Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 18 April 2016

Menyeberang di Ciawitali//PBB Naik 400 Persen//PBB Atas Nama Developer//Tas Hilang di Kereta Api (Surat Pembaca Kompas)

Menyeberang di Ciawitali

Pasar Ciawitali cukup dekat dari tempat tinggal saya di Jalan Patriot, Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Setiap berkunjung ke sana, saya selalu prihatin melihat sulitnya orang- orang untuk menyeberang jalan. Hal itu lantaran pasar yang bersebelahan dengan Terminal Guntur berlokasi tepat di depan belokan pertigaan jalan.

Di ruas jalan itu tidak tersedia zebra cross bagi penyeberang yang hendak menuju pasar. Lampu lalu lintas pun tidak tersedia, padahal zebra crossmembantu orang menyeberang dan kehadiran lampu merah bisa mengatur arus kendaraan dari ketiga arah.

Kondisi makin parah karena angkutan umum kerap mengetem di bahu jalan, akibatnya ruas jalan menyempit dan kerap menimbulkan kemacetan. Kekacauan lalu lintas semakin parah karena kendaraan roda dua sering menyelip di antara kendaraan roda empat tanpa memperhatikan orang yang sedang menyeberang di depannya.

Permasalahan ini perlu segera ditanggulangi Pemerintah Kabupaten Garut. Tidak hanya dengan memperbaiki jalan, tetapi juga menyediakan sarana penyeberangan dan pengatur lalu lintas.

SITI ROHMAH HIDAYAH

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Garut

PBB Naik 400 Persen

Tahun 2013 dan 2014, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) rumah saya masih Rp 1.070.661. Namun, pada 2015 PBB itu naik 400 persen menjadi Rp 4.001.090 sehingga sangat memberatkan.

Saya mengajukan permohonan keringanan dan diberi keringanan 20 persen menjadi Rp 3.202.372. Jumlah ini juga masih besar untuk saya.

Saya mohon agar PBB saya pada 2016 ditinjau kembali. PBB atas nama Suteja Musalim, NOP 317405000200202850, alamat Jalan Hayam Wuruk 111 PP RT 003 RW 009, Jakarta Barat.

Saya mohon keberatan saya dipertimbangkan karena rumah saya hanya untuk rumah tinggal.

SUTEJA MUSALIM

Jl Hayam Wuruk 111 Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat

PBB Atas Nama Developer

Saya membeli satu unit rumah di Perumahan Metland Menteng, Ujung Menteng-Cakung, Jakarta Timur, dahulu Perumahan Menteng Metropolitan, 2005. Serah terima unit rumah berlangsung 2007. Semua kewajiban saya sebagai pembeli kepada pengembang PT Metropolitan Land dan negara sudah saya penuhi.

Juni 2015, saya menginformasikan kepada staf pemasaran PT Metropolitan Land (Bp Jhon Arli) bahwa nama dan alamat wajib pajak di PBB 2015 masih atas nama PT Metropolitan Land. Staf pemasaran meminta salinan semua dokumen untuk perubahan nama dan alamat wajib pajak dan berjanji menyerahkan ke bagian legal (Bp Bagus) untuk diproses.

Semua salinan dokumen saya serahkan pada 28 Juni 2015. Kenyataannya, nama dan alamat wajib pajak PBB 2016 masih atas nama PT Metropolitan Land.

MEI CHEN PURWADI

Ujung Menteng-Cakung, Jakarta Timur

Tas Hilang di Kereta Api

Pada 8 April 2016, kami berlima naik kereta api malam Malioboro Ekspres pukul 21.55 dari Blitar menuju Yogyakarta. Kami baru selesai shootingsehingga membawa peralatan shooting.

Sekitar pukul 01.00, kereta berhenti di Stasiun Madiun. Ketika KA mulai berjalan, baru kami sadar bahwa satu tas hilang. Tas itu berisi peralatan untuk merekam suara dan sebuah hard disk eksternal berisi data.

Kami melapor kepada petugas keamanan, tetapi ia tak bisa berbuat banyak. Sesampai di Yogyakarta, kami melapor kepada petugas stasiun dan bertemu kepala stasiun. Ternyata, ia pun hanya menjanjikan untuk melacak.

Kami menanyakan adakah manifest atau daftar penumpang yang naik dan turun di Madiun. Mereka bisa menunjukkan siapa yang naik kereta, tetapi tidak bisa menunjukkan siapa yang turun.

Menurut seorang Polsuska, memang sering terjadi pencurian di KA Malioboro Ekspres di stasiun Madiun. Ini karena di stasiun Madiun ada pergantian petugas sehingga tidak ada petugas di atas kereta.

Pencuri tampaknya sudah tahu dan memanfaatkan peluang ini. Apalagi KA sampai di Stasiun Madiun dini hari, saat para penumpang tertidur lelap. Yang memprihatinkan, dalam kereta tidak ada CCTV sehingga pencurian tidak terpantau.

Polsuska juga tidak bisa menggeledah di gerbong lokasi pencurian. Lantas, untuk apa penumpang diperiksa kartu identitasnya saat naik kereta jika tidak disertai prosedur keamanan?

FX HARSONO

Bintaro, Tangerang Selatan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 April 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger