Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 21 Agustus 2015

Impor Artis dan Daging Sapi//Indonesia Mulia//Telah Dihubungi (Surat Pembaca Kompas)

Impor Artis dan Daging Sapi

Katheryn Elizabeth Hudson (Katy Perry) memukau penonton di ICE, BSD City, Tangerang, Sabtu, 9 Mei 2015, berarti Katy berhasil "menggangsir" dollar dari Indonesia.

Sukses Katy diikuti One Direction, Boyzone, pianis Richard Clayderman, dan penyanyi gaek Michael Bolton. Konon sebentar lagi menyusul "pengail" devisa lainnya: Don Bon Jovi, Chris Brown, dan lain-lain. Tampaknya rakyat merasa lebih nyaman bila semua kebutuhan hidup didapat dari luar negeri, tanpa sedikit pun menyadari bahwa orientasi impor menurunkan kredibilitas negara, meluluhlantakkan nilai rupiah, dan mengempaskan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Setali tiga uang dengan rakyatnya, para pemimpin sering mengatakan "impor sebagai pilihan terakhir", tapi dalam praktik, pilihan terakhir justru didahulukan diiringi kalimat "demi mencukupi kebutuhan pangan rakyat, pemerintah segera melakukan impor daging sapi, kacang kedelai, garam, dan lain-lain."

Mengapa pemerintah tergopoh-gopoh ingin mengimpor daging sapi dan sapi hidup demi memenuhi kebutuhan rakyat yang, maaf, "tak tahu diri itu"? Mengapa rakyat dimanja terus dengan hal yang justru bisa semakin melemahkan fundamental negara?

Mengapa kita tak maksimalkan semua elemen negara yang dibiayai sangat mahal seperti Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, atau Institut Pertanian Bogor. Mengapa mereka "tidur"?

Impor telah menggerogoti kedaulatan bangsa dan meremehkan eksistensi negara di mata dunia. Saatnya kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita bangsa besar yang tidak antibarang impor, tetapi sangat menjunjung tinggi dan mengutamakan produk dalam negeri.

Demi martabat bangsa dan stabilitas rupiah, mari kita stop impor, setidaknya dimulai dengan tidak menonton artis asing yang manggung di Indonesia dan mengurangi—atau bahkan kalau perlu—berhenti mengonsumsi daging sapi.

ZULKIFLY

PONDOK PEKAYON INDAH, BEKASI SELATAN, JAWA BARAT


Indonesia Mulia

Setelah membaca surat Noor Johan Nuh di Kompas (15/8), "Syair 'Indonesia Raya'", dalam menyambut 70 tahun kemerdekaan Indonesia, saya memberanikan diri menyampaikan usul perubahan pada syair lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Sesudah 70 tahun Indonesia tercinta merdeka, sudah saatnya kita kembali ke nas asli refrein lagu kebangsaan (Sumpah Pemuda 1928): Indonesia Raya mulia, mulia, tanahku, negeriku yang kucinta; Indonesia Raya mulia, mulia, hiduplah Indonesia Raya.

Cita-cita merdeka sudah tercapai 70 tahun yang lalu. Sudah 70 tahun kita mengumumkan ke seluruh dunia melalui lagu kebangsaan itu bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka. Sudah 70 tahun, melalui lagu kebangsaan itu, memberitahukan anak-cucu generasi penerus bahwa dulu bangsa kita terjajah dan 70 puluh tahun yang lalu Indonesia bebas dari penjajahan.

Tugas dan cita-cita angkatan sekarang sebaiknya beralih dari pekik "merdeka" ke pemuliaan Ibu Pertiwi, bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. Selama 70 tahun, kemuliaan Ibu Pertiwi sangat terpuruk dan hampir sirna karena dinodai dan digerogoti para koruptor, teroris, pemberontak, mafia ekonomi, spekulator, tengkulak, illegal logging, illegal fishing, drug and human traffickers, dan berbagai perusak lainnya.

Sudah waktunya kita bangkit menegakkan kembali kemuliaan Ibu Pertiwi, martabat bangsa dan negara, sehingga anak-cucu, generasi penerus akan merasa bangga mewarisinya. Karena itulah, saya memberanikan diri mengusulkan mengganti kata merdekadengan mulia pada refrein lagu kebangsaan kita menjadi seperti dicatat di atas sebagai tekad kita menegakkan kembali dan menjunjung tinggi kemuliaan Ibu Pertiwi.

MIKA PANUSUNAN LUMBANTOBING

JALAN CUMI-CUMI I/27, RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR


Telah Dihubungi

Sehubungan dengan keluhan Ibu Atas Sariwulan di rubrik Surat kepada RedaksiKompas (10/8), "Debet Tanpa izin", kami telah menghubungi yang bersangkutan untuk memberi penjelasan dan menyelesaikan masalah yang terungkap dalam surat tersebut.

Saat ini, Ibu Atas Sariwulan sudah tidak mempermasalahkannya. Terima kasih.

HERU SULISTIADHI

SEKRETARIS PERUSAHAAN PT BANK MEGA TBK

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Agustus 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger