Selanjutnya kita baca bahwa di kolam latihan dan kolam loncat indah, air berwarna hijau tua dan berlumut. Sementara keramik lantai stadion dan tribune penonton pecah berantakan. Ada juga velodrom dengan halaman megah, tetapi penuh sampah dan rumput liar tumbuh subur.
Itulah sekadar ilustrasi dari sejumlah arena olahraga di Kalimantan Timur dan Riau yang dulu dibangun dengan dana triliunan rupiah. Dilaporkan pula, Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang direncanakan untuk pekan olahraga nasional di Jawa Barat tahun 2016 juga rusak.
Apa yang dapat kita beri komentar tentang kondisi seperti itu? Kita bisa mengatakan, itulah kita: bisa membangun, tetapi tak bisa merawat. Sesungguhnya kita bisa menulis banyak catatan lain. Kemarin kita juga membaca, itu menjadi bukti bahwa perencanaan olahraga kita buruk. Ini tentu bukan catatan yang membesarkan hati, justru ketika esok, 9 September, kita memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas).
Sekadar tak bisa merawat fasilitas olahraga, meski buruk, barangkali masih lebih mudah diingatkan. Yang kita khawatirkan adalah hal itu juga menjadi simbol ketidakpedulian kita pada olahraga dan pembinaannya.
Sedikitnya kita bisa mencatat tiga faktor keberhasilan olahraga. Pertama, adanya bibit yang baik dan mendapat latihan yang baik; adanya program pembinaan yang baik (di dalamnya bisa berwujud pada dukungan pada atlet untuk mengikuti pertandingan berkelas); dan tersedianya fasilitas olahraga yang baik sebagai panggung untuk berlatih dan mempertontonkan capaian dalam kompetisi bermutu.
Kita harus mengatakan, program pembinaan olahraga kita sejauh ini tidak mencapai target yang kita dambakan. Satu-dua atlet bulu tangkis masih bisa menjadi juara, tetapi pamornya tak seperti dulu lagi, saat pebulu tangkis Indonesia sering merajai All England. Apalagi sepak bola. Alih-alih membanggakan, perjalanannya diliputi kemelut organisasi yang tak jarang membuat kita prihatin.
Haornas mestinya bisa menjadi momentum untuk kita merenung, menemukan kembali ruh olahraga. Kita juga bertanya, masih adakah tekad kita untuk mencapai prestasi yang dilambangkan dalam moto Olimpiade,citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat)?
Lebih dari sekadar prestasi, olahraga juga jadi simbol hidup sehat yang kini banyak dihayati individu masyarakat. Lebih jauh lagi, melalui olahraga dapat dikembangkan jiwa sportif, fair, menerima menang-kalah sebagai hasil ketekunan berlatih dan cermin tingkat keunggulan bakat. Bersama seni, yang menghaluskan budi, olahraga diakui sebagai elemen pembangun karakter unggul.
Menelantarkan stadion dan tidak mengurus fasilitas olahraga jelas berlawanan dengan semangat meningkatkan kualitas bangsa. Seberapa jauh kita menganggap olahraga sebagai hal penting untuk membawa bangsa lebih berjaya.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Komitmen Olahraga Kita".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar