Dengan diembargo, diharapkan Korut tidak dapat lagi mengembangkan kemampuan persenjataan nuklir. Oleh karena, Korut tidak dimungkinkan lagi melakukan perniagaan dan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki kemampuan persenjataan nuklir. Namun, ternyata embargo yang diberlakukan terhadap Korut masih bocor. Korut dalam batas-batas tertentu masih dapat berhubungan dengan pihak-pihak luar, yang memungkinkan negara itu tetap melanjutkan ambisi nuklirnya.
Atas dasar itulah, Amerika Serikat, Rabu (9/12), kembali menjatuhkan sanksi finansial terhadap enam orang dan sejumlah perusahaan atau lembaga yang terhubung dengan kebijakan proliferasi senjata Korut. Sejumlah lembaga itu adalah Angkatan Roket Strategis Korut (salah satu divisi dalam Angkatan Bersenjata Korut), dua bank, dan tiga perusahaan perkapalan. Ketiga perusahaan perkapalan itu dimasukkan ke dalam daftar hitam Otoritas AS karena dituduh terlibat dalam pengangkutan senjata milik Korut yang diperdagangkan.
Dalam dunia yang semakin mengglobal dan terkoneksi seperti sekarang ini, memang tidak mudah untuk mengembargo suatu negara. Selalu ada celah yang dapat digunakan oleh negara yang diembargo untuk mencari pendanaan dan memasukkan barang-barang yang diperlukan. Korut pun melakukan itu.
Lewat Bank Komersial Tanchon, yang diketahui menjadi lembaga finansial perpanjangan tangan Korporasi Perdagangan dan Pembangunan Korut, negara itu berusaha keluar dari jepitan embargo AS. Negara di Semenanjung Korea ini beroperasi di beberapa negara yang dianggap luput dari perhatian AS, misalnya di Suriah, Vietnam, dan Rusia.
Namun, ternyata pergerakan bank itu terbaca sehingga AS menjatuhkan sanksi finansial. Di luar sanksi finansial itu, AS juga siap mengeluarkan "senjata pamungkasnya", yakni membekukan aset yang kemungkinan dimiliki Korut, terutama yang berbasis di seluruh wilayah AS.
Harus diakui, dengan mengembangkan persenjataan nuklir, Korut mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Apalagi, saat ini Korut benar-benar dikuasai oleh satu orang saja, Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un. Sangat dikhawatirkan apabila Korut dengan alasan apa pun sampai menggunakan persenjataan nuklir itu.
Hingga saat ini, pemberlakuan embargo masih dianggap cara yang terbaik. Oleh karena Tiongkok yang dianggap sebagai sahabat terdekat Korut pun tidak bisa berbuat banyak, baik dalam hubungan bilateral maupun dalam konferensi enam pihak, yang melibatkan Korut, Korea Selatan, Jepang, AS, Rusia, dan Tiongkok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar