Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 08 September 2015

TAJUK RENCANA: Pertaruhan Rusia di Suriah (Kompas)

Sebenarnya tidak begitu mengherankan kalau Rusia, sekarang ini, memperkuat kehadirannya di Suriah, setelah menggandeng tiga negara Arab.

Akhir bulan Agustus lalu diberitakan, Rusia menggandeng tiga negara Arab—Mesir, Jordania, dan Uni Emirat Arab—bersama Suriah untuk menghadapi sepak terjang kelompok bersenjata Negara Islam di Irak dan Suriah yang semakin menjadi-jadi.

Apa kepentingan Rusia dengan menggandeng tiga negara Arab, dan bersama Suriah menghadapi NIIS? Itu pertanyaan yang ketika itu segera muncul. Jawaban atas pertanyaan itu tentu harus didasarkan pada kepentingan Rusia di kawasan tersebut.

Moskwa tetap menginginkan bertahannya rezim Presiden Bashar al-Assad agar satu-satunya pangkalan militer Rusia di negara itu, Tartus, tetap bisa dipertahankan. Sederhanya, kalau rezim Bashar jatuh dan yang berkuasa adalah NIIS, maka masa depan Tartus sangat mengkhawatirkan, dan kemenangan NIIS itu dapat memberikan semangat gerakan fundamentalis di wilayah Rusia.

Itulah kepentingan pertama dan utama Rusia di Suriah. Tartus adalah akses Rusia ke Laut Tengah. Tidak ada yang lebih penting dalam kalkulasi geopolitik daripada mempertahankan Tartus sebagai akses ke Laut Tengah, bagi Rusia. Laut Tengah adalah faktor yang mendorong, sekarang ini, Rusia tetap mendukung Bashar dan memberikan bantuan baik politik maupun logistik kepadanya.

Arti penting Tartus, sebagai pintu gerbang ke Laut Merah, sudah ditetapkan bahkan sejak 1967, di zaman Perang Dingin. Ketika negara lain, seperti AS, mengarahkan pandangannya ke Samudra Hindia, Rusia memilih nomor satu adalah Laut Merah. Karena dengan bisa masuk ke Laut Merat akan terbuka jalan ke luar, termasuk ke Samudra Hindia. Karena itu, status Tartus sebagai pangkalan angkatan lautnya menjadi sangat penting.

Dengan demikian, Suriah memiliki arti penting bagi Rusia. Suriah adalah satu-satunya negara Arab yang terus-menerus, seperti di atas sudah disinggung, menyediakan sumber daya militer, tidak seperti Mesir misalnya yang di masa lalu lebih melihat Barat, meski sekarang mulai menoleh ke Rusia lagi.

Dari titik pandang ini, jelaslah bahwa kepentingan geostrategik dan geopolitik lebih penting daripada kepentingan ideologi. Tentu hal tersebut sangat berbeda ketika Rusia dulu mendukung negara-negara komunis dan sosialis di banyak belahan dunia. Nilai strategik dan politik Suriah menjadi nomor satu bagi Rusia.

Kita yang berada jauh dari Suriah hanya mampu berharap bahwa peningkatan atau penegasan kehadiran Rusia di Suriah akan berdampak positif bagi penyelesaian krisis di negara itu yang telah menelan ratusan ribu jiwa, dan tidak hanya untuk kepentingan Moskwa semata.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Pertaruhan Rusia di Suriah".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger