Menurut berita yang dimuat di harian ini kemarin, Juncker di depan sidang Parlemen Eropa, di Strasbourg, Perancis, Rabu, mengingatkan bahwa dulu Eropa merupakan benua tempat hampir semua penduduknya menjadi pengungsi. Ia juga mengingatkan akan sejarah bangsa Eropa yang pada suatu masa, dahulu, ramai-ramai mengungsi ke benua baru, Amerika, dan sekarang menjadi bangsa Amerika. Mereka banyak yang berasal dari Eropa.
Pernyataan Juncker itu begitu bermakna ketika sekarang Eropa kebanjiran ribuan pengungsi dari Asia dan Afrika, dari negara-negara yang dilanda krisis karena perang, dan dari negara-negara yang nyaris tidak ada lagi sepetak tempat pun yang aman untuk hidup. Pernyataan itu juga sangat mengena ketika masih terjadi perdebatan tentang apakah mereka akan menerima pengungsi yang membanjir tersebut dengan tangan terbuka atau karena keterpaksaan. Berapa banyak migran yang akan mereka terima, sementara arus migran terus tak berhenti.
Apa yang dikatakan Juncker semestinya membuka pikiran dan hati, tidak hanya para pemimpin negara-negara Eropa, tetapi juga rakyatnya, sampai kepada kesadaran baru bahwa apa yang dialami para migran pernah dahulu kala dialami oleh nenek moyang mereka. Sejarah sepertinya berulang. Kini, bangsa-bangsa Eropa harus memahami dan mengartikan sejarah baru itu.
Tidak ada seorang pun yang menginginkan dirinya menjadi pengungsi; meninggalkan negerinya dan mencari penghidupan baru di negeri orang. Adalah keadaan yang memaksa mereka meninggalkan kampung halaman dan bermigrasi ke Eropa. Ratusan ribu orang bergerak ke Eropa untuk menghindarkan diri dari menjadi korban perang saudara dan pembunuhan oleh kelompok bersenjata yang menyebut dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah serta kelompok-kelompok bersenjata lain.
Kita berharap apa yang dikatakan Juncker akan segera terlihat dampaknya: para pemimpin negara dan rakyat di negara-negara Eropa mengubah sikap dalam menghadapi para pengungsi, para migran. Semoga pertimbangan kemanusiaan mengatasi kekhawatiran-kekhawatiran, baik politik, ekonomi, maupun keamanan, dengan membanjirnya para pengungsi.
Memang, kita tidak memungkiri, bukan mustahil gelombang pengungsi ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, orang-orang yang mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Mungkin juga arus pengungsi itu disusupi oleh mereka yang lebih suka menebarkan kebencian dan teror. Terlepas dari semua itu, kita berharap segera akan ada langkah kemanusiaan dari negara-negara di Eropa menghadapi para pengungsi.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Migran dan Kesadaran Baru Eropa".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar