Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 11 Juli 2016

Banjir dan Literasi Ekologis (GUFRAN A IBRAHIM)

".harus peka membaca 'tanda-tanda alam'. untuk tidak gagap dan tidak pasrah ya pak?"

Inilah sindiran ekologis yang disodorkan Oom Pasikom (Kompas, 25/6/2016), saat kita sedang dirundung murka alam untuk kesekian kalinya: longsor di Purworejo, banjir bandang di Sangihe, Padang, Mamuju, Luwu, dan banjir di tempat lain di tahun lalu, bahkan di tahun-tahun sebelumnya.

Lalu, masih ingatkah kita pada deraan asap tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, yang tak hanya menyesakkan dada, tetapi sekaligus menampar muka kita sebagai bangsa 'pengirim' asap kotor ke negeri jiran? Inikah bukti bahwa kita tak peka membaca tanda-tanda alam? Padahal, murka alam itu datang mendera di waktu-waktu yang sama, berulang, bahkan cenderung siklik. Jangan-jangan ini berkelindan dengan kecerdasan ekologis kita seperti yang disebut Daniel Goleman (2009) dalam buku larisnya,Ecological Intelligence: The Coming Age of Radical Transparency?

Akan tetapi, duka dan kematian adalah dua tragedi kemanusiaan yang selalu kita hadapi dalam hari-hari "tanggap darurat" setelah rundungan murka alam itu meninggalkan jejak getirnya. Dan, lagi-lagi, "tanggap" kita selalu hadir setelah segalanya terjadi. Mitigasi kita pun adalah tindakan "pengobatan" di ujung duka-lara, bukanlah ikhtiar dini yang menghikmati alam. Kita seperti sedang mengidap "rabun" ekologis. Jangan-jangan kita memang membiarkan diri secara sadar dalam tekanan ekonomi kapitalis sehingga merabunkan kita, lalu terus-menerus merusak alam, kemudian kehilangan kepekaan atas tanda-tanda dini kemurkaan alam!

Pelajaran dari Tibet

Padahal, peka membaca tanda-tanda alam sejatinya menjadi bagian penting dari kesadaran ekologis dalam cara kita berteman dengan alam. Dan, kesadaran itu tidak saja untuk alam, tetapi maruah kemanusiaan kita sebagai makhluk tingkat paling tinggi dari pelbagai ciptaan Tuhan. Berteman dengan alam, pada tingkat kalis-nya (akan) melahirkan kultur peka terhadap tanda-tanda alam. Berkelindan dengan ini, Goleman (2009:41- 42) mengajak kita perlu berteladan pada kecerdasan ekologis yang ditunjukkan suku Sher di dataran tinggi Tibet.

Lebih dari seribu tahun, penduduk satu desa kecil di pegunungan di Tibet ini kukuh hidup pada suatu area lingkungan yang sangat mengerikan: "bertengger" pada sebuah rak papan di sisi tebing yang curam. Desa dataran tinggi Tibet ini hanya mengalami hujan salju setebal tiga inci dalam setahun. Akan tetapi, setiap tetes salju telah membentuk satu sistem irigasi purba.

Temperatur rata-rata setiap tahun mendekati titik beku. Pada Desember-Februari, suhu bisa turun 10-20 derajat Fahrenheit. Domba di desa ini memiliki bulu yang ekstra tebal untuk menjaga kehangatan tubuhnya dengan baik, dan penduduk lokal memintal bulu domba untuk membuat pakaian dan selimut agar bisa bertahan di musim dingin dengan sedikit bantuan tungku perapian.

Rumah-rumah mereka terbuat dari anyaman ranting kayu dan tatahan batu. Atapnya diganti setiap sepuluh tahun, dan pohon willow yang ditanam di sepanjang kanal irigasi tersedia untuk atap rumah mereka. Kapan saja satu cabang atau ranting pohon willow itu dipotong untuk bahan atap rumah, satu cabang atau ranting baru bertumbuh. Sebatang pohon willowberusia paling lama 400 tahun, dan ketika satu pohon mati, satu pohon baru ditanam. Sampah dan bahan sisa pakai didaur-ulang sebagai pupuk untuk tanaman herbal, sayur-mayur, dan ladang gandum -sumber bahan baku lokal, tsampa-dan akar sayur-mayur disimpan pada musim dingin. Lebih menarik lagi, berabad-abad lamanya, jumlah penduduk desa Sher relatif sama: 300-an orang. Penduduk Sher bergantung pada tiga kekuatan untuk bertahan hidup: sinar matahari, air hujan, dan kearifan menggunakan sumber alam secara baik.

Goleman menyebut cara penduduk Sher "berdamai" dengan lingkungan yang ekstrem adalah  "kecerdasan ekologis", kemampuan suatu komunitas mengolah, menghikmati, dan berdampingan dengan alam sekitarnya. Orang Sher merawat pohon willow, memelihara domba, mendaur-ulang limbah dan bahan sisa pakai untuk kepentingan pupuk alamiah bagi tanaman herbal, sayur-mayur, ladang gandum, dan menyimpan akar sayur ketika musim dingin adalah lesson learn yang amat tinggi bagi bagaimana merawat alam, menjaga makhluk lain sebagai "mitra" dalam ekosistem yang meskipun sungguh sangat mengerikan. Dalam kurun ratusan tahun, kearifan lokal ini bahkan ditransmisikan dari generasi ke generasi dengan sebegitu apiknya.

Promosi literasi ekologis

Praktik baik "hidup berekologis" penduduk Sher, kini, di abad ke-21, mendapatkan tempat ikhtiar bangsa-bangsa modern dalam pencapaian puncak-puncak: literasi ekologis! Capaian tinggi akal-budi yang memaruahkan alam, merayakan kemanusiaan. Alam tak saja dipersepsi sebagai maujud yang dikuras habis, tetapi sebagai hamparan anugerah Tuhan bagi proses pemanusiaan.

Meski tak ada kelas-kelas literasi, dalam nosi formal, warga Sher sesungguhnya telah ratusan tahun mengamalkan akal budi literasi ekologis, suatu upaya kini sedang digiatkan berbagai bangsa di dunia dalam pendidikan untuk mencapai derajat kepandaian tinggi, termasuk Indonesia. Meski tak paham seluk-beluk literasi, mereka sesungguhnya telah begitu adabnya mengelola dan menghikmati alam, lalu mendapatkan kemanusiaan yang mulia dalam relasi ontologi manusia-alam: berliterasi ekologis tanpa buku teks literasi.

Tentu saja, akal budi berliterasi ekologis sebagaimana yang dipraktikkan orang Sher ada pada bangsa kita, meski dalam cara dan tampilan yang berbeda. Setidaknya pada komunitas yang sejauh ini masih memelihara alam sekitar sebagai bagian dari kosmopolit kediriannya. Meski jauh dari hiruk-pikuk, riuh-rendahnya modernisasi yang didorong oleh syahwat kapitalis, ada komunitas tertentu di Indonesia justru adalah para pemulia alam yang hebat.

Studi-studi antropologi sosial telah begitu banyak membentangkan temuan emiksejumlah komunitas di berbagai wilayah komunitas penjaga hutan yang masih dengan setia  berliterasi ekologis. Akan tetapi banjir, tanah longsor, pendangkalan sungai, luberan sampah di sepanjang bantaran sungai yang melintasi kampung dan kota, rusaknya ekosistem pantai, asap beracun karena kebakaran hutan yang berulang-ulang tiap tahun di negeri ini adalah sederet fakta lingkungan yang berbanding terbalik dengan klaim bahwa kita adalah bangsa yang berharmoni dengan alam.

Lepas dari argumen perubahan perilaku cuaca yang anomali, kehancuran ekologis karena murka alam dan kematian masif yang sia-sia adalah tanda yang terlampau kasatmata dari buruknya budaya literasi ekologis kita. Buruk literasi ekologis itulah yang menumpulkan kepekaan pada tanda-tanda alam. Kita kemudian terus dikepung rundungan murka alam. Karena itu, mau tak mau, kita harus merumus-ulang pola relasi-interaksi kita dengan alam sekitar. Salah satu ikhtiar dari rumus-ulang relasi-interaksi ini: mempromosikan gerakan literasi ekologis.

Ada tiga matra penting dalam mendorong literasi ekologis: (1) menyusun isian belajar pada  sekolah dan komunitas pegiat literasi dengan siasat "literasi ekologi melintasi kurikulum"; (2) menyebar-kenalkan praktik baik komunitas pemulia alam-seperti akal-budi suku Sher-sebagai teladan; dan (3) membangun relasi baru manusia dengan alam. Tentu saja ikhtiar ini tidak dimaksudkan untuk menambahsubject-matter dalam bangunan struktur kurikulum sekolah kita, tetapi memulai upaya pemuliaan alam dengan mendorong prinsip penumbuhan akal-budi melalui pengenalan "religiositas ekologis" yang melintasi teks-teks pembelajaran di sekolah dan komunitas pegiat literasi.

 GUFRAN A IBRAHIM

GURU BESAR ANTROPOLINGUISTIK UNIVERSITAS KHAIRUN, TERNATE; KEPALA PUSAT PEMBINAAN, BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA, KEMDIKBUD

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Juli 2016, di halaman 6 dengan judul "Banjir dan Literasi Ekologis".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger