Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 08 Juni 2016

TAJUK RENCANA: Berharap Tiongkok Menahan Diri (Kompas)

Dicabutnya larangan pembelian senjata terhadap Vietnam, 23 Mei lalu, membuat Vietnam mulai melirik pesawat pengintai maritim P-3 Orion rekondisi.

Dilaporkan, Senin (6/6), Vietnam meminta daftar resmi harga dan ketersediaan pesawat pengintai maritim P-3 Orion buatan Lockheed Martin Corporation rekondisi (pesawat bekas yang sudah diperbarui). Disebut-sebut, pembelian itu dilakukan untuk mengantisipasi gerakan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.

Namun, Wakil Menteri Pertahanan Vietnam Nguyen Chi Vinh mengatakan, Hanoi belum memutuskan peralatan atau persenjataan apa saja yang akan dibeli, dan juga belum tahu peralatan atau persenjataan apa saja yang bisa dibeli. Sengaja kata belum tahu peralatan atau persenjataan apa saja yang bisa dibeli itu disebut oleh Chi Vinh mengingat permintaan tersebut harus dikaji terlebih dahulu oleh Washington DC.

Meskipun demikian, permintaan daftar resmi harga dan ketersediaan pesawat pengintai maritim P-3 Orion oleh Vietnam memperlihatkan Vietnam tertarik membelinya untuk mengantisipasi gerakan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan. P-3 Orion adalah pesawat pengintai maritim yang selama 40 tahun terakhir digunakan untuk keperluan patroli di laut. Pesawat ini masih digunakan oleh Angkatan Laut Australia. Memang Australia sudah membeli P-8 Poseidon yang lebih baru, tetapi pesawat-pesawat itu baru akan datang tahun 2017.

Keinginan Vietnam untuk membeli pesawat pengintai P-3 Orion rekondisi itu seharusnya menjadi pengingat (alarm) bagi Tiongkok untuk lebih membawa diri dalam berperilaku di Laut Tiongkok Selatan. Jika Tiongkok tetap bersikap agresif seperti sekarang ini, dikhawatirkan akan memicu terjadinya perlombaan persenjataan di Asia Tenggara.

Selama ini, Tiongkok bertindak seakan-akan seluruh perairan Laut Tiongkok Selatan sebagai wilayahnya. Padahal, ada beberapa gugusan karang yang menjadi tumpang tindih klaim dengan Brunei, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan juga Taiwan.

Bahkan, di gugusan karang Fiery Cross yang juga diklaim oleh Filipina dan Vietnam, Tiongkok secara sepihak membangun pulau buatan lengkap dengan pelabuhan dan lapangan terbang. Protes Filipina dan Vietnam sama sekali tidak digubris oleh Tiongkok. Akibatnya, Amerika Serikat pun turut hadir untuk menjamin kebebasan pelayaran di Laut Tiongkok Selatan yang merupakan bagian dari jalur perdagangan utama dunia.

Kita berharap Tiongkok mau menahan diri dan tidak membuat kawasan Asia Tenggara ini menjadi ajang perlombaan persenjataan. Jika Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa Beijing menghendaki perdamaian di Laut Tiongkok Selatan, ia harus membuktikan hal itu.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2016, di halaman 6 dengan judul "Berharap Tiongkok Menahan Diri".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger