Letaknya lebih netral di perbatasan suku-suku utara dan selatan. Status Jerusalem sebagai ibu kota Israel Bersatu tidak bertahan lama. Sepeninggal Salomo, putra Daud, sepuluh suku utara memisahkan diri dan mendirikan Kerajaan "Israel" dengan Samaria sebagai ibu kota.
Dinasti Daud runtuh setelah Jerusalem dan Bait Suci-nya dilumatkan Babilonia (586 SM). Bait Kedua dibangun umat Yahudi sekembalinya dari Babilon, lalu dibangun ulang oleh Herodes Agung.
Belum genap sewindu, bait itu dibumihanguskan bersama kotanya oleh pasukan Titus (70 M). Tembok Barat—yang juga disebut Tembok Ratapan dan Tembok Al-Buraq—adalah sisanya. Jerusalem diubah menjadi Aelia Capitolina, kota Yupiter, sebelum pecah pemberontakan Yahudi terakhir di bawah Simon Bar Kokhba (132-135) yang ditumpas dengan bengis; korbannya mencapai setengah juta jiwa.
Ingatan sakral umat bersaudara
Faktor politis tak cukup membesarkan Jerusalem. Kota itu dihancurkan, dibangun kembali, dan berulang kali ditelantarkan, kumuh, dan mengenaskan. Kalau bukan karena narasi-narasi sakralnya, ia sudah lama terbenam.
Menurut Alkitab Ibrani, di sanalah Bait Suci pertama didirikan Raja Salomo. Tradisi Ibrani lainnya mengaitkan tempat itu dengan Bukit Moria, tempat Abraham mengorbankan putranya.
Dalam Isra Miraj, perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW diyakini menjejakkan kaki di atas batu tempat Nabi Ibrahim AS mengorbankan putranya.
Peristiwa itu diabadikan Khalifah Abdul Malik dari Dinasti Umayyah dengan mendirikan Qubbat As-Sakhrah (Dome of the Rock). Bangunan berkubah emas ini berada di kawasan Al-Haram Asy-Syarif, di tengah kompleks Masjid Al-Aqsa.
Jerusalem niscaya kota bersejarah bagi kekristenan, tetapi kota suci yang didambakan adalah Jerusalem surgawi. Situasinya berubah sejak Konstantinus Agung menjadi kaisar Kristen pertama. Gereja Makam Suci dan bangunan sejenis didirikan Helena, ibunya, untuk mengabadikan ingatan sakral tentang Yesus Kristus.
Dalam momen terbaiknya, Jerusalem adalah saksi perjumpaan umat bersaudara dan keterjalinan ingatan sakralnya. Namun, tempat sucinya menghadirkan dilema pula. Ketika satu tempat bertindih dengan yang lain, seperti kawasan Al-Haram Asy-Syarif dan lokasi reruntuhan Bait Suci, siapa pemiliknya yang sah? Kekuatan simbolik Jerusalem ternyata titik rawannya juga.
Antara trauma dan dilema
Sejarah Jerusalem adalah sejarah panjang penuh pertumpahan darah dan air mata. Berulang kali kota itu berganti tuan: Imperium Babilonia, Persia, Makedonia, dinasti-dinasti Ptolemi, Seleuki, Hasmoni Yahudi, Imperium Romawi, kekhalifahan Rasyidin hingga Fatimiyyah, kerajaan Kristen Jerusalem, Dinasti Sassaniyah, Mamluk, Imperium Ottoman, Inggris, Jordania; belum termasuk Israel dan Palestina.
Yang kini, trauma kota bersejarah itu bermula dari tragedi satu bangsa. Berabad-abad umat Yahudi hidup terancam dan kerap menjadi korban anti-semitik. Puncaknya adalah pembantaian enam juta orang Yahudi oleh rezim Hitler di Jerman. Eksodus Yahudi mulai terjadi akhir abad ke-19 sampai jumlahnya mencapai 28.000 dari 45.300 warga Jerusalem pada masa itu (SS Montefiore, Jerusalem, 2011).
Kekerasan anti-Yahudi justru menyuburkan visi Zionis. Para tokohnya, seperti Leon Pinkster dan Theodore Herzl, perintis Organisasi Zionis Sedunia, mengimpikan satu negara Yahudi merdeka beribukotakan Jerusalem. Dilemanya, bagaimana mungkin "bangsa tak bertanah" memperoleh "tanah tak berbangsa"?
Sementara itu, migrasi Yahudi ke Palestina kian deras hingga mencapai 300.000 jiwa pada 1940-an. Perkembangan ini mengancam eksistensi warga Arab dan memicu konflik-konflik berdarah.
Inggris menjanjikan negara merdeka bagi orang-orang Arab yang mendukung Inggris menyingkirkan Ottoman. Namun, pemegang mandat Liga Bangsa-Bangsa itu terbukti bermuka dua.
Deklarasi Barfour (1947) merupakan hasil lobi Zionis yang berhasil meraih dukungan Inggris bagi berdirinya national homeuntuk orang Yahudi dengan catatan bahwa hak-hak sipil dan religius masyarakat non-Yahudi di Palestina tidak diingkari. Hingga kini "syarat" tersebut belum dipenuhi.
"Mengapa orang-orang Palestina yang harus menanggung akibat janji Inggris kepada satu bangsa?" Demikian protes Robert Fisk, jurnalis Inggris yang meliput Timur Tengah selama empat dasawarsa.
Tragedi satu bangsa sedang diubah menjadi tragedi bangsa lain. Sekitar tiga juta orang Palestina terpaksa hidup dalam pengungsian, tidak bisa kembali ke tanah miliknya yang sudah berpindah tangan. Belum terhitung mereka yang tinggal di wilayah-wilayah yang diduduki Israel sejak tahun 1967 dan dipagari tembok "pengaman". Bagi jutaan pengungsi Palestina, Deklarasi Barfour dialami senyata kemarin.
Dalam refleksinya tentang Jerusalem (1997), Karen Amstrong, penulis buku A History of God, berkesimpulan bahwa penderitaan ternyata tidak selalu membentuk kita menjadi manusia yang lebih luhur. Justru bisa sebaliknya.
Jalan terjal menuju damai
Jarum jam tak dapat diputar balik. Namun, dapatkah sejarah dikoreksi?
Pertanyaan tersulit itu telah menghasilkan timbunan dokumen resolusi dan negosiasi. Trias Kuncahyono dalam bukunya,Jerusalem (2008), menghitung bahwa antara tahun 1967 dan tahun 1989 telah diterbitkan 131 resolusi oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 429 oleh Majelis Umum PBB. Sebagian besar tidak digubris Israel dan diveto oleh Amerika Serikat.
Mayoritas negara anggota PBB mendukung solusi "dwi-negara" yang mengakui hak hidup dua bangsa berdaulat dengan Jerusalem sebagai corpus separatum yang dikelola secara internasional (Resolusi PBB No 188 [II] 1947). Status Jerusalem dilihat sebagai solusi tahap final.
Ironisnya, istilah itu juga diartikan finalsecara sepihak. Jalan panjang menuju solusi damai semakin terjal setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.
Pengakuan itu sewajarnya ditolak. Seperti pernyataan sikap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, penyelesaian menyeluruh terhadap status Jerusalem harus dilakukan "dalam dialog konstruktif yang mempertimbangkan aspirasi dan kepentingan kedua belah pihak, yakni Israel dan Palestina".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar