Sebagian besar migran yang masuk ke Eropa itu datang melalui Turki. Wakil Presiden Pertama Komisi Eropa Frans Timmermans, Kamis (7/1), mengatakan, Uni Eropa merasa kecewa terhadap Turki yang dinilai belum melakukan cukup upaya untuk mencegah migran menyeberang ke Eropa.
Padahal, November lalu, Turki telah menerima tawaran kucuran dana bantuan 3 miliar euro, warga Turki pun mendapat kemudahan dalam menerima visa Eropa, dan janji proses keanggotaan Turki di Uni Eropa akan dipercepat. Tawaran itu diberikan dengan imbalan, Turki memperketat keamanan perbatasannya dengan Suriah dan mengembalikan migran yang tidak memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan suaka di Eropa.
Jerman dan Swedia merupakan negara yang sangat diminati para migran. Jerman pada 2015 telah menerima sedikitnya 1,1 juta migran dan merupakan negara Uni Eropa yang paling banyak menerima pengungsi. Secara ekonomi, Jerman mungkin sanggup menerima migran sebanyak itu. Akan tetapi, harus diingat, masih ada soal sosial dan budaya yang menyertai para migran itu.
Harian ini dalam tajuk rencananya, 7 September 2015, mengingatkan, berbicara soal migran, berarti juga berbicara soal manusia dan segala aspeknya. Para migran itu datang dari negara-negara yang mempunyai kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang berbeda dengan kehidupan sosial, budaya, dan nilai-nilai di Eropa.
Sangat naif jika kita berasumsi bahwa para migran itu bersyukur dan merasa berutang budi telah diterima bermukim di negara-negara Uni Eropa. Para migran itu tetaplah manusia dengan segala kompleksitas dan kebiasaan mereka.
Apa yang terjadi di Koeln, Jerman, pada pergantian tahun, memperlihatkan hal itu. Polisi Jerman menerima lebih dari 100 pengaduan dari para perempuan yang mengalami pelecehan seksual dan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang, terdiri dari 20-30 orang, yang berwajah Arab dan Afrika Utara. Para petinggi Jerman terkejut atas besarnya kasus pelecehan seksual itu walaupun mereka mengingatkan agar tidak mengambinghitamkan para migran. Angela Merkel sendiri meminta investigasi menyeluruh terhadap serangan yang memalukan itu dan menegaskan diperlukan tindakan keras dari negara.
Tampaknya negara-negara Eropa masih akan menghadapi beragam persoalan dalam upaya menggabungkan para migran dalam sistem sosial dan budaya Eropa. Oleh karena dalam kasus migran Eropa ini kita bukan berbicara tentang satu atau dua orang saja, melainkan lebih dari 1 juta orang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar