Beberapa hari belakangan ini harian Kompas memberitakan ihwal penyakit campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua. Sebanyak 63 anak meninggal dunia, demikian menurut Kompas edisi 16 Januari lalu. Gizi buruk, terutama pada anak-anak, menciptakan banyak masalah kesehatan, seperti daya tahan tubuh melemah sehingga mudah tertular penyakit, pertumbuhan terhambat, dan kecerdasan kurang. Kita tentu tidak ingin melihat generasi mendatang lemah.
Jajaran Kementerian Kesehatan di daerah telah sigap mengirimkan tim untuk memberikan pengobatan, makanan tambahan, dan imunisasi campak, serta imunisasi dasar lainnya secara massal bagi anak-anak. Bantuan pangan dan obat-obatan dari pusat dan berbagai daerah pun sudah mengalir ke sana.
Mereka yang pernah belajar imunologi tentulah sangat paham bahwa imunisasi pada anak-anak yang kurang gizi tidak akan menimbulkan imunitas atau kekebalan yang optimal. Harus ada upaya perbaikan gizi dulu.
Oleh karena itu, saya memberikan saran agar diberikan makanan bergizi beberapa minggu sebelum imunisasi dilakukan. Mohon maaf, saya mencontohkan pengalaman saya sebagai praktisi hewan kecil: pada anak anjing atau kucing sebelum vaksinasi diberi obat cacing agar kekebalan yang ditimbulkan optimal.
Untuk jangka panjang, masyarakat perlu diberdayakan agar bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, terutama protein hewani, secara murah, mudah, dan relatif cepat.
Menilik medan daerah tertular penyakit berupa rawa dan sungai, ada baiknya masyarakat diajarkan memelihara itik—apabila belum ada di sana—termasuk cara menetaskannya sehingga populasinya meningkat.
Di Bali, ada cara penetasan telur itik secara tradisional menggunakan sekam. Itik lokal tidak memerlukan pemeliharaan khusus, tetapi bisa menghasilkan telur dan daging sebagai sumber protein. Itik juga lebih tahan penyakit dibanding dengan ayam kampung, selain budi daya ikan untuk membantu perbaikan gizi penduduk.
Drh Soeharsono
Praktisi Hewan Kecil di Denpasar, Bali
Bahagia Setelah Diproses KPK
Entah kenapa, begitu saya melihat foto Setya Novanto di harian ini—edisi Selasa, 16 Januari 2018 halaman 3—saya menjadi bahagia.
Baru kali ini saya melihat foto wajah Setya Novanto yang tersenyum lepas bebas tanpa kepura-puraan dan tanpa beban pikiran politik. Senyum itu memancarkan kebahagiaan yang dapat menularkan kebahagiaan kepada saya.
Foto yang dipasang Kompas itu memperlihatkan kepada saya keadaan Setya Novanto yang sehat walafiat dan bahagia lahiriah batiniah, keadaan sangat ideal yang kadang saya lupakan sebagai manusia.
Pada hemat saya, mungkin ini jalan Tuhan bagi kehidupan Setya Novanto yang baru melalui proses hukum di KPK. Tuhan sudah membawa dia sampai pada keadaan sehat dan bahagia seperti sekarang ini.
Bersyukurlah kepada Tuhan, walau pasti terasa pahit, karena saya yakin keluarga Setya Novanto pasti sangat senang mengetahui keadaannya yang sehat dan bahagia seperti pada saat ini. Dia masih dibutuhkan untuk kembali sebagai kepala keluarga: pemimpin yang akan membimbing istri dan anak- anaknya. Membagi waktu bersama istri dan anak-anak tentulah menyenangkan hati siapa pun.
Harapan saya, semoga para elite negeri ini yang kelak diproses KPK selalu menunjukkan wajah mereka yang tersenyum bahagia karena kebahagiaan itu akan menular kepada seluruh rakyat yang memandang wajah mereka.
Djoko Madurianto Sunarto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar