Pertemuan itu terjadi di Havana, Kuba, akhir pekan lalu. Paus dalam perjalanan pastoral ke Meksiko. Akan tetapi, petanyaannya adalah mengapa pertemuan dua pemimpin itu dilakukan di Kuba? Ada banyak analisis tentang hal itu. Salah satu jawabannya adalah Kuba tempat yang netral. Ada pula yang menganalisis pertemuan tersebut dilatari "kepentingan" politik Presiden Rusia Vladimir Putin berkait dengan masalah Ukraina.
Apa pun alasannya, inilah pertemuan pertama pemimpin dua gereja itu sejak perpecahan gereja pada tahun 1054. Perpecahan ini yang kemudian disebut sebagai Skisma Timur-Barat atau Skisma Besar. Skisma ini mengoyak Kekristenan Khalsedonia menjadi bagian Barat (Latin/Roma) dan bagian Timur (Yunani), yakni Katolisisme Barat dan Orthodoksi Timur.
Skisma adalah suatu pemisahan yang terjadi di dalam lembaga gereja atau pemisahan diri dari persaudaraan umat beriman tanpa menyangkal ajaran iman. Pemisahan ini lebih mengarah kepada birokrasi yang ada dalam kekristenan dan pada umumnya menyangkut disiplin serta tata tertib. Kendati terjadi pemisahan, hal ini tidak berpengaruh, antara lain, kepada soal iman.
Gereja terpecah dalam hal doktrin, teologi, linguistik, politik, serta geografi, dan perpecahan fundamental tersebut belumlah pulih. Dapat dikatakan bahwa setiap kali dilakukan usaha untuk mempersatukan kedua gereja kembali. Misalkan, pada saat Konsili Lyons II tahun 1274. Pernah juga dilakukan dalam Konsili Basel pada tahun 1439. Upaya-upaya selanjutnya untuk mempersatukan kembali kedua belah pihak telah gagal. Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI pernah berusaha untuk menjalin hubungan, tetapi gagal.
Karena itu, pertemuan antara Paus Fransiskus dan Patriak Kirill sangat simbolik. Paus Fransiskus pemimpin sekitar 1,2 miliar umat Katolik sedunia, sedangkan Patriak Kirill adalah pemimpin gereja terbesar di dunia Ortodoks Timur dengan umat sekitar 150 juta. Diharapkan, pertemuan dua pemimpin agama itu akan berdampak positif dalam perkembangan hubungan kedua Gereja. Pertemuan antar pemimpin agama, di mana pun termasuk di Jakarta, selalu diharapkan memberikan pengaruh positif terhadap hubungan antarumat dan antaragama.
Dalam konteks Rusia, sebetulnya Putin bisa mencegah pertemuan itu. Namun, pertemuan itu justru meningkatkan posisi Rusia dan menggerus usaha Barat untuk "mengisolasi" Rusia karena konflik Ukraina. Tambahan lagi, kedua pemimpin agama mendorong peran Rusia untuk mengusahakan perdamaian di Suriah, termasuk melindungi umat Kristen, dan tentu penyelesaian masalah Ukraina.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar