Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 13 Juni 2016

Tanggapan Pendidikan Dokter//Tanggapan BPJS//Manajemen Apartemen (Surat Pembaca Kompas)

Tanggapan Pendidikan Dokter

Setelah membaca tulisan Satryo Soemantri Brodjonegoro, saya bisa merasa lega. Ada pakar di bidang pendidikan tinggi yang mengemukakan pandangan dengan jelas.

Bangsa Indonesia memang penikmat konsep yang muluk-muluk dan indah. Mendahulukan kulit dari isi. Akibatnya, kita lihat, antara lain, bertimbunnya pengamat di berbagai bidang. Saya pun terbawa menjadi pengamat yang semoga masih dibekali niat keprihatinan.

Menurut saya, seorang dokter sebagai profesional sebenarnya sederhana tuntutan dalam pencapaian kinerjanya. Dia cukup memiliki KSA: knowledge yang berarti pengetahuan atau ilmu, skill yang berarti keterampilan, serta ability atau kemampuan untuk menerapkan skill tadi, dan yang terpenting adalah attitude atau perilaku dalam menjalankan profesinya.

Kurikulum kedokteran yang ada, apalagi pada fakultas kedokteran yang tidak terakreditasi, mengabaikan pendekatan holistik dan komprehensif untuk menghasilkan peserta didik dengan KSA tersebut. Hal ini juga terjadi pada pendidikan dokter spesialis.

Tidak perlu heran jika benturan antara penyedia pelayanan kesehatan dan pengguna jasa pelayanan kesehatan makin sering terjadi. Sayangnya, pengambilan keputusan dalam membuat kebijakan di bidang ini masih berputar-putar dalam hal-hal yang masih bersifat normatif dan lalai terhadap esensi profesi kedokteran.

HADISUDJONO SASTROSATOMO

Perumahan Billy & Moon, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur

Tanggapan BPJS

Sehubungan dengan dimuatnya surat Bapak Srijanto dari Ngawi di Kompas(Minggu, 29/5) berjudul "Penggantian BPJS Kesehatan", bersama ini kami sampaikan penjelasan berikut.

Terkait konfirmasi penjaminan pelayanan kesehatan istri Bapak Srijanto atas nama Jajuk Dwi Muljani, setelah kami investigasi terdapat kendala teknis dalam administrasi kepesertaan. Namun, hal tersebut telah diselesaikan BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan tempat istri Bapak Srijanto dirawat.

Dapat kami sampaikan bahwa biaya pelayanan kesehatan istri Bapak Srijanto dijamin BPJS Kesehatan karena sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Untuk diketahui, BPJS Kesehatan Kantor Cabang Madiun telah memberikan penjelasan langsung kepada Bapak Srijanto di rumah yang bersangkutan di Ngawi pada 29 Mei 2016. Bapak Srijanto dapat menerima penjelasan tersebut.

IKHSAN

Kepala Grup Komunikasi Publik dan HAL, BPJS Kesehatan

Manajemen Apartemen

Saya pernah tinggal di beberapa apartemen, tetapi menurut saya, manajemen Apartemen Greenbay Pluit adalah yang paling (maaf) buruk. Sudah beberapa kali saya menyampaikan keluhan, solusinya buntu atau justru "memperparah keadaan".

Contohnya, masalah lahan parkir mobil penghuni yang sangat terbatas, bahkan kurang. Pengelola pernah "menegaskan" hal ini dengan menempelkan selebaran di lift bahwa kapasitas parkir di Greenbay sudah memenuhi syarat sesuai peraturan pemerintah. Seolah-olah informasi itu dimaksudkan untuk "membungkam" komplain para penghuni, tetapi dengan cara yang kurang bijaksana.

Anehnya, sisa ruang parkir di depan Tower Akasia yang biasanya untuk menampung kekurangan parkir malah sekarang dikomersialkan menjadi lahan valet untuk penghuni dan tamu. Saya heran, bukannya mencarikan solusi, lahan yang ada malah dikomersialkan.

Kalau pengelola menyadari bahwa lahan parkir terbatas, bukankah sebaiknya pengelola berhenti menerima pendaftaran anggota parkir baru?

Kami membayar biaya langganan parkir Rp 200.000 per bulan, tetapi setiap hari (bahkan baru pukul 21.00) kami harus berjuang mencari tempat parkir. Kalaupun dapat parkir, kami harus dibangunkan pukul 06.00 oleh petugas keamanan untuk memindahkan mobil karena parkir paralel. Malah pernah suatu malam, saya tidak mendapat parkir sama sekali dan terpaksa menginap di hotel.

Selain itu, banyak masalah yang terjadi, seperti kerusakan AC di lobi Borneo yang perbaikannya saja memakan waktu sebulan, kebocoran di area parkir LGM yang saya lihat (24/5) malam sehingga mengakibatkan beberapa mobil tidak bisa diparkir di situ. Akibatnya, "beban" parkir menjadi semakin berat, belum lagi berisiknya suara petugas janitor di sebelah unit saya setiap pukul 06.00-07.00. Saya pernah komplain, tapi tidak ada solusi.

Warga berinisiatif membentuk paguyuban penghuni untuk "mengimbangi" pengelola, tetapi tidak jelas kelanjutannya.

RONNY IRAWAN

Apartemen Greenbay Pluit

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Juni 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger