Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 30 Juli 2016

TAJUK RENCANA: Dunia dalam Keadaan Perang (Kompas)

Judul ulasan singkat ini, dengan sengaja, mengutip pernyataan Paus Fransiskus di Polandia saat menghadiri Hari Pemuda Sedunia 2016.

Paus masih melanjutkan kalimatnya agar tidak menimbulkan salah paham, salah tafsir. Ia mengatakan, "Dunia saat ini dalam keadaan perang... bukan perang agama. Semua agama menginginkan perdamaian." Dunia dalam keadaan perang karena hilangnya perdamaian.

Perdamaian hilang bukan hanya karena perang, melainkan juga karena korupsi, ketidakadilan, diskriminasi rasial, perbenturan kepentingan nasional, kebodohan, perdagangan manusia, dan juga kemiskinan. Pada gilirannya, kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian antara lain yang memberi sumbangan lahirnya terorisme. Terorisme ini pula yang sekarang nyata-nyata menghilangkan perdamaian.

Perdamaian, memang, telah hilang di banyak bagian dunia ini. Dunia kita sekarang ini ditimpa krisis yang memberikan ancaman langsung terhadap kehidupan dan martabat banyak orang. Perang di Suriah, misalnya, yang pecah sejak tahun 2011 menewaskan lebih dari 200.000 orang, dan menyebabkan demikian banyak orang mengungsi meninggalkan negeri itu atau tercerai-berai di dalam negeri. Jumlah pengungsi secara global, sungguh mencengangkan, mencapai 60 juta orang!

Kondisi yang tidak jauh berbeda dialami negara tetangganya, Irak. Krisis atau malah hilangnya perdamaian juga melanda banyak negara lain, misalnya Nigeria, Libya, Afganistan, Banglades, dan juga Pakistan. Bahkan, negara-negara di Eropa pun—Perancis dan Jerman, misalnya—mengalami hal serupa; mengalami krisis perdamaian. Dalam hal seperti itu, yang menjadi korban kebanyakan kaum perempuan, orang tua, dan anak-anak. Perang modern mengeksploitasi, membunuh anak-anak secara lebih tidak berperasaan, dan jauh lebih sistematik dibandingkan sebelumnya. Ribuan anak menjadi korban penyiksaan, menjadi prajurit, diperjualbelikan, dijerumuskan ke dunia prostitusi, dan juga menjadi buruh.

Dunia menjadi tidak damai, juga karena perbenturan kepentingan di antara negara, misalnya perbenturan kepentingan di kawasan Laut Tiongkok Selatan. Rebutan sumber daya alam, seperti yang terjadi di Nigeria, juga menjadi sumber hilangnya perdamaian.

Tentu, kita berharap Indonesia bisa memberikan sumbangan dalam membangun dunia yang damai, dunia yang lebih toleran, dunia yang lebih peduli terhadap kelompok minoritas, dunia yang menghargai kehidupan. Syukur-syukur, Indonesia yang berideologi Pancasila bisa memberikan contoh bagaimana hormat terhadap martabat manusia, misalnya. Martabat manusia Indonesia harus dihargai sepenuhnya dan tidak boleh diperalat untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan politik.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Juli 2016, di halaman 6 dengan judul "Dunia dalam Keadaan Perang".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger