
Sawitri Supardi Sadarjoen
Apabila kita memiliki kecenderungan otomatis untuk mengiba-iba menuntut seseorang agar tidak menjaga jarak dalam relasinya terhadap diri kita, maka benar-benar terasa sangat sulit bagi kita untuk mengubah sikap ketergantungan emosional yang membuat kita bisa mengubah pola perilaku di atas. Walaupun kebiasaan memohon tersebut sebenarnya merupakan kebiasaan pada perempuan.
Kasus:
Y (laki-laki, 34 tahun) setelah selama 4 tahun dalam ikatan perkawinan dengan S (perempuan, 32 tahun) datang berkonsultasi karena istrinya tiba-tiba minta izin pindah ke apartemen temannya K (perempuan singel, 33 tahun). S mengatakan kepada Y bahwa ia ingin mendapatkan kesempatan menjaga jarak dengan Y selama beberapa waktu.
Dalam hal ini, Y mencurigai bahwa istrinya punya affair (hubungan gelap). Saat pertama kali saya sebagai konselor mengamati Y, saya melihat Y adalah seseorang yang selalu menyalahkan diri dan merasa dirinya bersalah. Y mengaku bahwa selama ini ia terlalu memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya dan agak mengabaikan perhatian terhadap S sehingga istrinya itu merasa kesepian dan frustrasi.
Setahun yang lalu, Y mendesak S agar pindah rumah ke rumah impian bagi dirinya, sementara Y tahu bahwa S tidak menyukai rumah barunya tersebut. Sejak kepindahan ke rumah baru itulah, hubungan emosional Y dengan S semakin hari semakin menurun kualitasnya. Sejak itu pula pertengkaran di antara mereka sering terjadi. Walaupun, menurut Y, S selalu mengakomodasi kekerasan sikap Y dalam relasi kesehariannya. Akibatnya, Y benar-benar terkejut, bahkan merasa syok, saat S mempertanyakan perkawinan mereka dan sesegera itu pula meminta izin pindah ke apartemen K.
Y benar-benar merasa terpukul, ia berulang kali menelepon S, menangis di telepon sambil mengiba-iba memohon agar S kembali ke rumah, dan berjanji bahwa Y akan mengubah perilakunya dan akan bersikap baik serta penuh perhatian kepada S. Reaksi S semakin hari semakin dingin dan semakin lebar jarak emosionalnya. Hal ini membuat Y justru semakin hari semakin menunjukkan besarnya harapan dia agar S kembali pada perkawinan mereka. S ternyata kemudian mengatakan kepada Y ketidakinginannya dihubungi Y, baik melalui telepon dan pesan singkat sampai tibanya waktu bagi S bersedia dihubungi Y.
Konseling
Saat Y datang kepada konselor, Y benar-benar menunjukkan kondisi emosi yang meninggi dan mengatakan kepada konselor bahwa ia akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan S kembali padanya. Sementara itu, Y setiap hari menitipkan pesan singkat yang berisi harapan dan permohonan agar S kembali, mengirim email yang panjang, meminta teman dekatnya menghubungi S atas nama dirinya agar S kembali, dan sebagainya.

Pada sesi awal konseling, Y benar-benar-benar menampilkan diri bagai seseorang sudah runtuh dunianya, sambil berkata: "Saya harus ketemu dengan S. Dia tidak boleh menutup komunikasi dengan diri saya seperti ini, Andai saja ia bersedia datang ke rumah saya satu hari saja, saya yakin saya akan dapat meyakinkan dirinya untuk tetap tinggal bersama saya."
Ketahuilah bila kita sampai pada titik kulminasi perasaan yang peka, sikap yang kita butuhkan adalah menenangkan gejolak emosi kita. Namun, seperti halnya seseorang yang kecanduan, sikap Y semakin hari semakin sedih dan meratapi kepergian S. Justru sikap inilah yang membuat S semakin merasa ingin lebih menjauh.
"Perhatikan dong saya, saya benar-benar merasa sedih dan kosong", demikianlah keluhan Y. Memang dapat dipahami apabila Y mengungkap rasa sakit hatinya ditinggal istri dan Y benar-benar membutuhkan pertolongan dukungan untuk mendapatkan perhatian, bantuan, selama masa krisis yang dihadapinya. Namun, apabila tujuan utamanya meraih keutuhan perkawinan sebagai hal yang sukses dan membahagiakan dirinya, Y membutuhkan perubahan perhatian bukan pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri.
Akhirnya, saya sarankan Y berbicara dengan salah seorang teman kantor yang ia sukai, dan yang pernah berhasil mengatasi kesedihannya setelah terjadi perceraian dalam perkawinannya. Saya juga menyarankan Y agar menghubungi keluarga terdekatnya yang dapat mendukungnya.
Saran-saran tersebut menjadi sesuatu yang baru bagi Y karena sebagai laki-laki pada umumnya, ia tidak pernah berbagi masalah pribadinya, baik dengan teman maupun keluarganya. Kemauan Y memulai berbagi masalah pribadi secara terbuka dengan orang lain adalah untuk memperoleh dukungan dari lingkungan sosialnya. Tentu cara tersebut merupakan aksi spektakuler bagi Y.
Setelah Y menghayati perasaan tenang oleh aksi baru tersebut, ia akan mampu berpikir secara lebih strategis tentang cara terbaik guna melakukan pendekatan dengan istrinya. Untuk itu Y akhirnya menyusun surat dengan cara lebih matang, baik dalam isi surat maupun pilihan kalimat yang digunakan. Surat di bawah ini ditujukan Y kepada S:
Yang terkasih S,
Saya minta maaf atas kebiasaan saya selalu menempatkan dirimu di belakang dan tidak menghargai kebutuhan ruang pribadi untukmu, yang membuat diriku pun akhirnya juga merasa terpojok.
Saat ini saya menjalani terapi psikologi yang sangat saya butuhkan dan ternyata krisis yang saya hadapi membuat saya merasa kuat dalam mengatasi masalah-masalah lain yang saya hadapi. Saya melihat kenyataan bahwa saya memang butuh bantuan untuk itu.
Saya tahu juga bahwa kita berdua memiliki begitu banyak masalah yang harus kita pikirkan dan saya setuju serta mendukung apa yang saat ini kau lakukan bagi dirimu. Saya ingin kamu tahu bahwa saya sedang menjalani sesuatu yang membuat saya merasa nyaman dan saya juga berusaha memusatkan perhatian kepada diri saya.
Ketahuilah bahwa saya sangat mencintai dan mengasihi dirimu dan saya berharap kita dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang baik kelak. Jadi, bila kamu merasa siap bicara tentang masalah kita, kapan pun, segeralah kontak saya.
Salam kasih,
Y
Isi surat Y tersebut merupakan refleksi sikap yang lebih matang, tetapi tetap penuh kasih daripada merengek, mengharap dengan gaya kekanakan untuk membuat S kembali dengan berbagai cara (seperti: SMS atau WA, mengiba-iba, meminta teman untuk berperan atas namanya).
Tampak pula gaya bahasa yang elegan. Yang terpenting di sini adalah bahwa Y menjadi mampu mengendalikan reaksi emosinya. Secara berlanjut, Y dapat mengarahkan dirinya dalam proses pencarian solusi masalah yang ia hadapi dengan cara yang lebih penuh pertimbangan rasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar