Dua permasalahan besar dibahas dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G-20 di mana Indonesia menjadi anggota. Pertama, rencana bank sentral AS menaikkan suku bunga yang menyebabkan tekanan pada negara ekonomi bertumbuh cepat (emerging markets). Kedua, mengatasi pelemahan nilai tukar mata uang negara-negara ekonomi bertumbuh terhadap dollar AS.
Meski demikian, tak ada keputusan yang mengarah pada pembalikan keadaan. Kantor berita Reuters memberitakan, tak ada usulan konkret di pertemuan itu agar bank sentral AS menunda kenaikan suku bunga hingga awal tahun. Juga tidak ada usulan mencegah merosotnya nilai tukar mata uang negara berkembang terhadap dollar AS.
Republik Rakyat Tiongkok sebagai ekonomi kedua terbesar, meskipun tak mengalami krisis, berada dalam tekanan untuk mengatasi perlambatan ekonomi dalam negeri. Senin lalu, Pemerintah RRT merevisi tingkat pertumbuhan tahun ini menjadi 7,3 persen dari 7,4 persen. IMF memperkirakan pertumbuhan RRT akan 6,8 persen tahun ini.
Indeks bursa Shanghai turun 40 persen sejak Juni tahun ini. Senin lalu, indeks turun lagi 2,55 persen menjadi 3.079,70. Pertengahan Agustus, bank sentral Tiongkok mendevaluasi yuan 3 persen. Langkah itu menyebabkan harga saham dan pasar komoditas di pasar global anjlok.
RRT berjuang mempertahankan merosotnya nilai tukar yuan dengan mengintervensi pasar hingga 93,9 miliar dollar AS, Agustus lalu. Cadangan devisa RRT masih 3,56 triliun dollar AS pada akhir Agustus, sepertiga dari seluruh cadangan devisa yang dikuasai bank sentral dunia.
Akibatnya, cadangan devisa bank sentral dunia turun menjadi 11,43 triliun dollar AS dari jumlah terbesar 11,98 triliun dollar AS pada pertengahan 2014. Hal itu dapat berakibat pada meningkatnya ketidakpastian ekonomi karena menurunnya cadangan devisa bank sentral dapat menyebabkan pengetatan pinjaman perbankan dan meningkatkan imbal hasil obligasi.
Setelah pertemuan pekan lalu, situasi negara emerging markets anggota G-20 belum membaik. Situasi itu juga melingkupi negara lain di luar 20 negara anggota G-20. Hingga saat ini, belum terlihat langkah untuk mengoordinasikan kebijakan moneter dua ekonomi terbesar dunia, AS dan RRT.
Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap keluarnya dana asing karena sektor keuangan kita belum dalam sehingga pendanaan kegiatan ekonomi mengandalkan pasar uang global. Menghadapi gejolak keuangan global, pendalaman segera sektor keuangan dalam negeri menjadi hal yang tidak dapat ditawar lagi.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Kabar Suram dari Pertemuan G-20".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar