek ekonomi global.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Yunani di Ujung Tanduk"


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger