
credit="Istimewa
Asian Games 2018 menjadi ajang pembuktian induk organisasi cabang olahraga apakah anggaran yang minim dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan.
Untuk menghadapi Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, pemerintah menganggarkan sedikitnya Rp 515 miliar atau 70 persen dari total Rp 735 miliar untuk pemusatan latihan nasional (pelatnas). Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengalokasikan sedikitnya Rp 600 miliar untuk pelaksanaan pelatnas dan Rp 135 miliar untuk lain-lain.
Angka itu jauh dari usulan proposal induk cabang olahraga dan Komite Paralimpiade Nasional yang akan tampil di Asian Games, yang lebih dari Rp 1,2 triliun. Karena dana yang dipersiapkan tidak mencukupi, Kemenpora mengoreksi proposal berdasarkan potensi perolehan medali dari setiap cabang olahraga.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2017, pemerintah/Kemenpora bertanggung jawab terhadap percepatan peningkatan prestasi olahraga nasional. Selain itu, perpres juga mengatur, induk organisasi cabang olahraga dan Komite Paralimpiade Nasional mendapat bantuan anggaran dari negara.
Namun, anggaran pembinaan dan prestasi atlet yang dikelola langsung oleh cabang olahraga bisa bermata dua. Di satu sisi, cabang lebih leluasa mengelola program pelatnas. Di sisi lain, cabang harus memiliki tata kelola anggaran yang akuntabel dan bisa dipertanggungjawabkan. Penyimpangan penggunaan anggaran bisa berujung pada masalah hukum.
Pengamat olahraga Fritz Simandjuntak menegaskan, buruknya prestasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari buruknya tata kelola anggaran untuk keolahragaan.
Pada 2008-2017, pemerintah menunjuk sebuah lembaga untuk membina atlet andalan dan mengelola anggaran olahraga tiap cabang olahraga. Terakhir, lembaga itu bernama Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) yang dibubarkan pada 2017.
Dan, selama hampir 10 tahun, pengurus induk cabang olahraga tidak pernah membuat perencanaan pembinaan olahraga. Akibatnya, sebagian besar pengurus dan pelatih tak mampu mengatur program pelatihan dan pengelolaan keuangan.
Ketika memimpin Satlak Prima, Achmad Soetjipto pernah mengungkapkan, biaya pembinaan atlet untuk satu medali emas di SEA Games bisa mencapai Rp 1 miliar. Namun, menurut Achmad, uang sebanyak itu tidak akan banyak berarti tanpa perubahan sikap atlet bersangkutan. "Kalau atletnya makan sembarangan, tidak disiplin menerapkan sport science, ya, agak susah memperbaiki prestasinya," ujarnya.
Dengan kata lain, anggaran hanyalah salah satu dari banyak faktor penunjang sukses prestasi di dunia olahraga. Selain bakat, seperti ditunjukkan pelari jarak jauh dari Afrika, semangat dan lingkungan tempat atlet berlatih juga jadi faktor penunjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar