Bidvertiser

Kamis, 05 Juli 2018

Trump, Kim, dan DK PBB//Tanggapan Bayu Buana (Surat Pembaca Kompas)


Trump, Kim, dan DK PBB

Upaya Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea disambut positif oleh banyak negara.

Dalam pertemuan puncak yang berlangsung di Singapura, 12 Juni 2018, Trump dan Kim bertemu setelah sebelumnya saling melempar ancaman.

Kedua negara seperti akan terlibat satu perang nuklir, menyusul saling ancam setelah Korea Utara melakukan serentetan uji coba rudal balistik yang bisa mengangkut hulu ledak nuklir dan mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat (Kompas, 13 Juni 2018).

Selama hampir tujuh dekade, Korea Utara dengan AS dan Korea Selatan dalam posisi bermusuhan. Korea Utara sejak Perang Korea menjadi negara miskin, jauh apabila dibandingkan dengan negara tetangga sekaligus saudaranya, Korea Selatan, yang kini maju dan makmur.

Maka, pertemuan Trump dan Kim di Singapura, negara kecil yang berbatasan dengan Indonesia dan Malaysia, menjadi penting terutama untuk kedamaian kawasan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dan korps diplomatiknya telah bekerja keras dan berhasil mengegolkan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Indonesia akan berperan penting menjaga ketertiban dan keamanan dunia, termasuk di Asia Timur, di mana ada Korea Utara, Korea Selatan, dan Jepang sebagai negara-negara sahabat Indonesia.

Kita adalah bangsa besar yang akan berkiprah dalam perdamaian dunia. Karena itu, sangat memprihatinkan melihat ada wakil gubernur, yang notabene bawahan presiden, mengkritik Presiden Joko Widodo sebagai kepala pemerintahan. Sungguh tidak ada tata kramanya.

Dalam acara peringatan Isra Miraj di Jakarta, 20 November 1965, Presiden Soekarno berpidato dengan judul "Suatu Bangsa yang Besar Tidak Akan Tenggelam kecuali Robek Pecah Dirinya Sendiri dari Dalam".

Maka, selain menghadapi rongrongan korupsi, narkoba, dan paham radikalisme, marilah kita menjaga persatuan agar ucapan Bung Karno tidak menjadi kenyataan. Kita tidak hanya menjaga perdamaian kawasan, tetapi juga persatuan bangsa dan keamanan di dalam negeri.

Arifin Pasaribu
Jalan PTHII Raya, Kelapa Gading Timur,
Jakarta Utara 14240


Tanggapan Bayu Buana

Dalam Surat Kepada Redaksi (Kompas, 11 Juni 2018), Sdri Grace Augustine Budiman dan Sdri Susy Dharmadi mengeluhkan atraksi hot air baloon di Cappadocia karena tidak bisa berfoto dengan latar balon udara warna-warni.

Yang bersangkutan memang mengikuti acara Tour Turkey Tulis Saver bersama PT Bayu Buana Tbk. Untuk itu, kami sampaikan jawaban berikut.

Kegiatan wahana balon di Cappadocia, menurut jenis dan sifatnya, adalah kegiatan opsional. Peserta tur dapat naik balon dengan biaya sendiri dan risiko ditanggung sendiri. Dengan kata lain, peserta tur sejak awal sudah mengetahui risikonya.

Dapat kami sampaikan bahwa terkait atraksi wahana balon di Cappadocia, bukanlah hal mudah untuk mengaturnya mengingat sedemikian banyak balon yang terbang beriringan dan dalam waktu bersamaan pula.

Dalam hal ini ada faktor-faktor lain yang berpengaruh, termasuk faktor cuaca berupa angin dan awan, berkaitan juga dengan teknik pengambilan foto yang tepat dan cepat.

Karena waktu keberangkatan tidak sama antara balon satu dan balon lain, sulit untuk
mendapatkan foto balon-balon yang sejajar. Kami tidak dapat mengontrol hal ini karena di luar kekuasaan kami. Atraksi balon di Cappadocia adalah tanggung jawab dari pengelola setempat.

Demikian kami sampaikan jawaban. Atas perhatian dan kerja samanya, kami mengucapkan terima kasih.

Ni Luh Setianingsih
CRM Department Manager
PT Bayu Buana Tbk

Kompas, 5 Juli 2018


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar