Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 20 Agustus 2015

Shinkansen dan 70 Tahun RI//Jakarta-Bandung Perlu Supercepat?//Informasi tentang Tagihan Telkom (Surat Pembaca Kompas)

Shinkansen dan 70 Tahun RI

Dalam suasana 70 tahun RI, terbetik berita mengenai akan dibangun kereta api peluru ala Shinkansen untuk Jakarta-Bandung. Ini mengingatkan saya pada peristiwa kecil 20 tahun lalu ketika para guru teladan seluruh Indonesia diundang ke Jakarta merayakan HUT Ke-50 RI.

Selain menyaksikan upacara di Istana Merdeka dan bersalaman dengan Presiden, tiap guru teladan itu diberi kesempatan diantar ke tempat yang sudah lama diinginkan. Guru teladan dari Manado tak minta diantar melihat yang hebat-hebat di Jawa. Ia hanya mau ke Stasiun Gambir. Setiba di Gambir, dia ingin melihat rel dan, yang paling penting, minta dibiarkan sendiri mendekati lokomotif besar. Lokomotif itu dikelilinginya, ragu-ragu disentuhnya, diusapnya, dan direnunginya beberapa menit. Ketika berbalik, kelihatan dia terharu dan lega. Ada apa?

"Bayangkan, Bapak," katanya. "Selama berpuluh tahun saya sebagai guru harus menjelaskan kepada murid-murid saya tentang kereta api. Banyak pertanyaan. Bagaimana satu lokomotif mampu menarik puluhan gerbong berisi banyak orang, barang, dan ternak dari ujung ke ujung Pulau Jawa? Itu sarana yang penting yang, katanya, membuat ekonomi dirasakan rakyat banyak. Padahal, kereta api itu tidak ada di seluruh Sulawesi. Dan saya tidak bisa menerangkan mengapa tidak ada. Guru teladan apa saya ini?"

Saya tidak tahu apakah pak guru itu masih mengajar di Manado. Kalau masih, dia kini harus menambahkan keterangan mengapa kereta api masih belum ada di sana, padahal di Jawa yang sudah ada saja masih akan dibangun lagi. Mungkin nanti dia harus datang lagi ke Jakarta melihat kereta peluru ala Shinkansen, yang makin sulit dijelaskan kepada para siswanya.

M ALWI DAHLAN

PROGRAM PASCASARJANA UI, JALAN SALEMBA 4, JAKARTA PUSAT

Jakarta-Bandung Perlu Supercepat?

Sebagai salah satu solusi menanggulangi kemacetan yang makin parah di beberapa daerah, sekarang baru disadari bahwa kereta api merupakan jalan keluar yang terbaik (Kompas, 11/8). Yang paling menarik adalah proposal yang diajukan Jepang dan Tiongkok untuk membangun kereta supercepat antara Jakarta dan Bandung (Kompas, 12/8).

Berdasarkan dua proposal yang tampaknya bersaing itu, waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 36 menit dengan laju yang sama: 320 kilometer per jam. Nah, siapakah yang membutuhkan kereta supercepat ini? Yang pasti bukan orang biasa, melainkan orang-orang yang memiliki kebutuhan sangat mendesak. Nah, berapa banyak orang-orang yang mempunyai kebutuhan mendesak? Di samping itu, waktu tempuh menuju stasiun kereta api mungkin berjam-jam karena lalu lintas yang macet.

Maka, dapat diperkirakan bahwa kereta supercepat tidak membawa manfaat bagi masyarakat kebanyakan, kecuali mungkin untuk jarak jauh seperti Jakarta-Surabaya. Barangkali!

DJOHAN SURYANA

JALAN TANJUNG 12 BLOK C NOMOR 2, PERUMAHAN RANCHO INDAH, TANJUNG BARAT, JAKARTA SELATAN

Informasi tentang Tagihan Telkom

Setelah melalui proses yang, menurut saya, sangat lama dan tidak profesional-selama sebulan, 1 Juni-3 Juli 2015-akhirnya paket Indihome dari Telkom terpasang di rumah saya. Lagi-lagi saya mengalami ketidakprofesionalan Telkom dalam hal informasi tagihan bulanan.

Begitu paket Indihome aktif, saya menghubungi 147 memohon agar tagihan bulanan dikirimkan ke alamat surel saya. Pada 5 Agustus 2015, saya menghubungi 147 untuk memastikan informasi tagihan dikirim ke alamat surel saya. Tiga hari kemudian, kembali saya menghubungi 147 karena belum mendapat informasi tagihan dan-anehnya-alamat surel saya belum tercatat di Telkom, padahal sudah saya informasikan sejak Juli 2015.

Dengan nomor pengaduan 100 5110878, hingga 14 Agustus, saya belum juga menerima informasi tagihan Telkom (akan jatuh tempo pada tanggal 20 tiap bulan). Memang saya sempat ditelepon pihak Telkom yang menginformasikan jumlah tagihan Agustus 2015. Namun, sebagai konsumen, saya berhak tahu rincian tagihan saya tiap bulan. Yang membuat saya sangat tak bisa mengerti adalah mengapa Telkom tak bisa mengirim tagihan bulanan melalui surel. Bukankah seharusnya Telkom sudah maju dalam teknologi? Mengapa mengirim tagihan melalui surel sangat lama?

INDRAWAN

JALAN RAWAMANGUN MUKA BARAT NOMOR 20, JAKARTA TIMUR

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Agustus 2015, di halaman 7 dengan judul "Shinkansen dan 70 Tahun RI".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger