Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 12 September 2015

TAJUK RENCANA: Menguji Partai Berkuasa di Singapura (Kompas)

Pemilihan umum di Singapura, yang dilaksanakan Jumat (11/9) kemarin, merupakan ujian bagi partai yang berkuasa, Partai Aksi Rakyat atau PAP.

PAP berkuasa sejak tahun 1959. Mereka menguasai parlemen. Pada pemilu terakhir, 2011, dari 87 kursi di parlemen yang diperebutkan, PAP berhasil merebut 86 kursi, enam kursi lainnya dimenangi Partai Pekerja (PW). Itu berarti tidak semua kursi dapat dikuasai PAP. Hal tersebut dicatat sebagai babak baru bagi partai oposisi yang berhasil memperoleh kepercayaan dari rakyat.

Waktu itu sudah muncul analisis bahwa hasil pemilu tersebut merupakan isyarat awal bahwa dominasi politik PAP yang berlebihan dianggap sudah harus dikoreksi. Atau, dengan kata lain, dibutuhkan penyeimbang—yang dalam term politik di Indonesia sering disebut sebagai partai penyeimbang—agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Oleh karena—meminjam istilah yang digunakan Lord Acton, power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely—kekuasaan cenderung korup.

Memang, selama berkuasa, PAP tidak tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaan. Singapura di tangan PAP, dan di bawah komando pemimpin karismatis Lee Kuan Yew yang meninggal beberapa bulan silam, menjadi negara yang maju, bersih dari korupsi, memiliki disiplin tinggi, tertib, dan meritokrasi. Lee Kuan Yew mampu mengajak rakyatnya untuk bekerja keras, memiliki determinasi yang tinggi untuk selalu menjadi yang terbaik.

Akan tetapi, zaman telah berubah. Sudah muncul generasi baru di Singapura. Generasi baru inilah yang sekarang menantang (challenged) cara-cara lama yang diterapkan oleh PAP selama ini. Mereka adalah generasi teknologi, yang melek akan teknologi, yang berlimpah informasi karena memang mudah mendapatkannya. Mereka ini generasi yang hidup di zaman keterbukaan. Generasi inilah yang kini menghendaki lebih banyak kebebasan (dalam bidang politik dan juga hak-hak sipil lainnya), hak berbicara dan berkumpul serta berserikat, dan tentu saja menghendaki transparansi.

Kini, Singapura melangkah ke 50 tahun kedua. Rakyat sadar bahwa Singapura membutuhkan jalan baru, di zaman yang serba terbuka ini. Rakyat membutuhkan ide-ide baru yang muncul dari perdebatan para wakil rakyat dari beberapa partai di parlemen; bukan satu partai.

Apa pun hasil pemilu kemarin adalah cerminan dari kehendak rakyat, dan sikap rakyat kepada PAP. Oleh karena, para pemilih, rakyat Singapura, lewat pemilu kemarin tidak hanya memilih siapa yang akan memerintah Singapura untuk satu periode pemerintahan ke depan, tetapi juga memilih para pemimpin yang akan bekerja bagi rakyat Singapura untuk 15 hingga 20 tahun ke depan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Menguji Partai Berkuasa di Singapura".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger